Oleh: Dr. Bukhari, M.H., CM (Penulis adalah Akademisi UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Konsultan Hukum, Mediator PMN.
Kalau bicara soal hidup di Aceh hari ini, banyak orang mungkin sepakat: yang susah bukan cuma cari jodoh, tapi juga cari kerja. Ribuan lulusan tiap tahun dilepas dari kampus, tapi lapangan kerja tidak ikut tumbuh. Di sisi lain, angka kemiskinan masih tinggi, bahkan Aceh sempat jadi provinsi termiskin di Sumatera. Lalu, di mana negara? Di mana agamawan? Di mana harapan?
Nah, di tengah keresahan ini, Kementerian Agama RI meluncurkan program Asta Protas Kemenag Berdampak delapan program prioritas yang digagas untuk periode 2025–2029. Tapi pertanyaannya: apa betul berdampak? Dan kalau iya, mampukah program ini menyentuh langsung problem rakyat Aceh yang makin hari makin pelik?
Fakta di lapangan menunjukkan, ceramah dan pengajian memang banyak, tapi apakah semua itu menyentuh kebutuhan hidup umat? Banyak warga yang masih bingung soal warisan, soal pernikahan sah, soal konflik keluarga, bahkan soal zakat yang benar.
Sudah saatnya Kemenag hadir bukan sebagai kantor formal, tapi sebagai teman umat. Kalau ada keluarga miskin yang butuh bimbingan hidup Islami, bantu. Kalau ada anak muda nganggur tapi punya semangat, fasilitasi pelatihan kerja di pesantren. Kalau ada da’i dan penyuluh, beri mereka bekal keterampilan ekonomi supaya bisa jadi agen perubahan, bukan hanya penyampai dalil.
Umat Butuh Program, Bukan Janji.
Kemenag dengan Asta Protasnya harus fokus pada dampak nyata. Bukan proyek seremoni. Contohnya, pesantren bisa dijadikan pusat pelatihan keterampilan dari membuat produk halal sampai mengelola koperasi syariah. Kalau satu pesantren saja bisa menciptakan lima lapangan kerja, bayangkan berapa banyak peluang hidup yang bisa dibuka?
Di desa-desa terpencil, jangan lagi masyarakat disuruh ke kota untuk mengurus dokumen nikah atau konsultasi agama. Hadirkan Layanan Keagamaan Keliling. Hadirkan penyuluh yang paham teknologi. Gunakan media sosial dan aplikasi untuk dakwah yang menyentuh dan tidak menggurui.
Kita sering keliru memahami agama seolah hanya untuk urusan akhirat.
Asta Protas harus menempatkan agama sebagai solusi atas kemiskinan dan pengangguran. Di sinilah pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam program ekonomi, pendidikan, dan layanan publik. Jangan biarkan rakyat bingung sendiri, sementara pejabat sibuk rapat di hotel.
Kalau Asta Protas Kemenag Berdampak benar-benar dilaksanakan dengan hati, maka ini bisa menjadi harapan baru bagi rakyat Aceh. Bukan hanya untuk umat Islam, tapi untuk seluruh warga yang butuh kehadiran negara dalam urusan keagamaan, moral, dan sosial.
Aceh butuh Kemenag yang tidak hanya hadir di undangan-acara, tapi hadir di tengah kesulitan umat. Aceh butuh dakwah yang bukan hanya kata-kata, tapi kerja nyata. Dan Aceh butuh program agama yang bukan hanya menyentuh langit, tapi juga membumi menyentuh dapur, menyentuh gampong, dan menyentuh masa depan anak-anak muda.







