
SUMENEP, sebagai kabupaten potensial dan agraris, Masyarakat Madura selayaknya memiliki kemampuan untuk berswasembada dalam penyediaan pangan, utamanya benih.
Benih memiliki posisi vital dalam pertanian, karena benih mengandung potensi genetik produksi yang akan memberikan hasil dalam usaha pertanian.
Guna mengantisipasi terjadinya kekurangan stok benih padi di pasaran, belasan kelompok tani (Poktan) di Kecamatan Guluk-Guluk menggelar diskusi soal perintisan ketersediaan benih padi secara mandiri, Rabu (9/8/2023).
Kegiatan yang berlangsung di Desa Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk, tersebut turut didampingi oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat dan Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Jawa Timur.
Apapun faktor lingkungan yang disediakan – seperti ketersediaan unsur hara dan lain-lain, bila potensi benih rendah, maka produksi yang dihasilkan juga rendah, maka persoalan benih harus mendapat perhatian lebih besar dalam upaya peningkatan produktivitas pertanian.
Benih adalah awal kehidupan, satu benih sejuta harapan masa depan. Barangsiapa yang mampu memperlakukan benih dengan baik dan mampu memproduksi benih bermutu dan berkualitas, maka ia akan mampu mencapai masa depan yang lebih baik pula, “kata Penyuluh Pertanian Utama Ahli Utama, BSIP Jawa Timur, Tini Siniati Kusno kepada media Literasi, Rabu 9 Agustus 2023 malam.
Keberhasilan usaha tani 40% hingga 60% ditentukan oleh benih. Sebab itu, tanpa mengurangi perhatian atas pentingnya benih bermutu dan bersertifikat, masih banyak petani lebih memilih benih unggul hasil perbanyakan sendiri atau diperoleh melalui jejaring sesama petani, utamanya terhadap benih unggul yang sangat disukai namun tidak tersedia di pasaran.
Tini juga menyatakan bahwa berkurangnya ketersediaan benih padi biasanya terjadi pada musim tanam kedua dan musim tanam ketiga.
“Ini sebagai upaya untuk mengantisipasi penyediaan benih di saat kritis, utamanya pada musim tanam kedua dan musim tanam ketiga,” jelasnya.
Tini menjelaskan bahwa ada 7 benih padi varietas unggul baru (VUB) yang sebelumnya digandrungi dan ditanam oleh sebagian besar petani di Kecamatan Guluk-Guluk.
“Di antaranya adalah Inpari 32, Inpari 42, Inpari Nutrizync, Inpari 24 Gabusan, Jeliteng, Cakrabuana dan Inpari 48 Blas,” tuturnya.
Hampir 90% petani menyukai VUB padi tersebut, namun disayangkan benih yang disukai petani tersebut tidak tersedia di pasaran atau kios pertanian.
Kalaupun ada, jumlahnya kurang memenuhi kebutuhan petani. Selain itu titik kritis penyediaan benih padi di tingkat petani terjadi pada musim tanam padi pertama ke tanam padi kedua dan ketiga.
Sehingga, atas masalah tersebut, 18 poktan di kecamatan Guluk-guluk sepakat untuk berupaya mengantisipasi ketersediaan benih saat kritis, utamanya pada musim tanam kedua dan ketiga, “pungkasnya.
Sementara itu, Kepala dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP) sumenep mengapresiasi dan mendukung langkah yang dilakukan penyuluh kecamatan Guluk-guluk bersama 18 kelompok tani setempat.
Adopsi benih unggul oleh petani perlu dimaksimalkan guna meningkatkan produksi dan adoptif dengan perubahan iklim,” jelasnya Arif Firmanto kepada media ini, Rabu (9/23).
Arif sapaan akrabnya mengemukakan bahwa inisiatif penyediaan bibit benih secara mandiri dapat menekan biaya produksi petani dalam menjalankan usaha tani.
“Kolaborasi antara BSIP, DKPP ini dipastikan terus berjalan. Kami juga akan terus melakukan langkah-langkah agar rencana ini terealisasi, salah satunya dengan monitoring RTL,” tegasnya.
Menurutnya, inovasi tersebut mengajarkan petani agar tidak bergantung dengan benih dari perusahaan, akan tetapi harus ada upaya penyediaan benih dengan cara menyediakan benih padi sendiri.
Cara lainnya, melakukan sistem barter dengan sesama petani yang memiliki benih hortikultura selain benih padi sebagai antisipasi kekurangan benih padi saat masuk musim tanam, “Tutupnya. (Ali Wafa)







