MEDIALITERASI.ID | ACEH UTARA — Provinsi Aceh mencatat langkah penting dalam sektor perdagangan dan energi terbarukan dengan pengiriman 10.000 metrik ton cangkang sawit ke Jepang. Ekspor tersebut dilakukan melalui Pelabuhan Umum Krueng Geukueh, Kabupaten Aceh Utara, dan menjadi salah satu bentuk pemanfaatan limbah sawit yang bernilai ekonomi tinggi.
Cangkang sawit, limbah padat dari proses pengolahan kelapa sawit, digunakan sebagai bahan bakar biomassa yang ramah lingkungan dan saat ini menjadi salah satu sumber energi alternatif yang banyak dibutuhkan di pasar internasional, termasuk Jepang.
Ekspor ini dilaksanakan oleh perusahaan nasional PT Kharisma Inti Mitra Indonesia bekerja sama dengan Pelindo SPMT Branch Lhokseumawe sebagai operator pelabuhan. Proses pemuatan berlangsung pada akhir Juli dan berjalan lancar tanpa kendala berarti.
“Kami memastikan setiap tahapan pelayanan dilakukan sesuai standar operasional dan ketepatan waktu, mulai dari pemuatan, pemeriksaan dokumen, hingga pengiriman akhir,” kata Taufik Rahmat Nasution, Deputy Branch Manager Operasi & Teknik Pelindo Lhokseumawe, saat dikonfirmasi, Selasa (30/7).
Menurut Taufik, ekspor ini merupakan bagian dari upaya Pelindo Lhokseumawe mendukung pertumbuhan logistik dan ekspor komoditas lokal di wilayah barat Indonesia. Ia juga menyampaikan harapan agar pelabuhan Krueng Geukueh dapat terus berkembang sebagai simpul logistik energi terbarukan.
Pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Aceh yang dihubungi secara terpisah menyambut positif ekspor tersebut. Menurut Kepala Disperindag Aceh, ekspor langsung ke Jepang tanpa transit membuktikan adanya peningkatan dalam sistem logistik dan efisiensi perdagangan luar negeri dari wilayah Aceh.
“Ini adalah langkah maju, namun perlu dikawal dari sisi keberlanjutan pasokan dan standar mutu agar mampu bersaing secara jangka panjang di pasar global,” ujar pejabat yang enggan disebut namanya karena belum memperoleh mandat resmi untuk memberikan pernyataan publik.
Sementara itu, pengamat energi terbarukan dari Universitas Malikussaleh, Dr. Syahrul Azmi, menyebut bahwa ekspor ini berpotensi memberi nilai tambah ekonomi lokal, namun perlu diimbangi dengan regulasi pemanfaatan limbah sawit yang berkelanjutan agar tidak merugikan lingkungan sekitar.
“Jangan sampai kita hanya mengejar ekspor, tapi lupa dengan aspek lingkungan dan keberlanjutan di sektor hulu,” ujarnya.
Pelabuhan Krueng Geukueh sendiri saat ini memiliki fasilitas dermaga curah dan alat bongkar muat modern yang menunjang kegiatan ekspor-impor. Dengan infrastruktur ini, pelabuhan tersebut dinilai siap mendukung pertumbuhan ekspor dari kawasan barat Indonesia, terutama untuk komoditas energi alternatif.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kementerian Perdagangan dan Kementerian ESDM belum memberikan tanggapan resmi terkait ekspor cangkang sawit tersebut dan dampaknya terhadap kebijakan energi nasional. (Muntazar)







