Medialiterasi.id | INTAN JAYA – Yosua Maiseni Komandan Operasi Umum Kodap 8 TPNPB OPM West Papua Army Intan Jaya Papua Tengah selain membantah pihaknya tidak melakukan penembakan terhadap warga sipil. Namun Yosua justru menuding aparat TNI dari Yonif 330 menembak tiga warga sipil di Titigi, Intan Jaya, Papua Tengah. Penembakan itu terjadi pada dua peristiwa berbeda.
Peristiwa pertama pada Rabu, 28 Februari 2024 sekitar pukul 22:25 malam waktu setempat. dua warga sipil terkena luka tembak, yakni Selli Maiseni (17) mengalami luka tembak pada lengan tangan dan Makelon Hagisimijau (15) ditembak pada bagian paha pada hari
Kedua pada 1 Maret 2024, seorang warga sipil bernama Nelson Sani (16) terkena tembakan pada lengan kiri tembus perut hingga tewas. Itu terjadi saat kontak tembak terjadi antar aparat gabungan dengan kelompok TPNPB di Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah.
“TPNPB WPA menuding mereka bertiga ditembak oleh TNI Yonif 330 yang bertugas mengamankan Pemilu yang merenggut nyawa warga sipil yang tidak tahu menahu,” kata Pimpinan TPNPB West Papua Army Kodap VIII Intan Jaya di Sugapa, Yosua Maiseni kepada media WPA, Minggu (3/3/2024).
Yosua Maiseni mengatakan, Selli Maiseni (17) dan Makelon Yoani (15) ditembak saat hendak pergi menyaksikan perhitungan suara pemilihan anggota Legislatif dan Presiden Indonesia yang berlangsung di Kampung Titigi, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya. Mereka ditembak dalam perjalanan.
Yosua Maiseni mengatakan, sebelum terjadinya penembakan, kedua pemuda tersebut telah ikut dalam pemilihan anggota Legislatif dan Presiden. Namun, tanpa alasan kuat, mereka ditembak oleh TNI, ujarnya.
“Maka dengan demikian, seluruh anggota TNI Yonif 330 yang sedang beroperasi di seluruh Intan Jaya untuk segera ditarik kembali ke Jakarta. Sebab, TNI telah melakukan banyak penembakan terhadap warga sipil di Intan Jaya terutama anak-anak sekolah yang masih berusia belasan tahun hingga lansia. Ada yang ditembak mati dan ada yang masih hidup hingga sekarang seperti yang dialami oleh Mainus Bagubau yang mengalami luka tembak di Kampung Jalai pada tahun 2020 lalu dan masih banyak kasus lainnya,” katanya.
Maiseni mengatakan, apabila ada masalah saat pemilihan umum di Intan Jaya mengapa TNI yang mengambil alih fungsi Polri, hingga melakukan penembakan terhadap Selli Maiseni dan Mikalon Yoani.
“TNI mereka datang bukan untuk mengamankan Pemilu, tetapi membunuh masyarakat sipil yang tidak tahu apa- apa,” katanya.
Sementara itu, Kepala Distrik Sugapa, Misael Sondegau, membenarkan adanya penembakan terhadap tiga warga sipil di Intan Jaya.
Dia mengatakan, lokasi kejadian terjadi di Watapa, Kampung Titigi, Distrik Sugapa Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah, Rabu, 28 Februari 2024 sekitar pukul 22:25 malam.
“Benar bahwa ada warga sipil atas nama Makelon Hagisimijau (15) Selli Maiseni (17) terkena luka tembak, saat dari Watapa mereka hendak ke Titigi namun di pertengahan jalan mereka terkena luka tembak, dan sementara ini mereka sedang dirawat oleh keluarga di Watapa, Titigi Distrik Sugapa,” katanya.
Namun Zondegau mengatakan, dirinya belum mengetahui siapa pelaku penembak, karena kejadian ini terjadi jaraknya jauh dari Sugapa.
“Saya belum bisa memastikan pelaku penembak dua warga sipil itu karena jaraknya jauh dari Sugapa,” katanya.
Sementara itu pada tanggal 2 Maret 2024 saat warga hendak menghadiri rapat pleno kemudian terjadi kekacauan dan aparat keamanan mengeluarkan tembakan dan terkena salah satu warga sipil atas nama Nelson Sani terkena luka tembak di Kampung Mamba distrik Sugapa Ibu Kota Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah.
“Nelson Sani kemudian dilarikan dari Sugapa ke Timika, ia meninggal dunia di dalam pesawat dan mayatnya dibawa dari Timika ke Nabire dan sementara ini jenazahnya disemayamkan di Nabire ,” katanya.
Ketika dihubungi oleh tim medialiterasi.id, Hengki Sani selaku sodara Nelson Sani, mengatakan situasi di Intan Jaya saat ini masih tegang TPNPB dan TNI masih siaga satu. [Mogouda Yeimo]







