MEDIALITERASI.ID | ACEH UTARA – Banjir besar kembali melanda Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, pada Rabu (26/11/2025) dengan total 18 kecamatan terendam. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mencatat sedikitnya 4.451 jiwa terdampak (2.668 KK) dan 3.507 jiwa (1.270 KK) telah mengungsi ke 16 lokasi pengungsian. Sejumlah fasilitas umum, tanggul sungai, rumah warga, serta lahan pertanian ikut mengalami kerusakan.
Juru Bicara Pemerintah Aceh Utara, Muntasir Ramli, menyampaikan bahwa kondisi banjir semakin meluas akibat curah hujan tinggi dan jebolnya beberapa titik tanggul sungai di wilayah tersebut.
Instruksi Bupati Aceh Utara
Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, MM (Ayah Wa), mengeluarkan sejumlah instruksi untuk mempercepat penanganan darurat:
- BPBD Aceh Utara diminta terus berkoordinasi dengan instansi terkait dalam melakukan evakuasi dan penyelamatan warga, mengingat keterbatasan peralatan dan personel SAR.
- Kepala OPD diminta tetap siaga untuk memperlancar koordinasi penanganan banjir.
- Kepala Puskesmas diinstruksikan menyiagakan tenaga kesehatan untuk melayani pengungsi, terutama ibu hamil, balita, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
- Dinas PUPR diminta segera mengerahkan alat berat guna melakukan normalisasi pada titik-titik yang tersumbat.
- Camat diminta tetap berada di wilayah masing-masing dan menyampaikan informasi perkembangan lapangan secara berkala.
- Dinas Sosial diperintahkan mempercepat penyaluran bantuan masa panik ke seluruh lokasi pengungsian.
- Masyarakat sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) dihimbau tetap siaga karena debit air terus meningkat.
18 Kecamatan Terendam
Berdasarkan data sementara BPBD Aceh Utara per Rabu (26/11) pukul 13.20 WIB, banjir melanda 18 kecamatan berikut:
- Tanah Jambo Aye — 11 desa, ketinggian air 30–80 cm, warga mengungsi ke meunasah.
- Seuneddon — 20 desa; air 30–80 cm; 200 hektare sawah terendam; sejumlah lokasi pengungsian dibuka di meunasah, SMA 1 Seuneddon, SD Ulee Rubek, dan Balai Pengajian Matang Ulim.
- Langkahan — 2 desa; ketinggian air hampir mencapai atap rumah; abrasi sungai menyebabkan 1 rumah amblas.
- Baktiya — 36 desa; air 30–150 cm; seluruh warga mengungsi.
- Samudera — 7 desa; tanggul di beberapa titik jebol dan merendam rumah warga.
- Syamtalira Aron — 1 desa; tanggul Krueng Pase terkikis dan berpotensi jebol.
- Baktiya Barat — 6 desa; warga mengungsi ke meunasah dan gudang sawit.
- Lapang — 11 desa; sawah persemaian, tambak, dan lokasi produksi garam terendam.
- Dewantara — 1 desa; terjadi longsor yang merusak berat satu rumah (5 jiwa terdampak).
- Matangkuli — 4 desa; ketinggian air 30–300 cm, pendataan masih berlangsung.
- Banda Baro — 1 desa; masih dalam pendataan.
- Lhoksukon — 4 desa; tanggul Krueng Peuto jebol dan merendam permukiman.
- Pirak Timu — 13 desa; pendataan masih berlangsung.
- Sawang — 5 desa; ketinggian air 3–4 meter; warga dievakuasi dari atap rumah; jembatan gantung putus dan hanyut.
- Nibong — 3 desa; tanggul Krueng Pase jebol dan menerjang permukiman.
- Tanah Luas — 1 desa; rumah warga terendam.
- Meurah Mulia — 1 desa; rumah warga terendam.
- Muara Batu — 10 desa; air 30–100 cm; warga mengungsi ke rumah saudara.
Kerusakan dan Dampak
BPBD Aceh Utara mencatat:
- Rumah rusak berat: 3 unit
- Rumah rusak sedang: 17 unit
- Rumah rusak ringan: 6 unit
- Sawah terendam: 620 hektare
- Tambak terendam: 571 hektare
- Kerusakan tanggul: 8 titik
- Jembatan putus: 1 unit (Sawang)
Kategori rentan:
- Ibu hamil: 15 jiwa
- Balita: 373 jiwa
- Lansia: 148 jiwa
- Disabilitas: 7 jiwa
Kebutuhan Mendesak
Pemerintah Aceh Utara menyebut kebutuhan mendesak saat ini meliputi:
- Perahu dan dukungan evakuasi
- Makanan pokok
- Bantuan logistik masa panik
- Alat berat untuk normalisasi aliran sungai dan saluran air









