Home / EDUKASI / OPINI / RUBRIK

Jumat, 24 April 2026 - 22:27 WIB

7 Sikap Guru yang Tanpa Disadari Menjauhkan Rekan Kerja, Sekaligus Menghambat Kedekatan dengan Murid

Oleh:
Juni Ahyar, Akademisi, Peneliti, Pemerhati Pendidikan dan Bahasa

Sekolah bukan sekadar tempat mengajar. Ia adalah ruang tumbuh, ruang kolaborasi, sekaligus ruang membangun peradaban. Di dalamnya, guru tidak hanya berinteraksi dengan murid, tetapi juga dengan sesama pendidik. Sebab, kualitas pendidikan tidak lahir dari kerja individual, melainkan dari kerja sama yang sehat dan berkelanjutan.

Namun dalam praktiknya, ada hal yang sering luput disadari: beberapa sikap guru justru dapat membuat rekan kerja merasa menjaga jarak. Bukan karena kebencian, melainkan karena ketidaknyamanan dalam interaksi profesional. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat melemahkan kolaborasi, menghambat komunikasi, dan mengurangi kualitas ekosistem sekolah.

Lebih jauh lagi, sikap yang sama ternyata juga berdampak pada hubungan dengan murid. Di era Generasi Alpha yang kritis, cepat merespons, dan sangat peka terhadap karakter, kehadiran guru tidak cukup hanya sebagai pengajar. Guru dituntut hadir sebagai figur yang membangun kedekatan emosional dan keteladanan.

Berikut tujuh sikap yang perlu menjadi bahan refleksi setiap pendidik.

1. Kritik Tanpa Solusi

Mengkritik adalah hal yang wajar dalam dunia kerja. Namun, kritik tanpa menawarkan jalan keluar justru menimbulkan jarak. Rekan kerja akan merasa disudutkan, bukan dibantu.

Dalam konteks pendidikan, guru yang efektif bukan hanya mampu menunjukkan masalah, tetapi juga menghadirkan alternatif solusi yang konstruktif.

Baca Juga  ISRAEL DATANG, JOKOWI HARUS PULANG ! 

2. Merasa Paling Benar

Sikap ini menjadi penghambat utama kolaborasi. Ketika seseorang merasa paling tahu, ruang dialog tertutup secara perlahan.

Padahal, pendidikan berkembang melalui pertukaran gagasan, bukan dominasi satu pandangan.

3. Pelit Apresiasi

Ucapan sederhana seperti “terima kasih” atau “kerja bagus” memiliki dampak besar dalam membangun hubungan profesional yang sehat.

Sebaliknya, minim apresiasi membuat suasana kerja terasa dingin, kaku, dan penuh jarak emosional.

4. Gemar Membandingkan

Setiap guru memiliki karakter, pengalaman, dan pendekatan yang berbeda. Membandingkan satu dengan yang lain hanya akan melahirkan ketegangan, bukan motivasi.

Sekolah seharusnya menjadi ruang tumbuh bersama, bukan arena kompetisi internal.

5. Sulit Bekerja Sama

Pendidikan adalah kerja kolektif. Guru yang terlalu individualistis akan kesulitan membangun sinergi dengan tim.

Padahal, keberhasilan sekolah sangat ditentukan oleh kekuatan kolaborasi antarpendidik.

6. Komunikasi yang Kurang Bijak

Bukan hanya isi pesan yang penting, tetapi juga cara menyampaikannya. Nada tinggi, pilihan kata yang kurang tepat, atau minim empati dapat merusak hubungan yang telah lama terbangun.

Komunikasi yang baik adalah fondasi relasi profesional yang sehat.

7. Tidak Konsisten

Integritas adalah dasar kepercayaan. Ketika ucapan tidak sejalan dengan tindakan, kepercayaan akan runtuh secara perlahan.

Baca Juga  Menjaga Wibawa Peradilan Dari Jeratan Suap

Dan sekali kepercayaan itu retak, proses membangunnya kembali tidaklah mudah.

Menariknya, tujuh sikap tersebut tidak hanya memengaruhi hubungan antar guru, tetapi juga berdampak langsung pada interaksi dengan murid.

Di era Generasi Alpha, murid tidak hanya membutuhkan guru yang kompeten secara akademik, tetapi juga yang mampu membangun kedekatan emosional, relevansi, dan keteladanan.

Setidaknya ada tujuh karakter yang membuat guru lebih mudah diterima oleh generasi ini: empatik, menyenangkan, melek teknologi, inovatif, komunikatif, fleksibel, dan menjadi teladan.

Menjadi guru yang disukai rekan kerja sekaligus dicintai murid bukanlah hal yang mustahil. Kuncinya sederhana: mengurangi ego, memperbanyak empati; mengurangi kritik tanpa arah, memperbanyak solusi; serta mengurangi kebiasaan membandingkan, memperbanyak penghargaan.

Guru yang hangat dalam lingkungan kerja akan lebih mudah menciptakan kelas yang hangat pula. Sebab, suasana sekolah selalu berbanding lurus dengan kualitas relasi di dalamnya.

Pada akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari angka rapor atau sertifikat penghargaan. Lebih dari itu, keberhasilan guru tercermin dari satu hal sederhana: apakah kehadirannya membuat orang lain merasa tumbuh.

Karena di sekolah, guru bukan hanya mengajar. Guru membangun hubungan, menanam karakter, dan meninggalkan jejak kebaikan.

Share :

Baca Juga

OPINI

Ketika Kekhususan Menjadi Topeng Kekuasaan : Erosi Makna dan Krisis Akal Sehat Kepemimpinan Aceh

ACEH

Patroli Malam, Satsamapta Polres Aceh Timur Antisipasi Gangguan Kamtibmas

ACEH

Kedekatan Bhabinkamtibmas Polsek Darul Ihsan dengan Warga, Kunci Harmoni Polri dan Masyarakat

ACEH

Polsek Idi Rayeuk dan SPSI Perkuat Sinergi, Jaga Kondusivitas Jelang May Day

ACEH

Menjelang Maghrib, Personel Polsek Simpang Jernih Ajarkan Mengaji, Dekatkan Polisi dengan Generasi Bangsa

OPINI

Walimatus Safar : Ketika Ibadah Dipertontonkan, Siapa yang Sebenarnya Disembah?

ACEH

Selamatkan Bumi, Camat Julok Gelar Sosialisasi Karhutla Untuk Para Keuchik

BERITA

Hari Kartini, Edukasi Literasi Keuangan Perempuan Digelar di UIN Lhokseumawe