Home / OPINI

Minggu, 5 Februari 2023 - 14:56 WIB

TERIMA KASIH PAK POLISI; TUGASMU BERAT DAN SANGAT MULIA

Oleh :
Assoc. Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si
Akademisi – Universitas Syiah Kuala – Banda Aceh

Izinkan saya malam awal pekan ini untuk menulis sebuah pengalaman menarik dan menurut saya pribadi sangat sederhana, namun penuh makna bagi insan yang mau merenung dan berpikir. Insya Allah, Bermanfaat.

Beberapa bulan Ini Memang di berbagai penjuru negeri ini lagi dilaksanakan Operasi Zebra dan juga Para Aparat Polisi RI tengah disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk mengamankan Pemilu 2024 nanti. Sebuah ‘Pesta Rakyat’ Untuk Menghadirkan Sosok Pemimpin Yang Berpikir, dan Berbuat Untuk Rakyat yang dicintainya.

Saya pikir, keadaan ini merupakan suatu hal yang sangat baik. Di samping untuk mendidik masyarakat agar selalu disiplin dalam berlalu lintas dan santun serta bisa menghargai orang lain di jalan, juga dapat mengurangi angka kejahatan dan pencurian kenderaaan. Begitu juga dengan kegiatan untuk pengamanan “pesta demokrasi” agar semua hajat besar masyarakat itu dapat berjalan sesuai dengan koridor hukum yang benar.

Sementara itu, di perempatan jalan protokol di salah satu ibu kota provinsi ini karena ada pengalihan arah disebabkan daerah ini beberapa ruas lagi longsor, akibatnya saya terjebak kemacetan lalu lintas hampir satu jam, sehingga terlambat menghadiri sebuah acara yang menurut jadwal dimulai pukul 14.00 WIB. Karena kemacetan itu, saya baru bisa mencapai tempat rapat pukul 15.10 Wib, terlambat hampir 1,50 jam. Untungnya ketika saya datang acara belum selesai, dan panitia pun bisa memaklumi keterlambatan kehadiran saya.

Ketika saya menuju meja panitia, beberapa staf yang menunggu tamu langsung berucap “kena macet ya Pak TM?” dan saya pun mengangguk nya. “Itu pemandangan kita sehari-hari Pak di daerah kita. Jadi Pak TM, tenang saja.

Tadi juga banyak yang terlambat datang kok”, sahut staf yang lain. Hati saya menjadi agak sedikit tenang dengan sambutan panitia penerima tamu yang mengerti persoalan saya hari itu. Padahal, sebelumnya saya sempat panik, karena saya tidak terbiasa terlambat di setiap pertemuan resmi/seminar yang mengundang saya.

Saya selalu berusaha datang tepat waktu, termasuk waktu dan jadwal mengajar, sekaligus untuk belajar mendisiplinkan diri dalam hal waktu. Meskipun banyak orang yang beranggapan bahwa kalau kita disiplin seringkali kita menjadi “korban’ setidaknya korban perasaan.

Ah … itu tak terlalu penting bagi saya untuk meresponnya. Sehingga saya berharap sikap saya dalam berdisiplin seperti ini bisa menjadi contoh bagi mahasiswa saya sendiri atau orang-orang lain yang sepaham dengan saya. Saya tak peduli mahasiswa itu membenci saya. Semua itu saya serahkan kepada Allah Swt. Data dan fakta menunjukkan siapapun yang membenci dan menghina saya, hidupnya dalam kesulitan dan kegagalan. Allahu Akbar.

Di tengah panasnya matahari hari itu, bertugas dua orang anggota Polisi, satu orang laki-laki ganteng dan satu orang lagi Polwan Cantik yang tampak sangat sibuk mengatur lalu lintas. Dengan keringat yang membasahi hampir sekujur tubuhnya, dua polisi itu menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Mereka berdua harus mengatur lalu lintas dari berbagai arah. Itu sangat tidak mudah. Pikir saya dalam hati. Tak terlihat di wajah mereka perasaan marah atau jengkel terhadap pengendara kendaraan yang sangat sulit untuk diatur.

Maklum dech, bangsa kita ini kadang-kadang mereka secara ekonomi telah mapan dan kaya, tetapi soal moral, masih sangat miskin… hhhmmm … tunggu dulu. Mobil atau kendaraan bisa dibeli atau kredit, namun moralnya yang tak bisa dibeli atau dikreditkan. Bisik hati saya. Sesekali dua petugas Polisi itu bisa terserempet kendaraan yang melaju kencang.

Itu risiko yang bisa menimpa petugas polisi pengatur lalu lintas kapan saja. Tetapi, mereka tetap tenang dan tampak menikmati profesinya sebagai polisi lalu lintas yang sangat santun dan tersenyum penuh ramah. Itulah yang terpatri dalam pikiran saya saat itu.

Baca Juga  Jokowi Gak Mikir Bahaya China Atau Agen China ? 

Ketika sudah keluar dari kemacetan, orang atau petugas yang menjemput dan membawa saya tiba-tiba berkata, “Andai saja tidak ada dua petugas polisi yang mengatur lalu lintas di tempat tadi, kita jadi apa ya Pak?”. Wah, pasti kacau, karena tidak ada satu pun pengendara sepeda motor dan pengemudi mobil yang mau mengalah dengan memberikan kesempatan kepada yang lain.

“Semua maunya ingin lebih dulu melaju”, jawab saya dengan sangat hati-hati. “Di kota atau daerah ini memang terkenal pengendara sepeda motor dan mobil seenaknya. Orangnya tak pernah sabaran. Makanya lalu lintasnya paling semrawut”, lanjut sang supir tadi. Saya pun tertawa dalam hati, sebab saya perhatikan dia sendiri juga tidak bisa sabaran. Beberapa kali, dia hampir menyerempet pengendara yang lain.

Di kesempatan lain, saya juga pernah menyaksikan seorang polisi tanpa pakaian dinas melerai perkelahian dua keluarga di sebuah kampung tidak jauh dari tempat tinggal saya. Gara-garanya sangat sepele. Anak-anak mereka bermain sambil saling lempar bola, dan ada yang mengenai kepala salah seorang anak dan terjatuh. Orang Tua si anak tidak terima, sehingga memarahi anak yang melempar bola. Orang Tua anak yang dimarahi itu tidak terima, sehingga terjadi pertengkaran mulut antara kedua orang tua.

Tentu masing-masing membela anaknya. Saat adu mulut mulai memanas tiba-tiba ada seorang polisi berpakaian biasa lewat dengan mengendarai sepeda motor dan langsung turun tangan melerainya. Dengan bijak, sang polisi muda itu berhasil mendinginkan suasana, sehingga persoalan segera selesai. Andai saja tidak ada polisi yang melerai pertengkaran itu, saya yakin persoalan bisa melebar dan sungguh tidak lagi mengindahkan moral dan etika.

Minggu lalu saya juga memperoleh pengalaman menarik. Ketika saya sedang shalat di sebuah masjid dalam perjalanan pulang dari bepergian di luar kota, tiba-tiba ada seorang polisi masih berpakaian dinas ikut shalat bersama saya dan saya pun mempersilakan Polisi itu sebagai imam dan saya sebagai makmumnya. Usai shalat, dia segera kembali ke tempat tugasnya mengatur lalu lintas yang memang tidak jauh dari masjid tersebut.

Ketika suara adzan berkumandang, dia meninggalkan tempat tugasnya dan bergantian dengan temannya untuk mengatur lalu lintas. Saya sangat salut terhadap polisi yang baru saja menjadi makmum shalat saya itu. Saya berpikir andai saja semua polisi bisa shaleh seperti itu, gerakan reformasi di tubuh Polri yang sedang berlangsung bisa sangat efektif dan berjalan dengan indah. Hati saya berbisik. Terimakasih Pak Polisi, Karena Dirimu Telah Menjadi Imam Shalatku Hari ini. Semoga Kita Selalu Berada di Jalan Yang Benar, Jalan Yang diridhai-Nya. Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahal Adhiem.

Dua peristiwa tersebut di atas telah membuktikan kepada kita betapa besar perannya polisi bagi masyarakat. Peristiwa pertama mengakibatkan berapa banyak orang yang tidak bisa menjalankan aktivitasnya sesuai waktu jika tidak ada dua polisi yang mengatur lalu lintas, dan peristiwa kedua bisa berakibat lebih fatal, karena adu mulut antar dua keluarga bisa membesar, karena saat itu ada gelagat masing-masing sudah mulai mengundang keluarga dekat mereka.

Saya sendiri heran di sekitar itu memang sering terjadi perkelahian antar-warga atau anak-anak. Penyebabnya pun hal-hal sangat sederhana. Maklum warganya rata-rata berpendidikan relatif rendah. Hhmmm … mungkin menarik juga fenomena ini jika ingin dijadikan judul proposal skripsi untuk mahasiswa.

Sedangkan Peristiwa ketiga, membuktikan di tengah-tengah kesibukan menjalankan tugas mengatur lalu lintas, masih ada polisi yang rajin beribadah shalat tepat waktu lagi. Ada polisi shaleh di tengah menjalankan tugas. Ini bisa menjadi contoh sangat baik bagi masyarakat. Sebab, masih banyak orang yang punya waktu longgar, alias tidak begitu sibuk, tetapi tidak pernah memperdulikan panggilan adzan untuk menunaikan ibadah shalat.

Baca Juga  MUDRICK SANGIDU DAN PEOPLE POWER

Polisi sejatinya merupakan sebuah profesi mulia. Betapa tidak? Sebab, tugasnya adalah menjaga ketertiban masyarakat, menyelenggarakan keamanan dan ketertiban, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat, sehingga masyarakat bisa hidup tenang, tentram, tertib dan damai. Masyarakat mana yang tidak ingin hidup tenang, tentram, damai, sejahtera dan sebagainya. Polisi selalu hadir untuk tugas-tugas seperti itu. Sekali lagi, betapa mulianya tugasmu wahai polisi.

Terima kasih. Pak Polisi. Kita bisa membayangkan andai saja tidak ada polisi siapa yang menangani terorisme, narkoba, mengatur lalu lintas, kejahatan jalanan, pencurian, demontrasi yang bringas dan sebagainya. Semua itu merupakan kejahatan yang meresahkan masyarakat. Kita sering melupakan jasa polisi yang selama ini telah berperan besar menangani kejahatan-kejahatan sosial seperti itu. Memang ada juga polisi yang ‘nakal’. Tapi menganggap semua polisi itu sama, juga kita keliru.

Memang kita tidak bisa menutup mata bahwa masih saja ada berbagai kekurangan di tubuh Polri. Ada polisi yang menyalahgunakan wewenangnya, yang melakukan tindak kriminal, melakukan kekerasan, dan seterusnya. Tetapi perlu diingat di institusi mana pun hal-hal seperti itu juga terjadi. Bahkan di dunia pendidikan sekalipun praktik kejahatan oleh pendidik (baca: oknum) dengan berbagai bentuknya bisa saja terjadi. Karena itu, membuat generalisasi bahwa lembaga kepolisian jelek dan harus dihujat tentu sangat tidak rasional dan sangatlah tidak adil.

Masyarakat juga harus objektif melihat institusi Polri. Dari hari ke hari kita bisa merasakan perbaikan dan sejatinya Polri telah mereformasi diri sesuai dengan tuntutan zaman. Berbagai upaya perbaikan di tubuh Polri dari sisi kelembagaan dan anggotanya terus dilakukan oleh pimpinan Polri.

Tetapi masyarakat sering bertindak tidak rasional. Ketika ada anggota polisi bertindak tegas menangani kejahatan dibilang keras dan dianggap melanggar HAM. Sebaliknya, ketika bertindak persuasif dibilang polisi tidak tegas. Karena itu, polisi serba salah. Entah maunya apa masyarakat kita ini? Wallahu ‘Aklam.

Seiring dengan perkembangan masyarakat akibat kemajuan sains dan teknologi, tidak bisa dipungkiri kompleksitas kejahatan juga meningkat dengan berbagai bentuk dan modusnya. Di sini diperlukan anggota Polri yang handal. Diperlukan kepekaan yang tajam untuk membaca gejala kejahatan oleh setiap anggota Polri.

Untuk itu, upaya reformasi Polri perlu terus dilakukan bersamaan dengan peningkatan kualitas akademik melalui pendidikan lanjut setiap anggota Polri. Itu bisa ditempuh dengan bekerja sama dengan berbagai lembaga-lembaga pendidikan tinggi. Agar para polisi dapat melanjutkan studinya lagi baik tingkat Sarjana, Magister maupun tingkat doktor.

Saya yakin anggota polisi yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, syukur jika bisa sampai doktor di bidang-bidang yang menjadi tugas dan tanggung jawab kepolisian, akan semakin meningkatkan kualitas profesionalitasnya dalam menjalankan tugas. Jenjang kepangkatan kepolisian perlu diikuti dengan jenjang akademiknya, sehingga kita akan menyaksikan polisi dengan pangkat AKBP yang magister atau Komjen polisi yang bergelar doktor. Dan, itu tidak sulit, jika mereka mau untuk menjalaninya. Memang sudah ada polisi dengan pangkat tinggi yang memiliki gelar akademik magister dan doktor, tetapi jumlahnya belum begitu banyak. Saya sangat yakin semakin tinggi pangkat, jabatan, dan tingkat pendidikan seseorang akan semakin meningkat pula pemahaman dan pelayanan terhadap tugas yang diembannya. Karena itu, hujat menghujat terhadap lembaga-lembaga negara, termasuk institusi Polri, harus segera dihentikan, karena hanya akan menghabiskan energi bangsa ini untuk dapat melanjutkan pembangunan.

Sebaliknya, jika memang mencintai Polisi yang kita lakukan ialah mendukung berbagai upaya reformasi di tubuh Polisi yang kita cintai untuk menjadi pelindung, pengayom, dan penegak hukum yang profesional bagi warga masyarakat. Saya kira polisi yang shaleh dan taat di tengah menjalankan tugas tadi itu juga sebagian buah dari reformasi yang telah, sedang dan akan dilakukan Polisi selama ini. Barakallahu Fiekum, Amin3x, Yaa Rabbal ‘Alamin.

(Salam Presisi, 06 Pebruari 2023@TM).

Share :

Baca Juga

BUDAYA

Media Sosial di Persimpangan Iman: Ketika Ruang Digital Menguji Etika dan Akhlak

BERANDA

Viral Karena Dilarang: “Pesta Babi” Buka Borok Kolonialisme, Etika Dokumenter, dan Kebebasan Berekspresi

OPINI

PANCASILA DALAM KRISIS MORAL: Ketika Pengkhianatnya Adalah Mereka yang Bersumpah Menjaganya

OPINI

Aceh Darurat Pendidikan: Ijazah Bertambah, Nalar Menghilang

OPINI

Putusan MK 128/PUU-XXIV/2026 dan Jalan Panjang Keadilan Politik Perempuan

OPINI

Kenapa Orang Pintar Banyak yang Boncos? Rahasia “OS Mental” di Balik Sukses Finansial

EDUKASI

Ketika Guru Membangun Peradaban di Tengah Kebisingan Publik

EDUKASI

SNBT Bukan Takdir : Jangan Jadikan Kampus Impian Sebagai Berhala Masa Depan