Keterangan Foto: Ilustrasi Situs Lamuri di Lam Reh, Krueng Raya, Aceh Besar. Benteng batu kuno yang menghadap ke Selat Malaka dan nisan Islam berukir kaligrafi Arab. Ilustrasi: MEDIALITERASI.ID
Oleh: MEDIALITERASI.ID – Mencerdaskan Bangsa & Meliterasikan Nusantara
KRUENG RAYA, ACEH BESAR – Sebelum Majapahit berdiri, sebelum Samudera Pasai dikenal, dunia sudah mengenal sebuah kerajaan di ujung utara Sumatera. Namanya Lamuri.
Bagi sebagian orang Aceh, nama ini mungkin terdengar asing. Padahal, tanpa Lamuri, tidak akan ada Kesultanan Aceh Darussalam yang pernah menjadi kekuatan besar di Asia Tenggara.
1. Lamuri: Kerajaan yang Dicatat Dunia
Lamuri berpusat di Lam Reh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, tepat di tepi Selat Malaka. Lokasinya yang strategis membuat Lamuri menjadi persinggahan pertama bagi pedagang dan pendakwah yang datang dari barat.
Saking terkenalnya, setiap bangsa menyebutnya dengan nama yang berbeda-beda:
– Orang Arab menyebutnya Ramni / Rami
– Orang Cina menyebutnya Lan-wu-li / Lam-li, dicatat oleh Zhao Rugua tahun 1225
– Orang Jawa menyebutnya Lamuri, dicatat dalam Nagarakertagama tahun 1365
– Marco Polo menyebutnya Lambri, yang terkenal dengan kapur barus dan rempah-rempah
Semua nama itu merujuk pada satu kerajaan yang sama: Lamuri.
Penulis Portugis Tomé Pires dalam buku Suma Oriental (1512-1515) mencatat, Lamuri terletak di antara Kesultanan Aceh Darussalam dan wilayah Biheue, membentang dari pantai hingga pedalaman.
2. 600 Tahun Lebih Tua Dari Aceh Darussalam
Lamuri diperkirakan berdiri sejak sekitar tahun 800 Masehi. Artinya, ketika Kesultanan Aceh Darussalam baru lahir pada tahun 1496-1513, Lamuri sudah berusia lebih dari 600 tahun.
Pada tahun 943 M, Lamuri sempat tunduk di bawah kekuasaan Sriwijaya. Namun Lamuri tetap bertahan sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam.
H. M. Zainuddin dalam buku Tarikh Aceh dan Nusantara menyebutkan, orang Aceh sendiri menyebutnya dengan nama asli: Lam Muri.
3. Dari Hindu-Buddha Menjadi Islam
Awalnya, Lamuri adalah kerajaan bercorak Hindu-Buddha, seperti Indrapatra dan Indrapuri di sekitarnya.
Transformasi besar terjadi secara bertahap:
754 M – Maharaja Lam Teuba menerima Islam dari seorang pendakwah Arab. Islam beraliran Syiah berkembang di Lamuri selama lebih dari 450 tahun, hingga masa Maharani Putroe Ti Seuno, raja ke-18 Dinasti Po Liong.
1205 M – Putroe Ti Seuno menikah dengan Johan Syah, yang kemudian menjadi Sultan Alaiddin Johan Syah. Inilah penguasa pertama Lamuri yang bermazhab Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Dinasti Alaiddin yang ia dirikan inilah yang menjadi cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam.
Menurut Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Prof. Husaini, dalam pengukuhan Guru Besar 13 November 2024, Lamuri dipimpin oleh tiga dinasti utama: Dinasti Manteue, Dinasti Po Liong, dan Dinasti Alaiddin.
4. Bukti Arkeologi: Bukan Dongeng
Lamuri bukan sekadar cerita hikayat. Bukti fisiknya masih ada di Lam Reh hingga hari ini:
– Benteng batu kuno yang menghadap ke laut, persis seperti yang didokumentasikan tim Odyssey Aceh 360+ dalam video penelusuran mereka di Lamuri, Oktober 2026.
– Nisan Islam tahun 398 H / 1007 M, yang ditemukan dalam penelitian arkeologi tahun 2007. Ini adalah nisan Islam tertua di Asia Tenggara.
– Nisan Sultan Sulaiman bin Abdullah (wafat 1211), penguasa pertama di Indonesia yang diketahui menyandang gelar “Sultan”.
– Keramik Vietnam abad 14-15, mangkuk, dan gerabah di Bukit Lamreh, yang membuktikan Lamuri adalah pelabuhan internasional.
Prof. Husaini menegaskan:
“Situs Kerajaan Lamuri di Lamreh, Krueng Raya, Aceh Besar, diyakini sebagai pusat Islam pertama di Nusantara karena posisinya yang strategis di jalur perdagangan Selat Malaka.”
5. Bagaimana Lamuri Menjadi Aceh Darussalam?
Ini pertanyaan yang paling sering ditanyakan: Apakah Lamuri berubah nama menjadi Aceh Darussalam?
Jawabannya: Tidak berubah nama, tapi bersatu.
Pada tahun 1513 M, Lamuri bersatu dengan 7 kerajaan lain – Pase, Daya, Lingga, Pedir (Pidie), Perlak, Benua Tamiang, dan Samudera Pasai – menjadi Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kekuasaan Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M).
Secara silsilah, Sultan Ali Mughayat Syah adalah keturunan langsung raja-raja Lamuri: Sultan Muhammad Syah – Sultan Munawwar Syah – Sultan Syamsu Syah – Sultan Ali Mughayat Syah.
Dalam Hikayat Atjeh, kisah ini diceritakan dengan versi yang lebih romantis: Maharaja Lamuri diserang, lalu dibantu oleh Meurah Johan. Meurah Johan menikah dengan Putroe Ti Seuno, dan dari pernikahan inilah lahir Kesultanan Aceh Darussalam di Gampong Pande.
Artinya, Aceh Darussalam adalah gabungan 8 kerajaan, dan Lamuri adalah salah satu fondasi yang paling tua dan paling penting.
6. Kenapa Kita Harus Ingat Lamuri?
Hari ini, yang tersisa dari Lamuri hanyalah benteng, makam-makam tua, dan cerita yang terpecah-pecah. Seperti kata tim Odyssey Aceh 360+ dalam video mereka: “Sulit membayangkan kejayaannya dulu, ketika pedagang Arab, India, Cina, dan Eropa semua mengenalnya.”
Padahal, untuk memahami Aceh, kita harus memahami Lamuri terlebih dahulu.
Lamuri mengajarkan kita tiga hal:
Pertama, Aceh sudah menjadi pusat dunia jauh sebelum Indonesia ada. Aceh bukan pinggiran, Aceh adalah gerbang dunia.
Kedua, Islam di Nusantara tidak datang tiba-tiba. Ia datang melalui Lamuri, melalui pelabuhan, melalui perdagangan, dan melalui pernikahan.
Ketiga, Aceh Darussalam yang besar itu lahir dari persatuan, bukan dari satu kerajaan saja. Lamuri, Pasai, Pedir, Daya, semua bersatu menjadi satu.
Penutup: PR Kita Bersama
Situs Lamuri di Lam Reh hari ini masih membutuhkan perhatian. Bentengnya mulai terkikis, nisannya mulai rusak, dan banyak generasi muda Aceh yang belum pernah mendengar nama Lamuri.
Padahal, Lamuri adalah bukti bahwa Aceh adalah bangsa yang besar, bangsa pelaut, bangsa pedagang, dan bangsa yang pertama menerima Islam di Nusantara.
Jangan sampai kita bangga dengan Aceh Darussalam, tapi lupa dengan Lamuri yang melahirkannya.
Seperti kata pepatah Aceh: Untuk memahami Aceh, pahami dulu Lamuri.
Sumber & Referensi:
1. Prof. Husaini, Guru Besar USK – Sidang Pengukuhan Guru Besar, 13 November 2024
2. H. M. Zainuddin, Tarikh Aceh dan Nusantara
3. T. Iskandar, De Hikayat Atjeh (1958)
4. Zhao Rugua (1225), Nagarakertagama (1365), Tomé Pires, _Suma Oriental_ (1512-1515)
5. Video Dokumenter: Odyssey Aceh 360+ – “Kerajaan Lamuri”, Oktober 2026
6. Penelitian Arkeologi Lamreh, Aceh Besar, 2007
Editor: MEDIALITERASI.ID
www.medialiterasi.id | SCK 101,7 FM







