
Medialiterasi.id | Aceh Utara – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, ratusan warga terdampak banjir di Kecamatan Langkahan masih bertahan di tenda darurat dan rumah kerabat. Hunian sementara (huntara) yang disiapkan pemerintah dinilai belum layak ditempati karena pembangunan fisik serta fasilitas dasar belum sepenuhnya rampung.
Di Gampong Kreung Lingka, dari total 120 unit huntara yang ditargetkan selesai, sebanyak 50 unit dinyatakan siap huni per Selasa (17/3/2026). Sementara itu, 70 unit lainnya masih dalam tahap pengerjaan.
Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah unit belum memasuki tahap akhir penyelesaian. Pintu dan jendela masih berupa kayu tanpa pengecatan. Pemasangan kusen dan daun pintu juga belum tuntas. Selain itu, aliran listrik belum tersedia di kawasan tersebut.
Sejumlah warga menilai kondisi itu dapat memengaruhi kenyamanan serta ketahanan bangunan apabila langsung ditempati.
Keluhan serupa disampaikan warga Gampong Rumoh Rayeuk yang berada di kecamatan yang sama. Sebagian warga mengaku diminta meninggalkan tenda darurat meski fasilitas huntara dinilai belum memadai.
Salah seorang warga terdampak yang enggan disebutkan namanya dan menggunakan inisial SB mengatakan sejumlah fasilitas dasar belum tersedia.
Menurut SB, air dari sumur bor belum mengalir ke rumah-rumah warga. Selain itu, kunci pintu belum tersedia dan sistem drainase kawasan belum selesai dibangun.
SB juga menyoroti kondisi geografis kawasan huntara yang lebih rendah dibandingkan permukaan tanah di sekitarnya.
“Kalau hujan deras, kami khawatir air bisa masuk ke rumah. Fasilitas juga belum lengkap dan penataan kawasan masih belum rapi,” ujar SB.
Warga sebelumnya telah diminta memilih unit huntara masing-masing. Namun, karena kondisi belum sepenuhnya siap, sebagian keluarga masih memilih bertahan di tenda darurat.
SB menjelaskan, sebanyak 195 unit huntara tersedia di gampong tersebut. Namun, 25 unit di antaranya tidak layak huni. Saat ini, baru 30 unit yang telah ditempati, sementara 140 unit lainnya belum dilengkapi perabotan rumah tangga dan sebagian masih dalam proses pemasangan instalasi penerangan.
“Pemindahan belum bisa maksimal karena fasilitas dasar belum terpenuhi,” papar SB pada Selasa malam (17/3/2026) kepada Media ini.
Banjir melanda gampong tersebut pada akhir Desember 2025 dan menyebabkan puluhan rumah warga terdampak. Sejak itu, sebagian warga mendirikan tenda secara swadaya sebagai tempat tinggal sementara.
Warga berharap pemerintah memastikan seluruh fasilitas dasar tersedia sebelum pemindahan dilakukan sepenuhnya.
“Kami berharap ada pengawasan agar huntara benar-benar siap dan layak ditempati,” kata SB. (Pak Nek / EQ)







