Home / ACEH / BERANDA / BERITA

Sabtu, 5 September 2026 - 10:25 WIB

Tiga Kali Ganti Bupati, Tiga Kali Ganti Camat, Jalan Rusak di Idi Tunong Tak Kunjung Perbaiki

Medialiterasi.id | Aceh Timur — Sejak 2018, masyarakat Kecamatan Idi Tunong, Kabupaten Aceh Timur, sudah melewati tiga fase kepemimpinan bupati dan tiga periode camat. Namun satu hal yang tak berubah: jalan rusak yang setiap hari mereka lewati.

Keluhan yang sama terus muncul dari 2023, kembali disuarakan pada 2025, hingga 2026 kondisi jalan itu masih menjadi persoalan utama warga.

“Jalan yang Sama, Lubang yang Sama”

Ketua DPC Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia (AWPI) Aceh Timur, Nana Supriatna atau Nana Thama, menyoroti persoalan ini. Ia menyebut pergantian kepemimpinan daerah maupun kecamatan belum memberi dampak nyata bagi masyarakat Idi Tunong.

“Kalau kita lihat perjalanan sejak 2018, sudah beberapa fase pemerintahan daerah berganti, di tingkat kecamatan juga sudah tiga periode camat. Tetapi masyarakat Idi Tunong masih berbicara tentang jalan yang sama, lubang yang sama, bahkan persoalan kecelakaan akibat kondisi jalan juga masih terjadi,” ujar Nana, Jumat (4/9/2026).

Baca Juga  Dugaan Pemalsuan Grant Sultan, Pemilik Lahan Laporkan 15 Orang ke Polda Sumut

Menurutnya, persoalan ini bukan hal baru. Keluhan warga sudah disampaikan dan diberitakan berulang kali.

“Artinya, ini bukan persoalan tidak diketahui. Sudah disampaikan, sudah diberitakan, sudah menjadi keluhan masyarakat bertahun-tahun. Lalu apa yang sebenarnya kurang?” kritiknya.

Stop Jadikan Warga Penerima Janji

Nana menilai pemerintah harus berhenti menjadikan masyarakat sebagai penerima janji pembangunan tanpa kepastian.

“Jangan sampai Idi Tunong hanya menjadi tempat obral janji penguasa. Setiap berganti pemerintahan, masyarakat mendengar harapan baru. Setiap berganti camat, persoalan kembali disampaikan. Tetapi kalau jalan tetap seperti ini, masyarakat tentu bertanya, kapan janjinya menjadi kenyataan?” tegasnya.

Ia juga mengingatkan aspek keselamatan. Jalan rusak bukan hanya membuat perjalanan tidak nyaman, tetapi rawan kecelakaan.

Baca Juga  Komjen Pol. Dharma Pongrekun Tolak Penyebaran Nyamuk Wolbachia

“Jangan tunggu sampai semakin banyak korban baru kemudian jalan ini dianggap penting. Keselamatan masyarakat tidak boleh menunggu momentum politik,” ujarnya.

Warga Hanya Minta Jalan Layak

Nana menegaskan, tuntutan warga Idi Tunong sangat sederhana.

“Masyarakat tidak meminta jalan tol. Mereka hanya ingin jalan yang layak, aman dan bisa digunakan tanpa harus setiap hari menghindari lubang,” katanya.

“Tiga fase pemerintahan daerah, tiga periode camat, tetapi kalau jalan tetap rusak, apa yang sebenarnya berubah bagi masyarakat Idi Tunong?” tanyanya.

Kini warga menunggu apakah kepemimpinan baru di 2026 akan membawa perubahan. Bagi masyarakat, pejabat boleh berganti, tetapi penderitaan karena jalan rusak jangan sampai tetap sama.

“Masyarakat sudah terlalu lama mendengar janji. Sekarang mereka menunggu bukti,” pungkas Nana. (*)

Share :

Baca Juga

Wisuda 227 Lulusan, UIA Berikan Apresiasi Prodi Unggul Hadiah Umrah

BERITA

Penguatan Mutu Menuju 2030, UIA Gelar Wisuda Angkatan XXXVIII di Kampus Paya Lipah

ACEH

LITERASI BENCANA: Hampir Setahun Berlalu, 222 Ribu Jiwa di Aceh Timur Masih Menanti Jadup dan Isi Hunian di Tahap 10

ACEH

ABEH UBEE ABEH: Slogan Persiraja yang Harus Dibuktikan di Atas Lapangan, Bukan Sekadar Tulisan

BUDAYA

Kritik Budaya Literasi Semu, Teuku Muhammad Jamil Ajak Ubah Kebiasaan Berbagi Tautan Jadi Berbagi Pemahaman

BERITA

DPN Indonesia dan Pagar Nusa Siapkan 2.000 Beasiswa PKPA bagi Kader Sarjana Hukum

BERITA

Direktur PMMU Lepas Tiga Alumni untuk Lanjutkan Studi ke Universitas Al-Azhar Mesir

BERITA

Polri Ajak Masyarakat Waspadai Modus Penipuan Online, Jaga Keamanan Digital

BERANDA

Data Terbaru BPBD: Kerusakan Gempa Bogor M 4,1 Melonjak dari 17 Jadi 253 Rumah