Oleh: Teuku Muhammad Jamil (Pemerhati Sosial | Kolumnis Media Literasi)
MEDIALITERASI.ID | OPINI – Terdapat sebuah paradoks yang semakin menarik untuk direnungkan dalam kehidupan sosial kita hari ini: banyak orang merasa tahu, tetapi tidak cukup peka untuk merasakan.
Fenomena ini terlihat nyata di berbagai ruang. Ayat-ayat dari kitab suci kerap dikutip dalam orasi atau berargumen, namun perilaku jauh menyimpang. Ada kesan hipokrit pada qalbu sebagian mereka yang di bagian luarnya dibalut dengan jubah agama.
Banyak orang pandai berbicara tentang kebenaran, tetapi kesulitan untuk berlaku benar. Banyak orang fasih mengutip teori, tetapi gagap menerjemahkannya menjadi tindakan. Bahkan, tidak sedikit yang berbicara tentang wawasan global, tetapi perilakunya masih terperangkap dalam kepentingan sempit dan mentalitas lokal yang picik.
Fenomena di atas terjadi hampir merata di semua tempat di Indonesia: di dalam dan di luar kampus.
Persekongkolan di Menara Gading
Kita dapat menyaksikan dengan mata telanjang, di beberapa kampus kerap terjadi semacam “persekongkolan” dalam menguasai kekuasaan, fasilitas negara, hingga perilaku nepotis. Demikian juga alumni kampus ketika duduk dalam kekuasaan, hampir semua lupa diri: larut dalam memperkaya diri, feodal, dan nepotisme sambil mengabaikan rakyat.
Ini menjadi ironi besar. Kampus yang seharusnya menjadi mercusuar moral dan laboratorium keadaban, justru terjebak dalam praktik-praktik kekuasaan yang transaksional.
Pandai Tapi Tak Beradab
Kita hidup dalam masyarakat yang semakin kaya informasi, tetapi belum tentu semakin kaya kebijaksanaan. Pengetahuan berkembang, gelar akademik bertambah, forum ilmiah semakin ramai, dan istilah-istilah intelektual semakin canggih.
Namun, pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah semua kemajuan itu membuat manusia semakin beradab, atau justru sekadar membuatnya semakin pandai membungkus kepentingan dengan bahasa yang terhormat?
Di sinilah persoalannya bermula. Kita sedang menghadapi kemungkinan kesenjangan yang serius antara kecerdasan berpikir, kedewasaan moral, dan integritas bertindak.
Dalam kehidupan sosial, mengetahui dan merasakan merupakan dua kapasitas yang berbeda.
Mengetahui berkaitan dengan kemampuan memahami fakta, konsep, dan informasi. Sementara merasakan, dalam pengertian etis, berkaitan dengan kepekaan terhadap penderitaan, ketidakadilan, serta konsekuensi tindakan terhadap kehidupan orang lain.
Seseorang dapat mengetahui bahwa kemiskinan merupakan persoalan struktural, tetapi tetap tidak peduli terhadap keluarga miskin di sekitarnya. Ia bisa menjelaskan teori ketimpangan sosial, mengutip pemikiran para ilmuwan, bahkan menyampaikan pidato berapi-api tentang keadilan.
Namun, ketika berhadapan langsung dengan manusia yang membutuhkan pertolongan, pengetahuannya tidak selalu menjelma menjadi kepedulian.
Inilah Paradoks Pengetahuan Tanpa Kepekaan.
Dalam perspektif filsafat moral, kecerdasan tidak otomatis melahirkan kebajikan! Kemampuan memahami sesuatu berbeda dari kemauan untuk melakukan sesuatu yang benar. Pengetahuan tanpa kepekaan hanya akan melahirkan kaum pintar yang pandai merangkai kata, namun miskin empati dan tanggung jawab sosial.
Lalu, untuk apa semua kepintaran itu jika tidak membuat kita lebih manusiawi?
Disclaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, tidak mewakili pandangan redaksi Media Literasi.







