Medialiterasi.id | Jakarta – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur terus bertambah. Hingga Rabu (26/8/2026), Kementerian Kesehatan mencatat 105 orang meninggal, 1.632 orang luka-luka, dan lebih dari 185 ribu warga mengungsi.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI, Agus Jamaludin, menyampaikan data terbaru dalam konferensi pers di Jakarta. Gempa tersebut berdampak pada 1.917.732 penduduk di sejumlah kabupaten di NTT.
“Tadi pagi update korban meninggal 105 orang, luka ringan/rawat jalan kurang lebih 1.247 orang, luka berat/rawat inap mencapai 385 orang, pengungsi juga 185 ribu lebih,” ujar Agus.
Sebaran korban meninggal
Korban jiwa tersebar di 7 kabupaten. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan korban terbanyak, disusul Manggarai Timur dan Nagekeo.
Rinciannya:
– Kabupaten Manggarai: 41 orang
– Kabupaten Manggarai Timur: 36 orang
– Kabupaten Nagekeo: 13 orang
– Kabupaten Sikka: 6 orang
– Kabupaten Ngada: 5 orang
– Kabupaten Manggarai Barat: 1 orang
– Kabupaten Ende: data masih dihimpun
Kondisi pasien di rumah sakit
Kemenkes juga memantau kondisi pasien yang dirawat. Berdasarkan data per 25 Agustus 2026, terdapat 78 pasien yang masuk kategori kegawatdaruratan.
– Kategori merah atau gawat darurat kritis namun dapat ditangani: 11 orang
– Kategori kuning atau darurat stabil: 55 orang
– Kategori hijau atau tidak darurat: 11 orang
– Kategori hitam atau meninggal dunia: 1 orang
“Kami masih terus memperbaiki layanan kesehatan setempat agar penanganan korban bisa optimal,” kata Agus.
ISPA jadi penyakit terbanyak
Selain korban luka, Kemenkes mencatat lonjakan kasus penyakit di lokasi pengungsian periode 15-25 Agustus 2026. Penyakit yang paling banyak ditemukan adalah ISPA dengan 9.668 kasus.
Penyakit lain yang tercatat:
– Hipertensi: 4.686 kasus
– Myalgia: 1.017 kasus
– Trauma: 662 kasus
– Diare/GEA: 627 kasus
– Gastritis: 571 kasus
– Dispepsia: 487 kasus
– Gigitan hewan penular rabies: 35 kasus
Ketujuh penyakit tersebut tersebar di tujuh kabupaten terdampak gempa.
Hingga kini proses pendataan korban dan distribusi bantuan kesehatan masih berlangsung. Kemenkes mengerahkan tim medis dan logistik untuk memperkuat fasilitas kesehatan di wilayah terdampak.(*)







