Oleh:
Juni Ahyar, Akademisi, Peneliti, Pemerhati Pendidikan dan Bahasa
Sekolah bukan sekadar tempat mengajar. Ia adalah ruang tumbuh, ruang kolaborasi, sekaligus ruang membangun peradaban. Di dalamnya, guru tidak hanya berinteraksi dengan murid, tetapi juga dengan sesama pendidik. Sebab, kualitas pendidikan tidak lahir dari kerja individual, melainkan dari kerja sama yang sehat dan berkelanjutan.
Namun dalam praktiknya, ada hal yang sering luput disadari: beberapa sikap guru justru dapat membuat rekan kerja merasa menjaga jarak. Bukan karena kebencian, melainkan karena ketidaknyamanan dalam interaksi profesional. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat melemahkan kolaborasi, menghambat komunikasi, dan mengurangi kualitas ekosistem sekolah.
Lebih jauh lagi, sikap yang sama ternyata juga berdampak pada hubungan dengan murid. Di era Generasi Alpha yang kritis, cepat merespons, dan sangat peka terhadap karakter, kehadiran guru tidak cukup hanya sebagai pengajar. Guru dituntut hadir sebagai figur yang membangun kedekatan emosional dan keteladanan.
Berikut tujuh sikap yang perlu menjadi bahan refleksi setiap pendidik.
1. Kritik Tanpa Solusi
Mengkritik adalah hal yang wajar dalam dunia kerja. Namun, kritik tanpa menawarkan jalan keluar justru menimbulkan jarak. Rekan kerja akan merasa disudutkan, bukan dibantu.
Dalam konteks pendidikan, guru yang efektif bukan hanya mampu menunjukkan masalah, tetapi juga menghadirkan alternatif solusi yang konstruktif.
2. Merasa Paling Benar
Sikap ini menjadi penghambat utama kolaborasi. Ketika seseorang merasa paling tahu, ruang dialog tertutup secara perlahan.
Padahal, pendidikan berkembang melalui pertukaran gagasan, bukan dominasi satu pandangan.
3. Pelit Apresiasi
Ucapan sederhana seperti “terima kasih” atau “kerja bagus” memiliki dampak besar dalam membangun hubungan profesional yang sehat.
Sebaliknya, minim apresiasi membuat suasana kerja terasa dingin, kaku, dan penuh jarak emosional.
4. Gemar Membandingkan
Setiap guru memiliki karakter, pengalaman, dan pendekatan yang berbeda. Membandingkan satu dengan yang lain hanya akan melahirkan ketegangan, bukan motivasi.
Sekolah seharusnya menjadi ruang tumbuh bersama, bukan arena kompetisi internal.
5. Sulit Bekerja Sama
Pendidikan adalah kerja kolektif. Guru yang terlalu individualistis akan kesulitan membangun sinergi dengan tim.
Padahal, keberhasilan sekolah sangat ditentukan oleh kekuatan kolaborasi antarpendidik.
6. Komunikasi yang Kurang Bijak
Bukan hanya isi pesan yang penting, tetapi juga cara menyampaikannya. Nada tinggi, pilihan kata yang kurang tepat, atau minim empati dapat merusak hubungan yang telah lama terbangun.
Komunikasi yang baik adalah fondasi relasi profesional yang sehat.
7. Tidak Konsisten
Integritas adalah dasar kepercayaan. Ketika ucapan tidak sejalan dengan tindakan, kepercayaan akan runtuh secara perlahan.
Dan sekali kepercayaan itu retak, proses membangunnya kembali tidaklah mudah.
Menariknya, tujuh sikap tersebut tidak hanya memengaruhi hubungan antar guru, tetapi juga berdampak langsung pada interaksi dengan murid.
Di era Generasi Alpha, murid tidak hanya membutuhkan guru yang kompeten secara akademik, tetapi juga yang mampu membangun kedekatan emosional, relevansi, dan keteladanan.
Setidaknya ada tujuh karakter yang membuat guru lebih mudah diterima oleh generasi ini: empatik, menyenangkan, melek teknologi, inovatif, komunikatif, fleksibel, dan menjadi teladan.
Menjadi guru yang disukai rekan kerja sekaligus dicintai murid bukanlah hal yang mustahil. Kuncinya sederhana: mengurangi ego, memperbanyak empati; mengurangi kritik tanpa arah, memperbanyak solusi; serta mengurangi kebiasaan membandingkan, memperbanyak penghargaan.
Guru yang hangat dalam lingkungan kerja akan lebih mudah menciptakan kelas yang hangat pula. Sebab, suasana sekolah selalu berbanding lurus dengan kualitas relasi di dalamnya.
Pada akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak hanya diukur dari angka rapor atau sertifikat penghargaan. Lebih dari itu, keberhasilan guru tercermin dari satu hal sederhana: apakah kehadirannya membuat orang lain merasa tumbuh.
Karena di sekolah, guru bukan hanya mengajar. Guru membangun hubungan, menanam karakter, dan meninggalkan jejak kebaikan.







