Home / OPINI

Senin, 9 Januari 2023 - 02:56 WIB

Rakyat Menanti, 2024 Indonesia di Tangan Siapa

Oleh Assoc. Prof. Dr. T.M. Jamil, M.SiA kademisi – USK Banda Aceh.

INDONESIA hari ini, semakin menarik untuk dilirik, bagaikan seorang gadis cantik yang akan dipersunting oleh seorang Perjaka untuk dijadikan “isterinya” tercinta. Perjaka itulah yang akan kita sebut sebagai Kepala Rumah Tangga atau Pemimpin Indonesia masa depan.

PEMIMPIN itu tidak pernah hadir dengan sendirinya, tetapi dia perlu dan harus dihadirkan. Artinya, setiap pemimpin itu lahir dengan “rekayasa” atau perencanaan yang matang. Ada pihak-pihak yang “merekayasa” untuk menyiapkan calon pemimpin itu.

Kaum Aktivis dan kelompok oligarki biasanya punya calon yang berbeda. Keduanya berkompetisi di dua kubu yang berseberangan. Aktivis calonkan tokoh idealis, sementara oligarki calonkan tokoh pragmatis. Biasanya, calon oligarki yang acap kali menang. Karena oligarki memiliki syarat (terutama) berkaitan dengan logistik untuk meraih kemenangan. Tentu, tidak selama juga begitu.

Kecuali, jika terjadi “kudeta.” Kelompok idealis yang pasti menang. Setelah itu, oligarki berkuasa lagi. Aktivis kalah pengalaman dan kalah logistik. Oligarki, dengan pengalaman, jaringan dan uangnya, seringkali berhasil membeli aktivis. Tidak sedikit aktivis yang “melacurkan diri” atau korban idealisme. Tak kuat untuk menghadapi kemiskinannya.

Banyak tokoh-tokoh besar di negeri ini yang dipandang mampu dan mumpuni untuk menjadi pemimpin. Tapi, mereka tidak memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin. Mengapa?

Pertama, mereka tidak populer dan elektabilitasnya rendah. Dalam sistem demokrasi, elektabilitas menjadi gerbang utama bagi seseorang untuk dicalonkan. Untuk mendapatkan elektabilitas tinggi, pinter dan bermoral tidak cukup. Malah, hal-hal sederhana seperti rajin jual senyum dan datang ke selokan itu efektif untuk menaikkan elektabilitas. Tak perlu pinter. Inilah cara demokrasi berjalan.

Kedua, faktor logistik. Siapa yang punya duit bisa “beli” partai untuk nyapres. Banyak pengusaha menjadi ketua umum partai. Para pengusaha butuh partai, dan partai butuh pengusaha untuk menyiapkan dana operasional partai. Sebagian pengusaha turun langsung untuk memimpin partai, sebagian lainnya lebih suka mengendalikan partai dari belakang panggung.

Baca Juga  HANCURNYA PERADABAN KETIKA AKADEMISI MENGGADAIKAN ILMUNYA PADA KEKUASAAN

Di sisi lain, orang-orang pintar, terutama yang punya latarbelakang akademik, pada umumnya kaya ide, namun miskin harta. Mana ada ilmuan dan dosen atau akademis kaya? Kecuali bertimbun project dari pemerintah. Maka, nyapres seringkali menjadi mimpi dan khayalan bagi para akademisi.

Tahun 2024, para tokoh yang punya peluang maju sebagai capres bukan ilmuwan dan akademisi. Mengecualikan Anies Baswedan, seorang akademisi dan mantan rektor Paramadina.

Secara urutan, yang berpeluang nyapres adalah Puan Maharani, Prabowo Subianto, Airlangga Hartarto, Anies Rasyid Baswedan dan Ganjar Pranowo. Tiga atau empat dari lima tokoh ini kemungkinan akan bersaing dalam Pilpres 2024.

Puan Maharani bisa maju sendiri dengan tiket PDIP. Kemungkinan capres, dan boleh jadi cawapres. Untuk Puan, tiket sudah di tangan. PDIP punya 128 kursi.

Prabowo Subianto, Ketum Gerindra ini hanya butuh satu partai tambahan. Kemungkinan Gerindra-PKB akan mengusung Prabowo-Muhaimin Iskandar. Gerindra 12,57 persen dan PKB 9,69 persen. Cukup! Keduanya dihadapkan pada situasi saling membutuhkan. Tidak mudah bagi Gerindra untuk mendapatkan partner selain PKB. Pasangan Prabowo-Muhaimin kabarnya juga mendapatkan dukungan dari istana. Kemana arah permainan istana dengan dukung Prabowo-Muhaimin? Apakah untuk mencegah PKB agar tidak bergabung ke PDIP? Atau untuk bersaing dengan Anies Baswedan? Mengingat ceruk Prabowo dan Anies beririsan.

Sama dengan Prabowo, Airlangga sebagai ketum Golkar (12,31 persen) hanya butuh satu partai tambahan. Kabarnya, Airlangga akan berpasangan dengan Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN. Namun, Golkar-PAN belum cukup. Golkar 12,31 persen dan PAN 6,84 persen. Maka, butuh PPP untuk ikut mendukung. PPP punya 4,52 persen.

Baca Juga  Wahai Anak Bangsaku: Jangan Biarkan Hari Ini Mualem Meneteskan Air Mata

Majunya Zulkifli ini memang berisiko secara elektoral jika Anies Baswedan juga maju di Pilpres. Pasalnya, kader dan konstituen PAN cenderung mendukung Anies Baswedan.

Di sisi lain, Anies Baswedan, dengan elektabilitas di papan atas sedang berjuang untuk mendapatkan tiket maju (Meski saat ini telah di capreskan oleh Partai Nasdem). Ya, Ada tiga partai yang kemungkinan akan memberi tiket kepada Anies yaitu Nasdem (9,05 persen), PKS (8,21 persen) dan Demokrat (7,77 persen). Ketiga partai ini sedang mendiskusikan siapa yang akan menjadi wakil Anies. Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (ketum Demokrat), Andika Perkasa (Panglima TNI), Airlangga Hartarto (Ketum Golkar), atau Khofifah Indraparawansa (Gubernur Jawa Jatim). Tidak menutup kemungkinan Puan Maharani juga bisa dipasangkan dengan Anies Baswedan. Semua itu tergantung komunikasi politik yang dibangun antar partai.

Sementara, Ganjar Pranowo terancam tidak mendapatkan tiket, jika tidak punya nyali untuk melawan ketua Umum PDIP. Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yaitu Golkar, PAN dan PPP kabarnya siap menyediakan tiket untuk pasangan Ganjar-Airlangga. Dengan catatan, Ganjar berani nyebrang dari PDIP dan melawan Megawati. Sebab, kecil kemungkinan Ganjar diusung sebagai capres PDIP. Mengapa? Karena Ganjar “dianggap” ancaman bagi posisi ketua umum PDIP jika berkuasa.

Di antara lima tokoh tersebut, yaitu Puan Maharani, Prabowo Subianto, Airlangga Hartarto, Ganjar Pranowo dan Anies Rasyid Baswedan, siapa yang paling bisa diharapkan untuk membawa masa depan Indonesia tahun 2024 yang lebih baik? Rekam jejak siapa di antara lima tokoh tersebut yang bisa memberi ekspektasi buat masa depan bangsa?
Sebagai Rakyat, kita hanya bisa menanti ‘permainan” dibalik tirai dan jendela kaca para aktor politik. Semoga tirai dan jendela kaca tersebut bisa segera terbuka di Awal Pekan Minggu Kedua, Januari 2023.

Share :

Baca Juga

OPINI

Amnesia Sejarah dan Kesalahan Memahami Aceh

OPINI

Haul Ke-30 Abu Budi: Menjaga Warisan Guru, Merawat Tradisi Keilmuan Dayah

OPINI

1 Muharam dan Krisis Kesadaran Waktu di Era Digital

ACEH

Blok Andaman dan Kesempatan Emas Aceh Menjadi Hub Energi Asia Tenggara

ACEH

MENAGIH JANJI MoU HELSINKI DAN UUPA: Jangan Sampai South Andaman Menjadi Arun Jilid II

EDUKASI

UIN SUNA 57 Tahun: Kampus Peradaban untuk Generasi Hebat

OPINI

Polemik IUP di Aceh: Jangan Terjebak pada Angka, Perkuat Tata Kelola

BERANDA

Banjir-Longsor Aceh Dinilai “Bencana Terstruktur”: Desakan Evaluasi Izin HPH, Tambang, dan HGU di Kawasan Lindung