MEDIALITERASI.ID | JAKBAR – Sepasang pasangan diluar nikah DKZ (23) dan RR 28) diamankan oleh Polsek Kalideres usai melakukan aborsi terhadap janin yang telah berusia 8 bulan dari hasil hubungan gelap.
Kapolsek Kalideres Polres Metro Jakarta Barat, Kompol Abdul Jana, menjelaskan bahwa DKZ dan RR telah berpacaran sejak Maret 2023.
” Namun, RR diketahui sudah memiliki istri, meski tetap menjalani hubungan dengan DKZ dan tinggal bersama di sebuah kost,” Ujar Abdul Jana di Polsek Kalideres, Jumat, (30/8/2024)
Dari hasil hubungan gelap tersebut, DKZ mengaju hamil pada Januari 2024. Mengetahui kehamilan itu, kedua tersangka sepakat untuk menggugurkan janin karena kehamilan tersebut tidak diinginkan. Sebelumnya dalam keterangan Kompol Abdul Jana, kedua tersangka mengaku sudah mencari cara untuk melakukan aborsi, namun baru pada usia kandungan 8 bulan, DKZ berhasil memperoleh obat aborsi yang dibeli secara online dengan harga Rp 1.000.000.
Lebih lanjut dalam keterangan Kompol Abdul Jana, kedua terduga mengatakan, pada tanggal 13 Agustus 2024, DKZ mulai mengonsumsi obat menggugurkan kandungan dan dirinya mengaku telah meminum 18 butir obat penggugur kandungan.
“Namun pada Rabu, 14 Agustus 2024, sekitar pukul 13.00 WIB, DKZ merasakan kontraksi hebat dan segera masuk ke kamar mandi di kost mereka, selain itu RR yang berada di luar kamar mandi turut mengawasi dan membantu. Setelah beberapa saat, janin keluar dari kandungan dalam kondisi meninggal dunia”, terang Kompol Abdul Jana.
Tragisnya, tersangka RR membantu merekam proses tersebut dan mempersiapkan alat-alat seperti gunting untuk memotong tali pusar serta kain kafan untuk membungkus jenazah bayi dan janin kemudian dimakamkan oleh kedua tersangka di TPU Carang Pulang, Pegedangan, Kabupaten Tangerang.
Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua tersangka akan dijerat dengan berbagai pasal, termasuk Pasal 77A Jo 45A UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara, serta pasal-pasal terkait aborsi dalam UU Kesehatan dan KUHP, dengan ancaman tambahan hukuman hingga 5 tahun penjara. (Ranto)







