Home / OPINI

Minggu, 8 Januari 2023 - 04:28 WIB

Ketika Teori Permainan “Capres” Dalam Genggaman Parpol

Oleh Assof. Prof. Dr. T.M. Jamil, M. Si
Akademisi USK dan Pengamat Politik

Dalam perspektif Filsafat, Jangan melihat segala sesuatu hanya dari perspektifmu sendiri, tapi coba pahami perspektif pihak lain. “Posisi orang lain adalah sudut pandang yang benar dalam moralitas politikmu”. Ungkapan Filsuf dan matematikawan Gottfried Leibniz ini relevan untuk memahami politik sebagai satu permainan (Game Theory), terkait dengan mulai maraknya deklarasi calon presiden di Indonesia..

Teori permainan memakai matematika untuk menjelaskan interaksi antara berbagai “pemain” (agen). Mencoba merumuskan solusi, kesetimbangan (equilibrium), berupa rekomendasi bagi setiap pemain, bagaimana sebaiknya bertindak dan berstrategi, secara simetris dan imparsial. Karena politik yang hanya baik bagi satu pemain, dan buruk bagi yang lain, bukanlah hasil politik yang baik. Politik zero-sum game.

Politik bermain acak (random), tidak mudah diprediksi, adalah tipikal politik zero-sum game. Politik egoistis-pragmatis yang menggantungkan pada peluang dan kesempatan, bukan pada kekuatan prinsip etika politik, informasi, atau kejelasan platform ideologi. Alias politik coba-coba, otak-atik, untung-untungan, atau tebak-tebakan. Selain permainan zero-sum, politik juga soal adu siasat untuk kooperatif atau non-kooperatif, simetrik atau asimetrik, simultan atau sekuensial.

Dalam politik penting untuk menetapkan “aturan main”, yang bukan sekadar UU atau peraturan, namun juga kesepakatan, konvensi, strategi, taktik, dan sejenisnya. Agar politik sebagai permainan kompetisi untuk memenangkan kekuasaan berlangsung menarik dan menyenangkan.

Politik mengusung Capres mirip permainan poker, setiap pemain (parpol dan capres) cenderung memainkan kartu, menggertak untuk meningkatkan posisi tawar. Berupaya mengesankan kartu yang dimiliki adalah yang terbaik. Analogi lain, seperti permainan adu tendangan penalti dalam sepak bola. Penjaga gawang perlu pintar menebak, mengantisipasi, ke mana tendangan algojo penalti diarahkan, untuk memastikan gawangnya tidak kebobolan. Algojo penalti perlu cerdik memberi isyarat palsu ke penjaga gawang lawan, seolah ia akan menendang ke sudut kiri, walau sejatinya ia akan menendang bola ke sudut kanan.

Baca Juga  ADA KM 50, PAK PRABOWO

Setidaknya, ada lima jenis permainan dalam Teori Permainan (Game Theory) yang bisa dipakai untuk menjelaskan situasi dinamika politik pencapresan di Indonesia saat ini, secara jenaka. Untuk mengendorkan ketegangan, kecemasan, dan menegasi kesan keseriusan hiruk-pikuk “copras-capres” menjelang Pilpres 2024. Berikut uraiannya:

Dilema Narapidana (The Prisoners’s Dilema): Ini situasi yang sedang dihadapi PDIP dalam memutuskan secara definitif, apakah akan mengusung Puan Maharani atau Ganjar Pranowo sebagai capres. Dua capres dari satu partai ini, sepertinya, tidak lagi bisa berkomunikasi (benarkah?). Megawati, selaku ketua Umum PDIP, mengalami dilema, apakah mencalonkan putrinya yang kurang populer untuk melanjutkan legasi “trah Soekarno”, atau Ganjar yang sangat populer, tapi tidak ada jaminan akan seratus persen loyal sebagai “petugas partai”. Pengalaman di era Jokowi.

Permainan Berburu Rusa (Stag Hunt Game): Sering dinamai juga Permainan Dilema Kepercayaan atau Kepentingan Bersama. Dua pemburu musti bekerjasama agar sukses dalam berburu. Ini sedang dimainkan oleh Surya Paloh Nasdem dan Anies Baswedan, Dua pemburu politik kekuasaan, dengan berharap dukungan teman dari Parpol lain.

Permainan Diktator (Dictator Game): Ini sedang dimainkan Partai Gerindra, Prabowo. Ia begitu percaya diri sebagai capo dei capi, the Godfather, dengan kekuasaan absolut di partainya. Jadi cukup memutuskan siapa cawapres, yang menurutnya akan submisif, sekaligus memperbesar peluangnya untuk menang, dan bisa menyepakati beaya dan bagi hasil kemenangan. Kesepakatan yang, biasanya, akan mudah diingkari atau diabaikan dalam permainan politik.

Permainan Lipan (Centipede Game): Ini yang sedang dimainkan oleh hampir semua capres dan parpol satu digit, karena ketentuan presidential treshold 20%. Parpol yang harus menyiapkan “banyak kaki’ untuk bermanuver. Memastikan agar tidak tertinggal dan terlewat dalam permainan “otak-atik gatuk” pasangan capres-cawapres sebagai strategi berkoalisi.

Baca Juga  Skandal Dirjen Anggaran Kemenkeu Isa Rachmatarwata, Skema Ponzi dan Spekulasi Saham yang Gagal

Dilema Relawan (Volunteer’s Dilemma): Barangkali cuma di Indonesia, menjadi “relawan politik” tapi penuh pamrih. Ikut berkampanye untuk memenangkan capres dengan harapan akan mendapat bagian kekuasaan, menjadi rekanan. Jika capres yang diusung menang maka akan ikut kenyang. Kalaupun kalah, setidaknya ikut senang-senang dalam “pesta demokrasi”. Tentu saja pernyataan ini masih bisa untuk diterima atau diperdebatkan. Tak ada yang salah jika ingin didiskusikan atau diperdebatkan. Kebenaran mutlak hanya milik Allah Azza Wajalla…

Menjadi relawan tidak pernah rugi, boleh mengabaikan dilema etik. Relawan politik beda maknanya dari relawan sosial. Etika relawan tidak berlaku dalam politik. Politik dalam sistem demokrasi yang sudah terkonsolidasi adalah permainan yang mudah diprediksi. Sebagaimana permainan sepakbola, kesebelasan yang diketahui memiliki jajaran pemain yang baik, pelatih yang cakap dan manajemen yang solid, lazimnya mudah memenangkan permainan.

Namun, beda dengan sepakbola, kemenangan kompetisi elektoral dalam politik tidak ditentukan oleh kualitas kompetensi internal parpol atau tim sukses capres. Tapi ditentukan oleh penonton, publik yang memilih siapa pantas menjadi juara.

Penting bagi para politisi dan parpol untuk memahami dan menguasai prinsip Teori Permainan Politik, jika ingin menang. Game Theory sebagai sains agak sulit dipahami penerapannya, karena terkait dengan rumus dan hitungan matematis. Namun untuk tujuan politik, kualitas politik, dan karakter politik Indonesia saat ini, bolehlah dipahami secara sederhana. Hiruk-pikuk copras-capres saat ini cukup dinikmati sebagai permainan hiburan, sebagai tontonan atau candaan. Kita tunggu saja, sejarah perjalanan anak bangsa, tentu akan mencatatnya dengan tinta emas untuk sebuah realitas, fakta dan kondisi yang Sesungguhnya. Semoga … (08/01/2023)

Share :

Baca Juga

OPINI

UUPA Bukan Belas Kasihan Jakarta: Aceh Jangan Terus Dipimpin oleh Keberanian Palsu

OPINI

Aceh Tidak Lagi Butuh Wacana : Saatnya Kebijakan dan Keberanian Politik untuk Kedaulatan Energi

EDUKASI

Generasi Emas atau Generasi Brutal? Ketika Pendidikan Melahirkan Kecerdasan tanpa Nurani dan Demokrasi Kehilangan Etika

OPINI

Bangkit atau Sekadar Bertahan? Indonesia di Tengah Krisis Moral Generasi

EDUKASI

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menyelamatkan Generasi di Tengah Krisis Digital

ACEH

Perdamaian Aceh Belum Tuntas Tanpa Ruang Ekonomi Baru

ACEH

Pergub Aceh No 2 Dicabut Usai Demo Mahasiswa, Penulis: “Kalau Demo Tak Ada, Kebijakan Ini Tak Akan Berubah”

OPINI

Sekolah Tidak Bisa Mendidik Anak Sendirian