MEDIALITERASI.ID | KATHMANDU — Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Nepal pada Rabu (26/08/2026) menewaskan sedikitnya 389 orang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nepal menyatakan 910 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan belum dapat dihubungi.
Ini merupakan bencana paling dahsyat di Nepal sejak gempa 2015 yang menewaskan sekitar 9.000 orang.
Mayoritas Korban Hilang Warga Asing
Dari 910 orang yang hilang, mayoritas adalah warga negara asing sebanyak 517 orang. Selain itu terdapat 44 personel militer dan 28 anggota kepolisian yang belum ditemukan.
Jumlah korban hilang juga dilaporkan terjadi di Distrik Gyirong, Tibet, perbatasan China-Nepal. Televisi pemerintah China CCTV menyebut sedikitnya 558 orang hilang di wilayah itu, termasuk 260 warga negara asing. Tiga orang dilaporkan tewas.
“Seluruh bangsa terkejut dan sangat berduka,” kata Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah.
‘Tidak Ada Kesempatan Sama Sekali untuk Menyelamatkan Diri’
Kisah pilu datang dari para penyintas. Kalpana Malla, warga Distrik Nuwakot, kehilangan ayah, ibu, saudara perempuan, dan anak-anak saudaranya yang tersapu banjir di depan matanya.
“Mereka tidak bisa melarikan diri dari banjir, tidak ada kesempatan sama sekali,” kata Kalpana. “Banjir ini merenggut segalanya. Saya dan putra saya memanjat atap rumah dan selamat, tapi saya tidak bisa menjelaskan bagaimana kami bisa selamat.”
Putranya, Sugam Malla, menuturkan ia menyelamatkan ibunya dengan menarik tangannya. “Saya khawatir saudara perempuan saya pasti tersapu banjir,” ujarnya.
Keshav Prasad Baral, 68 tahun, juga kehilangan istrinya. “Saya berusaha meraih tangan istri saya. Namun istrinya tetap tersapu banjir dan longsor. Empat atau lima jam kemudian, sebuah helikopter datang untuk menyelamatkan saya. Istri saya masih berada di suatu tempat di bawah lumpur. Dia telah tiada,” katanya.
Di RS Kathmandu, banyak keluarga masih menunggu kabar kerabat. Ram Kumari Shrestha mencari suaminya yang berprofesi sebagai pengemudi dan terakhir menghubungi sehari sebelum bencana.
Kerusakan Parah di Jalur Perdagangan Nepal-China
Visual dari udara menunjukkan kerusakan luas pada rumah, jalan, dan jembatan di Sungai Bhotekoshi, wilayah Rasuwa. Distrik Rasuwa dan Nuwakot merupakan wilayah paling parah terdampak.
Infrastruktur vital seperti pembangkit listrik tenaga air, jalan raya, dan jembatan hancur. Kawasan ini merupakan jalur vital perdagangan Nepal-China dan dilalui ribuan turis menuju Kailash Mansarovar di Tibet.
Badan pariwisata Nepal mencatat di antara yang hilang terdapat 100 warga India, 54 warga AS, 33 warga Inggris, 53 warga Ukraina, dan 24 warga Kanada. Kedutaan Besar Indonesia di Dhaka dan Beijing menyatakan belum ada laporan WNI terdampak. Ada 45 WNI yang berdomisili di Kathmandu bekerja di sektor perhotelan.
Diduga Pemicunya Gletser Runtuh
Direktur Pusat Studi Bencana Universitas Tribhuvan, Basanta Raj Adhikari, memperingatkan adanya risiko “gelombang kedua dan ketiga” bencana dalam 1-2 hari ke depan.
Badan Survei Geologi AS (USGS) menyebut tidak ada gempa. Analisis gelombang seismik menunjukkan energi berasal dari tanah longsor. Pejabat meteorologi Nepal menduga bongkahan es besar dari sisi Tibet runtuh, membawa bebatuan dan sedimen yang kemudian membendung Sungai Lhende hingga akhirnya jebol.
“Perubahan iklim benar-benar sedang terjadi di sini,” ujar Adhikari.
Bantuan Datang dari Luar Negeri
WHO telah mengirim tim penyelamat dan pasokan medis darurat. India juga mengirim 10 ton bantuan ke Nepal.
“Kami turut berduka cita kepada keluarga yang berduka dan semua yang terkena dampak. Dalam menghadapi tantangan ini, India berdiri bersama Nepal dan rakyatnya,” tulis Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar di X.
Hingga saat ini operasi pencarian dan evakuasi masih terus dilakukan di tengah medan yang sulit dan cuaca yang tidak menentu. (*)







