
MEDIALITERASI.ID |MANCA NEGARA — Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan militer jika Teheran tidak menyepakati pembatasan program nuklir dan rudal balistiknya. Di tengah situasi tersebut, sejumlah negara di kawasan dan dunia mempercepat upaya diplomatik guna mencegah pecahnya perang terbuka.
Trump pada Rabu (tanggal tidak disebutkan) menyatakan bahwa armada militer AS, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, telah dikerahkan ke Timur Tengah. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut pengerahan ini bertujuan menjaga keamanan dan stabilitas kawasan.
Iran menegaskan tidak bersedia bernegosiasi di bawah ancaman serangan. Pejabat senior tim negosiasi Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan Teheran saat ini memprioritaskan kesiapan penuh untuk mempertahankan diri, meski tetap membuka jalur komunikasi melalui perantara.
Di saat yang sama, Iran meningkatkan kemampuan militernya. Militer Iran mengumumkan penambahan 1.000 unit drone strategis untuk memperkuat sistem pertahanan dan daya tangkal terhadap potensi agresi.
Namun demikian, Iran juga mengintensifkan diplomasi dengan negara-negara regional dan global. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan pertemuan dengan pejabat tinggi Turkiye, serta menjalin komunikasi dengan Pakistan, Mesir, dan negara lain untuk meredam eskalasi.
Sejumlah negara Teluk, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah atau ruang udaranya digunakan untuk serangan terhadap Iran. India, China, dan Rusia juga menyerukan penahanan diri dan menekankan pentingnya penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Sementara itu, negara-negara Eropa justru mengambil langkah berbeda dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah individu dan entitas Iran, serta menetapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai organisasi teroris. Iran mengecam keputusan tersebut dan menilainya sebagai tindakan tidak berimbang.
Para pengamat menilai peluang diplomasi masih terbuka, meski terbatas. Sebagian analis menyebut keputusan akhir tetap berada di tangan Trump, namun risiko konflik besar di kawasan dapat menjadi faktor penahan.
Jika perang terjadi, para ahli memperingatkan dampaknya akan meluas, termasuk potensi serangan balasan terhadap aset AS dan sekutunya di Timur Tengah, yang dapat memicu krisis regional berkepanjangan. (Aljazeera)







