Tubuh bisa dipaksa berhenti. Langkah bisa ditahan. Ruang gerak bisa dipersempit.
Tapi ada satu hal yang tidak ikut lumpuh, yaitu kebenaran.
Medialiterasi, Opini | Belakangan kita sering melihat bagaimana narasi dibangun secara beramai-ramai. Ada yang bergerombol, menyusun cerita, saling menguatkan versi yang sama. Seolah jumlah orang yang berbicara bisa mengubah isi dari apa yang diucapkan.
Padahal keramaian tidak pernah mengubah kebohongan menjadi kebenaran. Ia hanya membuat kebohongan terdengar lebih keras.
Di titik inilah kita diuji. Apakah kita ikut arus karena takut tertinggal, atau memilih berdiri meski sendiri karena tahu mana yang benar.
Berdiri sendiri memang melelahkan. Sering dicap melawan, keras kepala, atau tidak solutif. Padahal kadang, orang yang berdiri sendiri bukan sedang kalah. Dia hanya satu-satunya yang menolak ikut berbohong.
Pemulihan tidak sama dengan balas dendam. Saat seseorang memilih pulih, dia tidak sibuk membalas. Dia menata diri, menjaga ketenangan, dan membiarkan proses berjalan. Membiarkan waktu bekerja. Membiarkan hukum menimbang dengan caranya sendiri.
Karena pada akhirnya, waktu selalu jujur. Waktu akan membuka siapa yang benar-benar setia dan siapa yang hanya datang karena kepentingan. Waktu akan memperlihatkan siapa yang selama ini hidup di balik topeng dan siapa yang tetap tegak meski tidak disorot.
Di ruang publik yang gaduh, kita butuh lebih banyak orang yang berani tenang. Tidak ikut berteriak hanya demi diterima. Tidak ikut menuduh hanya demi terlihat berpihak.
Kebenaran tidak butuh dibela dengan amarah. Ia hanya butuh ruang untuk dibuktikan. Dan ruang itu akan datang, lewat waktu dan lewat hukum.
Sampai saat itu tiba, pilihan paling waras adalah tetap berdiri di tempat yang benar. Meski sendiri.(*)






