Home / OPINI

Rabu, 20 Agustus 2025 - 22:19 WIB

Dari Kitab ke Cloud: Evolusi Pendidikan Islam di Era Digital

Oleh: Samhudi [Dosen UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe]

OPINI – Perubahan zaman selalu membawa konsekuensi besar bagi dunia pendidikan, termasuk pendidikan Islam yang sejak awal memiliki tradisi panjang dalam menjaga ilmu pengetahuan. Dahulu, proses pembelajaran Islam berpusat di madrasah, balai pengajian dayah dan pesantren dengan kitab kuning sebagai rujukan utama. Santri belajar dengan penuh kesabaran melalui kegiatan beut di balee, di mana seorang Teungku atau ustadz membacakan kitab, menerjemahkan, lalu menjelaskan makna yang terkandung di dalamnya. Relasi guru dan murid tidak hanya terikat oleh transfer ilmu, melainkan juga oleh ikatan spiritual dan adab. Inilah yang membuat pendidikan Islam klasik bukan hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga akhlak dan keshalehan.

Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an :

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl [16]: 43).

Sebuah pesan yang menegaskan pentingnya belajar dari guru yang otoritatif. Tradisi kitab pada dasarnya merupakan manifestasi dari prinsip sanad keilmuan ini, di mana transmisi ilmu berjalan dari generasi ke generasi dengan menjaga otentisitasnya.

Namun, seiring berkembangnya zaman, umat Islam menghadapi tantangan baru yang menuntut adaptasi. Modernisasi pendidikan membawa masuk berbagai media baru. Awalnya teknologi hadir melalui radio dakwah, kaset pengajian, hingga televisi yang menyiarkan ceramah-ceramah ulama. Kehadiran media ini memperluas jangkauan dakwah yang sebelumnya terbatas hanya pada lingkup madrasah, pesantren atau majelis taklim tertentu. Lompatan paling besar terjadi ketika internet mulai masuk ke ruang-ruang belajar. Saat ini, seorang Muslim dapat dengan mudah mengakses ceramah, kajian, bahkan kitab digital hanya dengan smartphone.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

“Sampaikan dariku walau satu ayat” (HR. Bukhari). Dakwah dan pendidikan Islam kini tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, karena melalui teknologi digital pesan keagamaan bisa menjangkau audiens lintas benua dalam hitungan detik.

Cloud sebagai “Perpustakaan Baru” Umat Islam

Era cloud computing menandai fase baru dalam sejarah pendidikan Islam. Kitab-kitab klasik yang dulu hanya bisa diperoleh di pesantren kini telah di digitalkan dan tersedia secara luas melalui aplikasi atau platform daring. Koleksi Maktabah Syamilah, misalnya, memuat ribuan kitab dari berbagai disiplin ilmu Islam yang bisa diakses gratis. Perpustakaan besar dunia Islam juga membuka koleksi mereka secara daring sehingga masyarakat umum bisa mempelajarinya. Cloud ibarat perpustakaan raksasa yang menggantikan rak-rak kayu di pesantren dengan server-server virtual. Fenomena ini memungkinkan siapa pun, dari santri di pelosok hingga mahasiswa di kota besar, memperoleh akses ilmu yang sama luasnya.

Baca Juga  Serangan Fajar Ciderai Demokrasi

Namun, di balik kemudahan ini terdapat tantangan serius. Akses tanpa bimbingan guru bisa menimbulkan kesalahpahaman. Ilmu agama tidak cukup dipelajari sekadar dengan membaca teks digital atau menonton video ceramah, melainkan membutuhkan proses talaqqi; belajar langsung kepada guru yang memiliki sanad keilmuan agar pemahaman tetap otentik.

Generasi Z dan Gaya Belajar Digital

Generasi Z, yang tumbuh dalam dunia digital sejak lahir, menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru bagi pendidikan Islam. Pola belajar mereka berbeda dengan generasi sebelumnya: lebih cepat, visual, interaktif, dan sangat bergantung pada teknologi. Bagi mereka, menonton video singkat penjelasan ustaz di YouTube bisa lebih menarik dibanding membaca kitab berlembar-lembar. Maka, pendidikan Islam perlu menyesuaikan diri dengan gaya belajar ini. Platform e-learning, aplikasi hafalan Al-Qur’an berbasis digital atau kelas fikih interaktif dalam bentuk kuis daring merupakan cara-cara kreatif yang dapat memikat minat generasi digital. Akan tetapi, penyesuaian metode ini tidak boleh mengorbankan substansi. Tantangannya adalah bagaimana mengawinkan kedalaman tradisi kitab dengan fleksibilitas teknologi, sehingga generasi digital tetap memperoleh ilmu yang bermanfaat (‘ilm nāfi‘) sekaligus terbentuk akhlak yang mulia.

Transformasi dari kitab ke cloud menghadirkan banyak peluang. Pertama, akses ilmu menjadi jauh lebih luas dan merata. Seorang santri di daerah terpencil kini bisa mengaji kitab yang sama dengan mahasiswa di Kairo atau Madinah. Kedua, fleksibilitas waktu dan tempat memungkinkan proses belajar tidak terbatas hanya pada ruang kelas atau pesantren. Ketiga, kolaborasi lintas negara semakin terbuka, di mana santri atau mahasiswa Indonesia bisa berdiskusi secara daring dengan dosen dari Turki atau ulama dari Mesir. Namun di sisi lain, tantangan yang muncul juga tidak kalah besar. Validitas ilmu menjadi persoalan serius karena tidak semua konten agama di internet benar dan terpercaya; hoaks dan paham menyimpang kerap tersebar luas dengan kedok dakwah. Selain itu, interaksi digital rentan mengurangi dimensi spiritual, sebab hubungan tatap muka antara guru dan murid yang penuh adab sulit digantikan oleh layar. Bahkan, ada kecenderungan komersialisasi dakwah, di mana sebagian konten lebih mengejar jumlah klik like dan subscribe ketimbang kualitas keilmuan.

Baca Juga  Menakar Pelibatan TNI Diluar Fungsi Pertahanan

Di sinilah pentingnya jalan tengah. Pendidikan Islam digital tidak boleh dilepaskan sepenuhnya dari tradisi. Justru yang dibutuhkan adalah integrasi antara keduanya. Santri, siswa maupun mahasiswa tetap diajak untuk menjaga tradisi talaqqi dan menghormati sanad keilmuan, tetapi juga diajarkan cara memanfaatkan teknologi sebagai sarana memperkaya wawasan. Ulama dan akademisi perlu aktif hadir di ruang digital untuk memberikan bimbingan, sekaligus melawan informasi yang menyesatkan. Hal ini menegaskan bahwa ilmu dalam islam bukan hanya akumulasi pengetahuan, melainkan bagian dari peradaban yang membentuk manusia. Dengan kata lain, digitalisasi pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada sekadar konsumsi informasi, tetapi harus diarahkan untuk membangun peradaban yang berlandaskan iman, ilmu, dan akhlak.

Penutup

Evolusi dari kitab ke cloud bukanlah proses penggantian, melainkan kesinambungan. Kitab tetap memiliki posisi istimewa sebagai sumber tradisi yang mengakar, sementara cloud menghadirkan jalan baru untuk memperluas akses dan memperkaya metode pembelajaran. Keduanya dapat berjalan beriringan jika dikelola dengan bijak.

Allah berfirman :

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).

Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan ilmu tidak ditentukan oleh medianya, tetapi oleh niat, cara, dan tujuan pengelolaannya. Selama ilmu dikelola dengan niat yang ikhlas dan bimbingan yang benar, baik dalam bentuk kitab kuning di pesantren maupun aplikasi digital di smartphone, keduanya menjadi jalan kemuliaan bagi umat.

Oleh sebab itu, perjalanan dari kitab ke cloud adalah peluang emas bagi umat Islam untuk memperkuat tradisi keilmuan sekaligus meneguhkan posisi dalam peradaban global. Pendidikan Islam tidak lagi terkurung dalam ruang kelas atau rak kitab, tetapi meluas hingga ke jaringan digital yang menghubungkan jutaan umat di seluruh dunia. Dari pesantren hingga platform daring, dari lembaran kitab kuning hingga server cloud, pendidikan Islam terus bergerak, menjawab tantangan zaman dengan semangat rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam bishshawab.

Lhokseumawe, Rabu 20 Agustus 2025.

Share :

Baca Juga

tuti liana

EDUKASI

Menumbuhkan Literasi Sains dan Lingkungan melalui Inovasi Pembelajaran STEM

OPINI

Jejak Digital Tak Pernah Lupa: Mengapa Etika Bermedia Sosial Semakin Penting

OPINI

Amnesia Sejarah dan Kesalahan Memahami Aceh

OPINI

Haul Ke-30 Abu Budi: Menjaga Warisan Guru, Merawat Tradisi Keilmuan Dayah

OPINI

1 Muharam dan Krisis Kesadaran Waktu di Era Digital

ACEH

Blok Andaman dan Kesempatan Emas Aceh Menjadi Hub Energi Asia Tenggara

ACEH

MENAGIH JANJI MoU HELSINKI DAN UUPA: Jangan Sampai South Andaman Menjadi Arun Jilid II

EDUKASI

UIN SUNA 57 Tahun: Kampus Peradaban untuk Generasi Hebat