
MEDIALITERASI.ID | BENER MERIAH – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia, Letjen TNI Suharyanto, meninjau langsung lokasi pengungsian warga terdampak gempa bumi Gunung Burni Telong di kawasan Lampahan, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Rabu (31/12/2025).
Dalam kunjungan tersebut, Kepala BNPB didampingi Bupati Bener Meriah, Tagore Abu Bakar. Selain meninjau kondisi pengungsian, rombongan juga menyerap aspirasi masyarakat serta menyalurkan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi selama berada di lokasi penampungan.
Letjen TNI Suharyanto menyampaikan bahwa berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), telah terjadi 16 kali gempa sejak Selasa malam hingga Rabu pagi.
“Alhamdulillah, sejak pagi hingga saat ini intensitas gempa sudah menurun. Informasi ini telah kami sampaikan kepada masyarakat. Status Gunung Burni Telong saat ini berada pada Level III (Siaga),” ujar Suharyanto.
Ia berharap status tersebut dapat segera menurun ke Level II sehingga masyarakat yang mengungsi dapat kembali ke rumah masing-masing dengan aman.
“Kami berharap statusnya tidak meningkat ke Level IV dan justru segera turun. Jika sudah di Level II, masyarakat bisa kembali. Kita memang tidak bisa memastikan waktunya, namun mudah-mudahan segera membaik,” katanya.
Kepala BNPB juga mengingatkan seluruh pihak agar menyampaikan informasi yang benar dan akurat kepada masyarakat, mengingat wilayah Aceh sebelumnya juga dilanda banjir besar dan longsor.
“Situasi kebencanaan harus disikapi dengan komunikasi yang jujur dan bertanggung jawab agar tidak menimbulkan kepanikan,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Bener Meriah, Tagore Abu Bakar, mengatakan sebanyak 2.500 warga terpaksa mengungsi akibat meningkatnya aktivitas Gunung Burni Telong ke Level III Siaga.
“Para pengungsi tersebar di beberapa titik, antara lain di Kampung Rongka, Simpang Balik, dan Lampahan, Kecamatan Timang Gajah, sejak Selasa (30/12/2025) sekitar pukul 24.00 WIB,” ujarnya.
Menurut Tagore, evakuasi awalnya hanya ditujukan bagi warga dua desa, yakni Pantan Pediangen dan Rembune. Namun, warga dari desa lain seperti Bandar Lampahan dan Damaran ikut mengungsi karena kepanikan.
“Alhamdulillah, hari ini Kepala BNPB turun langsung dan menyerahkan bantuan. Pemerintah pusat hadir dengan cepat. Insya Allah bencana ini segera berakhir,” katanya.
Salah seorang pengungsi asal Desa Rembune, Kecamatan Timang Gajah, bernama Juniar, mengaku gempa terjadi saat dirinya tengah beristirahat bersama keluarga di rumah.
“Guncangannya sangat kuat. Kami panik dan langsung keluar rumah karena takut bangunan runtuh. Biasanya sering gempa, tapi tidak separah malam itu,” tuturnya.
Ia menambahkan, sekitar pukul 23.00 WIB warga mendapat imbauan dari aparatur desa untuk mengungsi. Seluruh warga di kawasan sekitar Burni Telong kemudian dievakuasi ke tiga titik pengungsian sekitar pukul 24.00 WIB.
“Kami masih takut pulang karena khawatir terjadi debu vulkanik atau dampak lainnya. Di pengungsian kami membutuhkan selimut karena dingin, juga sembako, pampers, dan obat-obatan,” pungkasnya. (EQ)







