MEDIALITERASI.ID | JAYAPURA Seorang pegawai Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Wili Mbuik (25), tewas setelah menjadi korban penembakan di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Kamis (10/9/2026). Hingga kini, kepolisian belum mengidentifikasi pelaku dan masih menyebutnya sebagai orang tidak dikenal (OTK).
Wili yang bekerja sebagai pegawai Dinas Pertanian dilaporkan mengalami luka tembak serius di bagian pinggang kanan. Ia kemudian meninggal dunia akibat luka yang dideritanya.
Jenazah Wili diberangkatkan dari Bandara Wamena menuju Jayapura pada Kamis (10/9/2026). Selanjutnya, jenazah diterbangkan menuju Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk dimakamkan di kampung halaman dan diserahkan kepada pihak keluarga.
Kepergian Wili secara mendadak meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang menantinya di Kupang.
Penembakan Terjadi Saat Antar Bantuan
Komandan Kodim 1702/Jayawijaya Letkol Inf Ilham Datu Ramang mengatakan penembakan terjadi sekitar pukul 15.45 WIT.
Saat kejadian, Wili bersama rombongan pegawai Pemkab Jayawijaya sedang mengantarkan bantuan kepada masyarakat di Distrik Muliama menggunakan kendaraan roda empat.
“Insiden tersebut terjadi saat korban bersama rekan-rekannya sedang mengantarkan bantuan pangan dengan menggunakan kendaraan roda empat,” kata Ilham.
Menurut Ilham, rombongan tersebut berjumlah delapan orang. Mereka membawa bantuan berupa ternak babi untuk diserahkan kepada masyarakat.
Polisi Belum Tetapkan Pelaku
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026 Kombes Pol Yusuf Sutejo membenarkan adanya penembakan terhadap pegawai Pemkab Jayawijaya di Distrik Muliama.
Namun, kepolisian belum menetapkan identitas maupun kelompok yang diduga bertanggung jawab atas penembakan tersebut.
“Pelaku masih dalam penyelidikan dan sementara disebut orang tidak dikenal (OTK),” demikian informasi kepolisian.
Data mengenai jumlah korban meninggal dunia sebelumnya juga berbeda. Kodim 1702/Jayawijaya melaporkan tiga korban meninggal dunia, sedangkan kepolisian menyebut dua orang meninggal dunia dan satu korban lainnya dalam kondisi kritis.
Seluruh korban telah dievakuasi ke rumah sakit.
Keluarga Ungkap Ponsel Wili Sempat Dikuasai
Dalam suasana duka, keluarga Wili juga mengungkapkan bahwa ponsel milik korban diduga sempat dikuasai atau disita oleh kelompok bersenjata setelah penembakan.
Keluarga menyebut sempat terhubung melalui panggilan video dengan pihak yang memegang ponsel tersebut. Menurut keluarga, mereka merasa terpukul ketika melihat orang-orang yang memegang ponsel Wili tampak tertawa dan menunjukkan gestur yang dinilai tidak pantas di tengah kondisi keluarga yang sedang berduka.
Namun, informasi mengenai pihak yang menguasai ponsel korban tersebut masih berdasarkan keterangan keluarga dan belum terverifikasi secara independen.
West Papua Army Bantah Terlibat
Panglima Tertinggi West Papua Army, Demianus Magai Yogi, membantah keterlibatan kelompoknya dalam penembakan terhadap pegawai Pemkab Jayawijaya tersebut.
Demianus meminta seluruh pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata tidak menjadikan masyarakat sipil sebagai sasaran.
“Jangan sekali-kali menembak warga sipil, termasuk pegawai negeri sipil (PNS), tenaga kesehatan, dan tenaga pendidik. Mereka harus dilindungi dan dihargai sesuai dengan hukum humaniter,” demikian pernyataan Demianus.
Ia juga meminta tuduhan terhadap kelompok maupun individu terkait penembakan didasarkan pada fakta dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam pernyataannya, Demianus menuding penembakan tersebut dilakukan oleh pihak yang disebutnya sebagai “binaan kolonial Indonesia”. Namun, tudingan tersebut merupakan klaim dari pihak West Papua Army dan belum didukung bukti independen yang dapat diverifikasi.
Demianus juga membantah adanya pihak yang mengatasnamakan Komando TPNPB untuk melakukan tindakan yang menurutnya dapat merusak perjuangan Papua Merdeka.
Desak Akses Mekanisme HAM PBB
Selain membantah keterlibatan kelompoknya, Demianus kembali mendesak pemerintah Indonesia membuka akses bagi mekanisme hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengunjungi wilayah Papua.
Ia mengaitkan tuntutan tersebut dengan sikap negara-negara Pasifik melalui Pacific Islands Forum (PIF) dan Melanesian Spearhead Group (MSG).
Menurut Demianus, seluruh pihak yang terlibat dalam konflik, baik aparat keamanan Indonesia maupun kelompok bersenjata, harus melindungi masyarakat sipil dan tidak menjadikan mereka sebagai sasaran.
Sementara itu, aparat keamanan masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku dan motif penembakan yang menewaskan Wili Mbuik dan korban lainnya di Distrik Muliama. (EQ)







