Medialiterasi.id | Aceh Timur – Di tengah terik matahari yang menyengat, sebuah mobil kecil berwarna hitam melaju perlahan di jalanan yang rusak. Mobil itu bukanlah ambulan tapi sebuah Toyota Agya tua yang dikemudikan oleh Santi Salwati, seorang perempuan paruh baya dengan tekad baja untuk membantu warga.
Santi bukan sopir ambulans resmi, namun dirinya merupakan relawan Persatuan Aceh Serantau (PAS) di Aceh Timur. Dengan menggunakan mobil tuanya Santi sigap untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Meski tak jarang harus mengeluarkan anggaran pribadinya sendiri untuk mengisi bahan Bakar Minyak (BBM).
“Selama masih bisa jalan, mobil ini adalah ambulans bagi mereka yang butuh pertolongan,” ucapnya dengan suara bergetar.
Santi telah melakukan ini selama bertahun-tahun, dan ia tak pernah berpikir untuk berhenti. Bagi Santi, menjadi harapan bagi orang lain adalah alasan ia bertahan.
“Saya tidak punya sirine, tidak ada lampu rotator. Hanya klakson dan doa yang saya punya. Tapi bagi saya, ini cukup. Selama saya bisa membantu, saya akan terus melakukannya,” tegasnya.
Santi telah membantu banyak orang dengan mobil tuanya, dan ia tak pernah mengharapkan imbalan.
“Tak ada gaji besar, tak ada pujian, hanya rasa lega setiap kali pasien tiba dengan selamat,” katanya.
Bagi dunia, Santi mungkin hanya seorang perempuan dengan mobil tua. Tapi bagi mereka yang pernah ia bantu, ia bagaikan malaikat tanpa sayap. Melihat kegigihan Santi, banyak yang bertanya-tanya, sampai kapan mobil tuanya mampu bertahan? Di tengah keterbatasan, semangatnya tak pernah pudar. Mungkin suatu saat, tangan-tangan peduli akan menyentuhnya. Sebab di balik kemudi mobil hitam itu, ada seorang perempuan yang terus berjuang demi kemanusiaan. [EQ]







