
Penulis : Siti Nurhidayah, S.Pd, M.Sc (Bunda Dayah)
Setiap orang tua pasti menginginkan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Harapan besar ini kemudian diwujudkan dengan upaya mencari sekolah yang sesuai dengan yang diharapkan. Namun sayangnya pada kenyataannya banyak sekolah justru gagal memenuhi harapan para orangtua tersebut. Jika dicermati, bahwa grand design persekolahan kita saat ini tidak banyak berubah sejak pertama sekali sekolah didirikan pada zaman Hindia Belanda lebih kurang 200 tahun yang lalu. Pada saat itu sekolah hadir untuk menyiapkan pegawai bagi pemerintah pada masa penjejahan. Hal menarik justru perjuangan KH. Ahmad Dahlan di Jogjakarta dan Teuku Syafi’i di Padang yang mendirikan sekolah sebagai upaya belajar mandiri dan merdeka untuk melawan grand design sang penjajah.
Mirisnya sekolah hari ini justru menghilangkan proses belajar, murid cenderung dibuat sistem berfikir instan dan ingin cepat mendapatkan hasil tanpa melewati proses belajar. Padahal pada saat dunia sebelum ada sekolah diciptakan, belajar adalah bagian menyatu dari kehidupan sehari-hari dan pekerjaan yang dilakukan masyarakat saat itu. Belajar dan bekerja menjadi beriringan, bahkan belajar dimaksudkan untuk memperbaiki cara bekerja masyarakat. Bukan malah bersekolah secara terus-menerus hingga kuliah dan setelah tamat baru pusing mencari pekerjaan.
Walhasil, ketika memasuki dunia kerja, banyak sekali yang tidak siap menghadapi berbagai tantangan, timbul tekanan karena tidak sesuai dengan teori yang dipelajari di sekolah dan minim praktek sehingga kinerja buruk dan minim capaian.
Belajar di sekolah idealnya sebagai sebuah proses mengenal potensi diri, bukan sebatas tempat guru mengajar murid sedangkan murid kurang diberi kesempatan mengalami proses baca, praktek, tulis dan berbicara. Sehingga budaya membaca kita sangat terbelakang, skill berbicara mandeg, sulit menyelesaikan masalah serta budaya menulis sangat ketinggalan. Para murid menjadi tidak mengenal potensi, minat dan bakat dirinya sendiri dan hanya mengikuti apa yang ada di kurikulum tanpa tahu apa yang harus mereka pilih dan tentukan karirnya pada masa depan.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan sejatinya hadir untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan manusia. Kebutuhan dasar itu setidaknya membuat lulusan mengenal potensi terbaiknya untuk memilih jalur karir yang tepat, apakah jalur akademik, jalur professional ataupun jalur entrepreneurship. Sehingga pendidikan merupakan proses penyiapan main power agar bertemu relevansi pendidikan dengan pendayagunaan tenaga manusia bagi pengembangan diri pribadinya.
Menurut Educational Psychologist dari Integrity Development Flexibility (IDF) Irene Guntur, M.Psi., Psi., CGA, sebanyak 87 persen mahasiswa di Indonesia salah jurusan. Fenomena salah jurusan ini salah satu penyebabnya adalah belum banyak sekolah yang berbasis minat dan bakat. Hal ini secara berkelanjutan bisa memicu kebingungan memilih jurusan dan pada akhirnya berdampak pada salah memilih karir bahkan parahnya bertambahnya angka pengangguran.
Mengapa Penting Sekolah Ramah Bakat Anak?
Setiap anak terlahir unik. Sifat bawaan unik ini terkait dengan personality yang melekat pada dirinya dan menjadi karakter kinerja. Nah, personality yang produktif ini yang disebut dengan bakat atau talents. Bakat merupakan salah satu fitrah yang telah Allah SWT berikan pada setiap manusia yang merupakan potensi yang sangat terkait dengan misi hidup spesifik dan peran peradaban spesifik seseorang di muka bumi. Inilah yang kita sebut dengan panggilan hidup. Seseorang akan mengenali peran spesifiknya itu ketika telah melalui proses pendidikan yang tepat. Salah satu upayanya ada sekolah ramah minat dan bakat anak. Mendidik murid untuk siap menghadapi zamannya masing-masing agar tidak tertinggal. Anak-anak generasi ke depan akan menjadi pahlawan pada zamannya meskipun sekecil apapun peran spesifiknya.
Pengembangan potensi terbaik anak tidak lagi melabel negatif yang disematkan pada mereka. Sudah saatnya para pendidik berhenti melihat kelemahan murid atau sisi gelapnya. Fokuslah pada sisi terang dan cahaya potensi mereka. Keistimewaan dan kehebatan murid hanya dapat terlihat ketika mereka diberi kesempatan melakukan sesuatu yang mereka mampu. Sebaliknya ketika mereka belum terlihat hebat, boleh jadi mereka tidak mampu di bidang tersebut. Tugas pendidik lah yang mendampingi dan menemani mereka menemukan jalan hebat mereka.
Indikator Sekolah Ramah Bakat Anak
Orang-orang sukses idealnya menjalani perannya dengan bahagia, karena mereka menjalaninya sesuai dengan potensi terbaiknya. Lalu bagaimana dengan murid di sekolah? Keistimewaan dan kehebatan murid akan terlihat ketika mereka melakukan sesuatu yang mereka mampu lakukan dengan penuh kebahagiaan. Jadi bukan hanya diukur dari capaian kompetensi semata, namun juga diukur dengan seberapa mereka suka, nyaman dan bahagia melakukannya.
Lalu bagaimana sekolah berperan untuk menumbuhkan hal tersebut?
Menurut Abah Rama Royani, penemu Talents Mapping yang mengembangkan dari riset yang dibuat oleh Donald O. Clifton dari Gallup, bahwa ciri-ciri bakat itu empat, yaitu Easy, Enjoy, Excellent dan Earn. Pendidikan yang berorientasi pada minat dan bakat dapat menjadikan empat ciri-ciri ini untuk menyusun program pendidikan.
Penting sekali bagi setiap guru mengetahui aktivitas mana yang menjadi bakat murid atau tidak. Ciri-cirinya sebagai berikut;
Pertama, adalah anak menjalani kegiatan dengan semangat. Pernahkah kita melihat anak yang wajahnya sangat bersemangat ketika melakukan sesuatu? Biasanya akan terlihat ciri matanya berbinar, tertawa penuh kegembiraan, mereka tenggelam dengan keasyikannya dan selalu mengatakan di akhir kegiatan “aaah… kok sudah selesai…?”
Kedua, anak mengulangi kegiatan tanpa diminta. Keinginan anak mengulangi kegiatan yang sama menandakan bahwa mereka berminat dan boleh jadi adalah bakatnya kelak. Penting sekali memfasilitasi anak dengan beragam dan bervariasi aktivitas produktif. Apalagi generasi saat ini lebih memilih aktivitas bidang dan bukan hanya akademis. Kemudian dapat dipilih tiga atau empat aktivitas yang prioritas dan didampingi dengan pembekalan pengetahuan dan penguatan skillnya. Aktivitas yang berkelanjutan dan konsisten akan menumbuhkan minat dan bakat mereka semakin teruji. Dalam waktu tertentu akan kita lihat bagaimana mereka memainkan peran produktif mereka. Inilah yang kemudian menjadi peran spesifik mereka yang sering kita sebut dengan panggilan hidup dalam mewujudkan peradaban.
Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan nasional yang tercatat di dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 yaitu, “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Output pendidikan nantinya akan dapat dirasakan manfaatnya pada kehidupan generasi mendatang. Meskipun tidak ada yang dapat memprediksi dengan tepat, namun setidaknya mereka dapat menghadapi setiap situasi kehidupannya kelak. Sejatinya pendidikan berorientasi pada mengubah pola pikir manusia untuk mempersiapkan dirinya menyelesaikan permasalahan dan tantangan hidupnya.







