MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH – Yayasan Cakra Donya Atjeh (CDA) memperingati haul ke-16 Paduka Yang Mulia (PYM) Dr. Teungku Hasan Muhammad Di Tiro, Rabu (3/6/2026). Kegiatan tersebut diisi dengan doa bersama dan refleksi atas kontribusi Hasan Muhammad Di Tiro dalam perjalanan sejarah Aceh.
Ketua Yayasan Cakra Donya Atjeh, Mujahiddin, S.H., M.Si., mengatakan peringatan haul tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang jasa dan pengabdian Hasan Muhammad Di Tiro, tetapi juga sebagai sarana memperkuat semangat persatuan, perdamaian, dan pembangunan Aceh.
“Beliau merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah Aceh. Peringatan haul ini menjadi momentum untuk mengenang jasa dan pengabdian beliau kepada masyarakat Aceh,” kata Mujahiddin.
Menurutnya, generasi muda perlu memahami sejarah perjuangan Aceh sebagai bekal untuk melanjutkan pembangunan daerah. Ia menilai perjalanan panjang Aceh yang penuh pengorbanan harus menjadi pelajaran berharga agar nilai-nilai perjuangan para pendahulu tetap terjaga.
“Generasi yang saat ini menikmati hasil pembangunan dan perdamaian memiliki tanggung jawab moral untuk menghargai sejarah serta berkontribusi bagi kemajuan Aceh di masa depan,” ujarnya.
Mujahiddin menambahkan, nilai-nilai kepemimpinan, perjuangan, dan kecintaan terhadap masyarakat yang ditunjukkan Hasan Muhammad Di Tiro masih relevan untuk dijadikan inspirasi dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan peran lembaga Wali Nanggroe sebagai simbol pemersatu masyarakat Aceh. Selain itu, menurutnya masih terdapat sejumlah agenda strategis yang memerlukan perhatian bersama, termasuk implementasi butir-butir Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki yang dinilai belum sepenuhnya terealisasi.
“Diperlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, tokoh masyarakat, lembaga, dan seluruh elemen masyarakat untuk memastikan berbagai kesepakatan yang telah dicapai dapat berjalan optimal demi kemajuan Aceh,” katanya.
Sementara itu, Pembina Yayasan Cakra Donya Atjeh, Abdullah Hasbullah, S.Ag., M.SM., mengatakan pihaknya terus membangun komunikasi dan konsultasi dengan berbagai pihak untuk mendorong program-program strategis yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Aceh.
Menurut Abdullah, peningkatan kualitas SDM merupakan faktor penting dalam meningkatkan daya saing daerah sekaligus menarik investasi dari dalam maupun luar negeri.
“Peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan perlu terus diperkuat,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Yayasan Cakra Donya Atjeh, Irwan Syahputra atau Syech Wan, menyatakan bahwa kontribusi Hasan Muhammad Di Tiro akan tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Aceh.
Ia menilai berbagai capaian yang dinikmati masyarakat Aceh saat ini, termasuk kekhususan dan otonomi khusus, merupakan hasil dari proses perjuangan yang panjang.
“Berbagai capaian tersebut diharapkan dapat terus menjadi fondasi bagi terwujudnya kemakmuran, kesejahteraan, dan kehidupan yang damai bagi masyarakat Aceh,” katanya.
Syech Wan juga menekankan pentingnya memperluas kerja sama dengan berbagai pihak di tingkat nasional maupun internasional guna mendukung percepatan pembangunan daerah. Menurutnya, Aceh memiliki potensi sumber daya alam yang besar serta posisi strategis yang dapat menjadi modal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Dengan sinergi yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan, Aceh memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi daerah yang maju, mandiri, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional,” tutupnya. (EQ)







