Aku Pernah Muda di Dalam Sunyi: Catatan Seorang Pengembara Belantara Aceh di Masa Konflik
MEDIALITERASI.ID | IDI, ACEH TIMUR – Ada masa dalam hidup seseorang ketika usia tidak lagi dihitung dari angka, melainkan dari seberapa jauh ia berjalan menembus sunyi. Bagi lelaki yang menamakan dirinya Si Pengembara Belantara, masa itu adalah tahun 2000 hingga 2004.
Tahun 2000, saat usianya baru saja meranjak dewasa, ia memilih jalan yang tak pernah dibayangkan anak muda seusianya. Ia meninggalkan jalan kampung di Aceh dan masuk semakin jauh ke dalam belantara.
Di sana, hidup tak lagi tentang sekolah, permainan masa muda, atau mimpi-mimpi sederhana. Hari-harinya adalah perjalanan panjang di tengah rimbunnya hutan Aceh, bersama pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sebuah masa yang ia kenang sebagai pelajaran bertahan hidup paling jujur.
“Hutan mengajarkanku membaca arah dari lumut di batang pohon, mengenali hujan dari perubahan angin, dan tidur beralaskan tanah dengan suara serangga sebagai pengantar malam,” tulisnya dalam catatan yang diterima http://Medialiterasi.id.
Sepucuk senjata selalu menjadi bagian dari perjalanan. Namun, semakin lama ia berjalan, semakin ia memahami satu hal: bukan senjata yang membuat seseorang kuat.
“Yang membuat kita kuat adalah kemampuan untuk tetap menjadi manusia ketika keadaan memaksamu menjadi keras,” kenangnya.
Empat Tahun di Antara Kabut dan Kehilangan
Empat tahun adalah waktu yang lama untuk seorang anak muda.
Di antara pepohonan tua, kabut pagi yang tebal, sungai kecil yang jernih, dan jalan setapak yang nyaris tak terlihat, ia tumbuh. Bukan lagi sebagai pemuda, melainkan sebagai lelaki yang matang sebelum waktunya.
Banyak wajah datang dan pergi. Ada tawa yang sempat singgah, ada persahabatan yang menguat di bawah hujan. Ada pula wajah-wajah yang tidak pernah kembali. Ada yang memilih pulang ketika kesempatan itu akhirnya datang.
Hutan rimba Aceh pada masa itu bukan sekadar tempat bersembunyi. Ia adalah rumah, sekolah, sekaligus saksi bisu. Ia menyimpan ketakutan, air mata, rindu pada kampung halaman, dan doa-doa yang dipanjatkan dalam diam.
2004: Tahun untuk Pulang
Tahun 2004 menjadi titik balik.
Ketika angin perubahan mulai berembus dan jalan menuju perdamaian mulai terbuka setelah bertahun-tahun konflik berkepanjangan yang disusul tragedi tsunami, ia berdiri di tepi hutan untuk terakhir kalinya.
Ia menatap rimba yang selama bertahun-tahun menjadi rumahnya. Rimba yang pernah menyimpan masa mudanya.
Ia kemudian melangkah keluar.
“Bukan sebagai pemenang. Bukan pula sebagai orang yang kalah. Saya pulang sebagai seseorang yang telah kehilangan sebagian masa muda, tetapi membawa pulang pelajaran yang tidak pernah bisa diajarkan oleh sekolah mana pun,” tulisnya.
Dan hingga kini, setiap kali aroma tanah basah tercium setelah hujan, ingatannya selalu kembali kepada satu kalimat yang ia pegang hingga hari ini:
“Aku pernah muda di dalam sunyi. Hutan mengajarkanku bertahan, waktu mengajarkanku memahami, dan perdamaian mengajarkanku pulang.”
Si Pengembara Belantara Aceh, 2000 – 2004
Catatan ini bukan untuk membuka luka lama. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap konflik, ada manusia-manusia muda yang dipaksa dewasa oleh keadaan. Dan bahwa perdamaian selalu menjadi jalan pulang terbaik.
Hanya sebatas kenangan yang tidak dapat terlupakan.
Penulis Catatan: Si Pengembara Belantara
Editor: Ayahdidien sck
Foto: Ilustrasi / Dok. Pribadi
Catatan Redaksi: Tulisan ini adalah catatan personal / memoar penulis dalam bentuk feature. Redaksi Medialiterasi.id tidak mengubah substansi nilai historis dan memandang tulisan ini sebagai bagian dari dokumentasi sosial perjalanan perdamaian Aceh.







