Home / ACEH

Minggu, 26 Oktober 2025 - 17:43 WIB

Alumni Lintas Generasi Soroti Krisis Kepemimpinan dan Pudarnya Ruh Akademik di Unhas

MEDIALITERASI.ID | MAKASSAR – Sejumlah alumni lintas generasi Universitas Hasanuddin (Unhas) menyoroti melemahnya kepemimpinan akademik dan memudarnya tradisi keilmuan di kampus “merah” tersebut. Isu tersebut mengemuka dalam forum reflektif bertajuk Dialog Alumni Lintas Generasi: Unhas Kita Dulu, Kini, dan Akan Datang, yang digelar di Kopi Aspirasi, Jalan AP Pettarani, Makassar, Sabtu malam, 25 Oktober 2025.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Lobelobe Forum (LOF) dan Solidaritas Alumni Peduli Unhas (SAPU), serta didukung oleh IKA Unhas Kota Makassar, menghadirkan tiga narasumber utama: akademisi senior Abdul Madjid Sallatu, dosen FISIP Unhas Dr. Hasrullah, M.Si, dan sosiolog Unhas Dr. Rahmat Muhammad, M.Si. Diskusi tersebut dipandu oleh Andi Sri Wulandani Thamrin, S.IP., M.Hum.

Forum ini menjadi wadah terbuka bagi alumni untuk merefleksikan perjalanan panjang Unhas sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di kawasan timur Indonesia. Tema “Dulu, Kini, dan Akan Datang” diangkat untuk meninjau dinamika historis, kondisi terkini, serta arah pengembangan kampus ke depan.

Salah satu pandangan tajam datang dari Ni’matullah, alumni Fakultas Ekonomi Unhas dan mantan Ketua Senat Mahasiswa. Ia menilai atmosfer akademik di Unhas kini kian memudar dan bergeser menjadi rutinitas administratif semata.

“Unhas hari ini sudah seperti tempat kursus saja. Tidak kelihatan lagi nuansa dan tradisi akademik yang bergagasan. Yang ada hanya orang yang ingin mengejar ijazah,” tegas Ulla dalam forum tersebut.

Baca Juga  Gubernur Aceh Cabut Pergub No 2 Tahun 2026, Layanan JKA Kembali Normal

Menurutnya, dengan jumlah mahasiswa mencapai sekitar 39 ribu orang, organisasi kampus kini terlalu besar dan kehilangan kelincahan intelektual untuk melahirkan ide-ide besar.

“Organisasi kampus sudah terlalu gemuk, sehingga sulit melahirkan gagasan besar. Kita sulit berharap muncul inovasi akademik dalam kondisi seperti ini,” ujarnya.

Ia juga menilai Unhas memiliki tanggung jawab besar terhadap kemajuan Provinsi Sulawesi Selatan, mengingat banyak pejabat daerah merupakan alumninya.

“Unhas-lah yang paling bertanggung jawab terhadap kemajuan Sulsel. Banyak pejabat publik berasal dari kampus ini, tapi mengapa kita belum memberi dampak yang lebih baik?” tambahnya.

Akademisi senior Abdul Madjid Sallatu menyoroti hilangnya kepemimpinan akademik sejati di tubuh Unhas.

“Yang tidak ada di Unhas saat ini adalah academic organizational leadership. Yang ada hanya kepemimpinan personal, sehingga tidak memberi dampak besar bagi masyarakat,” kata Madjid.

Ia mengkritisi sistem perangkingan universitas dan beban administratif dosen yang dinilainya membunuh kreativitas serta mengerdilkan ruang akademik yang seharusnya menjadi jantung perguruan tinggi.

“Perangkingan universitas adalah jebakan yang membuat kampus sibuk berkompetisi, padahal dunia akademik seharusnya menumbuhkan kolaborasi dan sinergi,” tegasnya.

Dosen Ilmu Komunikasi Unhas, Dr. Hasrullah, M.Si, menyoroti menurunnya budaya membaca dan menulis di kalangan mahasiswa serta dosen.

“Banyak faktor penyebab pudarnya budaya literasi, tetapi kampus seharusnya mencari jalan keluar. Kalau tidak, ini alarm bahaya bagi dunia akademik,” ujarnya.

Baca Juga  Uji Fisik Personel, Kapolres Aceh Timur Pimpin Kesamaptaan Jasmani Periode I Tahun 2026

Hasrullah mengenang masa kepemimpinan Prof. Ahmad Amiruddin, rektor ke-6 Unhas, yang rutin menggelar forum diskusi dosen tentang berbagai isu kebangsaan dan kemasyarakatan.

“Dari forum-forum diskusi itu lahir banyak gagasan, bahkan sebagian menjadi buku,” kenangnya.

Sosiolog Unhas Dr. Rahmat Muhammad, M.Si, menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan akademik yang sehat dan terencana.

“Regenerasi kepemimpinan di dunia akademik harus dilakukan secara rutin. Jabatan seperti dekan, wakil dekan, rektor, atau wakil rektor sebaiknya tidak diduduki terlalu lama,” ujarnya.

Menurut Rahmat, dari sekitar 2.500 dosen di Unhas, semuanya seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pengalaman memimpin.

“Potensi besar ini jangan hanya disimpan di kampus. Jika ada yang berpotensi, dorong menjadi tokoh nasional, termasuk rektor,” tegasnya.

Para pembicara sepakat bahwa kepemimpinan akademik terbaik dalam sejarah Unhas terjadi pada masa Prof. Ahmad Amiruddin.

“Beliau bukan hanya pemimpin kampus, tetapi pemimpin peradaban. Spirit kepemimpinannya belum ada yang menyamai hingga hari ini,” demikian simpulan reflektif yang mengemuka dalam forum tersebut.

Acara yang berlangsung hingga pukul 23.00 WITA ini dihadiri puluhan alumni dari berbagai fakultas dan angkatan, menjadikannya ajang refleksi lintas generasi yang sarat gagasan dan semangat memperkuat kembali marwah, tradisi keilmuan, serta peran strategis Unhas dalam pembangunan bangsa. [Asr]

Share :

Baca Juga

ACEH

3 Hektar Lahan di Julok Terbakar, Camat Imbau Warga Stop Bakar Sampah Sembarangan di Musim Kemarau

ACEH

Turun 2 Persen, Angka Kemiskinan Aceh Timur Kini 11,24 Persen  

ACEH

Bupati Al-Farlaky: Adat Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Modal Sosial Pembangunan Aceh Timur

ACEH

Bupati ALFARLAKY: Adat Bukan Pajangan, Tapi Kekuatan Pembangunan Daerah

ACEH

Izin Tambang Beutong Ateuh Banggalang Dikecam: “Jangan Ada Pesta Babi Jilid 2 di Aceh”

ACEH

Idul Adha 1447 H: 86 Sapi & 57 Kambing Disembelih di Julok, Prioritas untuk Korban Banjir di Huntara

ACEH

“Bersatu Kita Mampu”: IKASMADI Berqurban 200 Paket, Rajut Silaturahmi Alumni SMAN 1 Idi

ACEH

Polda Aceh Kurbankan 46 Ekor Sapi-Kambing, Daging Dibagikan ke Warga dan Pesantren