Home / BERANDA / BERITA / HUKUM / NASIONAL / POLITIK

Senin, 22 Juni 2026 - 10:06 WIB

Kasus Korupsi BGN Bergulir, Mengapa Pemerintah Prabowo Tetap Lanjutkan Program MBG?

Demo tolak MBG marak setelah Kejagung tangkap 3 petinggi BGN. Analis: Program ini jadi medium politik harian untuk jaga basis suara 2029

MEDIALITERASI.ID | JAKARTA — Gelombang penolakan program Makan Bergizi Gratis terus menguat. Sejumlah aksi demo digelar mahasiswa hingga kelompok perempuan, puncaknya setelah Kejaksaan Agung meringkus petinggi Badan Gizi Nasional dalam kasus dugaan korupsi.

Meski diterpa skandal, pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto memilih melanjutkan MBG. Keputusan itu memicu pertanyaan: apa alasan MBG tetap dipertahankan di tengah tekanan publik?

Kronologi: Dari Segel Kantor BGN ke Penangkapan Pejabat

Aksi penolakan MBG mencuat beberapa waktu terakhir. Aliansi masyarakat sipil bahkan menggeruduk dan “menyegel” kantor BGN dengan tuntutan penghentian program.

Aksi itu terjadi tak lama setelah Kejagung menetapkan dan menahan 3 petinggi BGN: Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung. Mereka diduga terlibat korupsi dalam tata kelola MBG.

Baca Juga  Warga Desak Transparansi PSR, Dinas Perkebunan Aceh Timur Diminta Buka Data Hibah Miliaran

Evaluasi Datang Terlambat?

Ketua CISDI Diah Satyani Saminarsih menilai revisi taktik dan implementasi MBG yang kini dilakukan pemerintah “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”.

Namun ia menyoroti keterlambatan respons. “Andai BGN atau pemerintah mendengarkan masukan banyak pihak sejak awal, kerusakannya tak akan separah ini,” katanya.

Diah juga meragukan efektivitas pembaruan kebijakan. “Sekarang mungkin karena ada tuduhan korupsi dan lain sebagainya, jadi menunjukkan usaha-usaha yang baik. Saya hanya berharap ini tidak terlambat. Sentimen negatif sudah amat sangat kuat sehingga susah memperbaiki,” ujarnya.

Menurutnya, serangkaian pembaruan MBG pada prinsipnya belum menyentuh akar masalah program.

Alasan Politik di Balik Pertahanan MBG

Di tengah desakan penghentian, pemerintah tetap kukuh melanjutkan MBG. Peneliti Indikator Politik Indonesia Bawono Kumoro menyebut keputusan itu punya kalkulasi politik.

Baca Juga  Satresnarkoba Polres Aceh Barat Bongkar Peredaran Sabu, Dua Tersangka Diamankan

“Kalau MBG ini tidak berlanjut, dia enggak punya medium untuk menjaga potensi suara,” jelas Bawono.[Prabowo]

Ia menekankan MBG punya karakter unik dibanding kebijakan populis lain: sifatnya harian. “Bicara kebijakan populis memang ada banyak. Tapi yang muncul setiap hari, yang daily, itu cuma MBG. Jadi potensi suara untuk 2029 itu terjaga,” katanya.

Pertaruhan Kepercayaan Publik

Kasus korupsi di tubuh BGN dan demo penolakan menempatkan MBG di persimpangan. Satu sisi, program ini jadi instrumen politik elektoral. Sisi lain, kepercayaan publik tergerus akibat skandal dan implementasi yang dinilai telat dibenahi.

Ke depan, tantangan pemerintah bukan hanya menuntaskan kasus hukum, tapi juga membuktikan MBG bisa berjalan bersih, tepat sasaran, dan menjawab kritik substansi yang disuarakan masyarakat sipil. (AYD)

Share :

Baca Juga

BERANDA

Bukan Didepak, Ini Alasan Nama Veda Ega Pratama Hilang di Daftar Sementara Moto3 2027

HUKUM

Polemik Ijazah Gibran Usai Putusan MK: Apa Syarat Pemakzulan Wapres Menurut Konstitusi?

BERITA

Kunjungan Pasien Capai 150 Orang per Hari, Puskesmas Kuta Makmur Kekurangan Tempat Tidur Rawat Inap

BERANDA

Mendagri Berhentikan Bupati Gowa Sitti Husniah, Darmawangsyah Muin Ditunjuk Sebagai Plt Bupati

ACEH

RSUD Zubir Mahmud Pastikan Belum Ada Pasien Sesak Napas Akibat Kabut Asap di Aceh Timur

BERITA

Mukhlis Puna Bekali 27 Santri Misbahul Ulum dengan Keterampilan Jurnalistik

ACEH

Perayaan Maulid di Gampong Sagoe Muara Tiga Ricuh, Bendera Aceh Diturunkan Aparat di Area Masjid

ACEH

Waspada! Langit Idi Rayeuk Mulai Berkabut, Asap Tebal dari Palembang dan Jambi Sampai ke Aceh Timur