Oleh :
TM. Jamil, Dr, Drs, M.Si
Associate Professor pada Sekolah Pascasarjana USK, Banda Acehm
Dewasa ini, dunia pendidikan di negeri kita tengah menjadi sorotan. Praktis menjadi pusat perbincangan oleh berbagai macam kalangan baik oleh media, pengamat, netizen (pengguna internet) sampai masyarakat biasa. Hal yang paling positif dari semua ini adalah masyarakat kita sekarang semakin kritis dan mulai sadar dan perduli kepada dunia pendidikan kita sampai masyarakat biasa. Kita positif thinking saja.
Pendidikan adalah pilar suatu bangsa dan negara. Mengapa? Dengan pendidikan yang baik dan berkualitas, akan melahirkan generasi dengan sumberdaya manusia yang bagus dan menjadi penerus bangsa yang mandiri, berbudaya, bermanfaat dan bermartabat. Apabila pendidikannya kurang bagus, maka akan melahirkan generasi yang lemah, manja, pengeluh, pengumpat, dan sebagainya (artinya generasi yang tak berkualitas dan tak berdaya saing), sehingga hanya akan menjadi beban negara, pengangguran, bahkan perusak bangsa ini. Anehnya, malah guru pun dianggap beban negara.
Berbicara pendidikan, tak akan bisa dilepaskan dari yang namanya anggaran. Anggaran pendidikan kita adalah 20 % dari total keseluruhan APBN. Ini sebenarnya bisa terealisasi merupakan dana yang cukup besar, namun pada kenyataannya, anggaran tersebut belumlah 20% terealisasi. Dana yang terealisasi tak lebih dari 10% dari APBN (Silahkan Baca Buku : Selamatkan Indonesia, Yang Ditulis Oleh Prof. Dr. Amien Rais).
Dari dana tersebut diperuntukkan seluruh Pendidikan di Indonesia dari Sabang sampai Merauke, maka bisa dibayangkan? Pada beberapa daerah di Indonesia banyak yang masih tertinggal, terutama di Wilayah Indonesia Timur. Maka pemerataan pendidikan nampaknya masih menjadi cita-cita, sehingga tak heran hal ini menyebabkan keceburuan sosial bagi masyarakat Indonesia Timur yang melihat Jawa tampak seperti menjadi prioritas pembangunan.
Sekarang ini banyak topik mengemuka terkait dengan dunia pendidikan kita, sehingga berbagai kritik muncul menjadi media diskusi, debat yang tak kunjung selesai. Sebagai contoh adalah, Pro dan Kontra pelaksanaan Ujian Nasional (UN)! Sebagian mendukung diadakannya UN, namun tidak sedikit pula yang menolak dengan berbagai argumen atau bahkan terkesan sinis dan sentimen. Masalah lain, adalah pelaksanaan masa orientasi peserta didik baru, sebagian menghendaki dihapus, namun yang lain juga menghendaki tetap diadakan masa pengenalan itu sebagai bentuk pengenalan sekolah dan argumen lainnya, dan perdebatan yang tak kalah menghebohkan lagi adalah masalah berganti-gantinya kurikulum pendidikan di Indonesia kita ini. Adagium yang sudah biasa, ganti menteri, ganti kebijakan. Hal ini menjadi topik yang tak selesai didiskusikan oleh semua kalangan.
Berbicara pendidikan, maka tidaklah lepas dari peran serta seorang guru. Guru merupakan salah satu faktor pendukung pendidikan dari sekian banyak faktor pendukung lainnya. Pada sebuah lembaga pendidikan atau sekolah, ada yang namanya guru PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan Guru Honorer/GTT (Guru Tidak Tetap). Singkat kata, Guru PNS adalah guru yang diangkat oleh Pemerintah dan dibayar/digaji oleh Pemerintah dengan besaran gaji sesuai golongan atau pangkatnya (untuk lebih detail bisa mencari informasi dari berbagai macam sumber lain), sedangkan guru Honorer atau GTT adalah guru yang diangkat oleh Kepala Sekolah, karena kekurangan tenaga pengajar atau guru, atau memang di angkat langsung oleh Pemerintah daerah sebagai guru bantu. Besaran gaji atau bayaran GTT adalah dengan menghitung jumlah jam mengajarnya serta besarannya tergantung kebijakan keuangan dari sekolah yang bersangkutan.
Sebagai contoh, perhitungan gaji guru Honorer di Aceh pada salah satu Kabupaten … di sekolah A, misalnya Rp. 20.000/Jam mengajar. Jika dalam satu minggu ia mengajar Bahasa Inggris di setiap kelas ada 2 jam, dan jumlah kelas yang ia ajar ada 6 kelas. Maka besaran gajinya adalah 2 jam X 6 kelas X Rp. 20.000 = Rp. 240.000. itu kan untuk satu minggunya? Tidak, dalam satu minggu iya mengajar 12 jam (2 jam X 6 kelas), tapi dalam sebulan ia tetap bayar Rp. 240.000. jadi tidak dikalikan 4 minggu. Sudah paham bukan? *Dia bekerja 1 bulan, tapi dibayar dengan harga seminggu.* Nasib yang paling tragis bukan disitu, sebagai seorang Guru honorer/ GTT adalah adanya perasaan was-was atau ketakutan karena tidak ada payung hukum yang melindungi GTT/Honorer. Mengapa? Karena sebagai guru tidak tetap atau honorer, berarti ia kapanpun harus disiap dikeluarkan dari sekolah ketika sekolah mendapat suplai guru PNS dari pemerintah. Sebaliknya, untuk tugas dan kewajiban antara guru PNS ataupun Honorer/GTT adalah sama. Mereka semua guru wajib membuat perangkat lengkap untuk satu tahun, tugas dan kewajiban sama namun secara penghasilan sangatlah jauh berbeda.
Permasalahannya adalah bukan pada gaji yang hendak kita bahas, hal ini dibahas sedikit dengan sederhana agar semua tahu dan mengerti saja. Permasalahan yang akan kita angkat adalah terkait dengan tugas mendidik itu secara hakiki milik siapa sebenarnya? Tanggung jawab siapa sebenarnya? Itulah yang ingin penulis uraikan kepada pembaca, yang semoga mau sedikit membuka pikirannya untuk menerima argumen dari sudut pandangan orang lain.
Guru memanglah mempunyai tugas mendidik dan mengajar. Kedua tugas itu melekat kuat pada diri seorang guru sebagai tanggung jawab dan kewajibannya. Sebenarnya apa itu mendidik? Mendidik secara sederhana adalah proses transfer value/nilai, yaitu yang berkaitan dengan sikap, attitude, karekter, nilai dan norma,dll. Sedangkan mengajar adalah upaya mentrasfer ilmu pengetahuan/memberikan ilmu sesuai kualifikasi keahlian guru yang bersangkutan. Kenyataannya banyak yang masih belum tepat cara pandangnya yang menganggap bahwa mendidik adalah tugas Guru. Mengapa? Karena mendidik adalah tugas setiap manusia yang merasa terdidik, maka ia wajib mendidik manusia yang lain. Perlu diketahui, pendidikan itu terbagi menjadi 3, yaitu : pendidikan Informal, ini disebut sebagai pendidikan yang pertama dan utama. Pendidikan formal, dan pendidikan non-formal.
SAYA akan mencoba mengulas pengertian dari ketiganya secara sederhana dan singkat. Pendidikan Informal adalah pendidikan yang dianggap sebagai yang pertama dan utama. Mengapa? Karena pendidikan ini adalah pendidikan yang didapatkan pertama kali oleh setiap anak yaitu dirumah, dengan role modelnya adalah keluarga, minimalnya adalah ayah dan ibunya. Awal anak belajar, berinteraksi sejak kecil adalah dirumah dengan kedua orang tuanya maka karakter yang pertama muncul serta tertanam adalah karakter yang mereka dapat dari keluargarumah. Sejak kecil hingga dewasa, anak banyak menghabiskan waktu di rumah, dan waktunya lebih lama di rumah dibandingkan dengan di sekolah. Lebih dari itu, anak di Sekolah yang dihadapi oleh setiap guru sangatlah banyak sehingga lemah dalam mengontrol dan mengawasi anak didik atau murid. Guru yang sekarang ini banyak disibukkan dengan administrasi dan perangkat yang harus disiapkan, punya jumlah siswa yang yang relatif banyak maka punya kelemahan dalam mengontrol, terlebih ketika sudah pulang sekolah maka guru akan kesulitan dalam mengontrol siswanya. Disitulah peran serta orang tua dan masyarakat sangat penting. Tapi pada kenyatannya orang tua, yang hanya mengawasi anaknya saja, dan anaknya sebenarnya waktu diluar sekolah lebih banyak malah jauh dari pantauan orang tua.
Melihat pengertian sederhana dari pendidikan Informal di atas dapat disimpulkan bahwa, orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap karakter anaknya karena sang anak pertama kali mengenal dunia dan berinteraksi adalah didalam rumahnya. Orang tua mempunyai kewajiban untuk mendidik dan memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya. Namun yang menyedihkan, sekarang banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya maka menganggap sudah selesai tanggung jawab dalam mendidik anaknya dan memberikan beban serta tanggung jawabnya kepada gurunya. Sehingga jika terjadi sesuatu kepada anaknya, sekolah dan guru yang akhirnya disalahkan dengan alasan tidak mampu mendidik anakn didiknya dengan baik. Sejatinya peran orang tua sangat vital sekali dalam upaya mendidik, mengawasi, mengontrol anaknya. Hal ini merupakan tanggung jawab orang tua dirumah, ketika siswa sudah pulang sekolah maka orang tua dan masyarakatlah yang berperan penting dalam mengawasi calon generasi penerus bangsa agar tak terjerumus di era yang serba terbuka dengan adanya media yang kurang mendidik, dll, apalagi jumlah anak dirumah tidaklah sebanyak jumlah siswa yang ada disekolah yang harus diawasi gurunya.
Sebagai contoh, sudah jelas sekali dalam tata tertib sekolah ada larangan untuk merokok di lingkungan sekolah, namun masih saja ada oknum pelajar yang merokok, dan anehnya ketika ditegur tak sedikit yang membela diri dengan alasan orang tuanya saja dirumah membolehkan. Artinya setiap guru selalu berusaha melaksanakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya semaksimal mungkin, namun hal itu saja kadang masih belum mampu mengontrol beberapa anak didik yang melanggar aturan sekolah seperti merokok atau membolos dalam arti sederhana guru kecolongan.
Pendidikan formal adalah pendidikan yang diselenggaran oleh lembaga pendidikan yang ditunjuk oleh atau yang mendapat ijin dari pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan. Pendidikan formal lazim dilaksanakan di Sekolah dengan jenjang waktu tertentu. Sedangkan untuk pendidikan non-formal adalah pendidikan yang diselnggarakan oleh lembaga pendidikan baik swasta ataupun yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk melaksanakan pendidikan sebagai pendidikan tambahan, contohnya adalah lembaga bimbingan belajar atau private.
Guru sejatinya adalah manusia biasa, seperti anda, teman anda, dan orang-orang lain, hanya saja Guru adalah manusia biasa yang mempunyai kekurangan, kelemahan, kealpaan, dan kadang khilaf karena tak makhluk yang tak sempurna tetapi memiliki profesi yang bertugas mendidik dan mengajar sesuai kualifikasi bidang studinya di Sekolah atau lembaga pendidikan.
Sekarang ini, guru seolah dituduh menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan moralitas dan SDM pemuda kita. Padahal tidaklah bijaksana ketika guru yang pada akhirnya disalahkan terkait dengan perubahan sosial yang terjadi pada anak muda sekarang ini. Banyak faktor penentu kesuksesan pendidikan dinegeri kita ini :
*Peran Pemerintah*
Kebijakan-kebijakan pemerintah yang terkait dengan dunia pendidikan melalui kementerian Pendidikan haruslah kebijakan yang memang relevan dan yang terbaik untuk kepentingan bangsa ini, yang jauh dari kesan politisasi.
*Peran Masyarakat*
Masyarakat juga sangat berperan penting dan bertanggung jawab terhadap generasi bangsa ini yang harus diselamatkan dari pengaruh negatif dari globalisasi, di era milinium yang serba bebas, serba terbuka. Sebagai contoh, perilaku menyimpang yang dilakukan oleh pemuda, itu terjadi bukan didalam sekolah tapi di lingkungan masyarakat. Hal ini menjadi bukti, bahwa kontrol masyarakat sangatlah penting untuk selalu mengawasi bahkan menasehati ketika ada hal-hal di masyarakat yang tidak sesuai, bukan malah acuh tak acuh seolah tidak perduli.
*Perubahan Zaman*
Dizaman yang serba canggih, dengan kertbukaan informasi yang mempunyai beberapa dampak negatif pula disamping dampak positifnya. Ditengah era keterbukaan informasi, perkembangan media cetak dan media hiburan yang menjajah kita dengan ideologi barat yang mungkin tidak sesuai dengan ajaran-ajaran sesuai keyakinan kita lambat laun menggerus karakter bangsa kita menjadi karakter budaya Asing yang baru. Era canggih, di zaman yang serba digital dengan media yang sungguh gencar melalui media hiburan, baik televisi atau lainnya mampu merusak karakter yang dibangun oleh sekolah yang ditempuh bertahun-tahun dari SD sampai Perguruan Tinggi, dengan sedikit tontonan yang menjadi tuntunan. Guru diberi tanggung jawab berat dengan bayaran yang kecil, dituntut untuk memperbaiki ahlak anak, yang dirumah saja orang tuanya sudah tak mampu menasehati anaknya. Sementara Artis, dll dibayar sangat mahal yang akhirnya jadi tuntunan dan merusak moralitas yang berusaha guru dan sekolah bangun. media juga berperang penting, karena remaja banyak mencontoh para idola, dan nasehat serta ilmu yang didapat selama sekolah bisa hilang seketika ketika menyerap dari berbagai media tanpa di filter. dan Tugas terberatnya adalah memikirkan bagaimana cara agar ilmu yang didapat disekolah dan Madrasah/TPA bisa tetap nyantel dan bermanfaat di era penjajahan modern, gadget/smartphone, televisi, internet dan media hiburan lainnya.
*Tontonan hari ini menjadi tuntunan,* entah itu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat kita sehingga mampu merusak karakter yang selama ini orang tua dan guru di Sekolah bangun selama bertahun-tahun dengan kesabaran menghadapi siswa yang kadang sangat bandel, sangat tidak sopan sampai sangat menjengkelkan sekali lenyap seketika oleh arus negatif dari tantangan globalisasi dan keterbukaan informasi. Siswa tak pernah tahu bahwa, guru berfikir keras tentang masa depan siswanya sampai terkadang guru rela melakukan hal-hal aneh bahkan hal bodoh hanya untuk membuat siswanya nyaman, tidak bosan, tersenyum dengan melakukan hal-hal yang membuat siswanya tertawa.
Namun sangat naif sekali, ketika kita, kerabat, keluarga atau teman kita melakukan kekhilafan bahkan hal-hal yang sangat meresahkan misalnya minum-minuman keras, narkoba atau hal lainnya, mudah sekali kita memaafkan dan menganggap itu seperti biasa. Tapi apa yang terjadi jika itu dilakukan oleh oknum guru? Sudah pasti menjadi perbincangan yang tak kunjung habis dibicarakan, dapat cibiran disana-sini, dicaci maki dan sebagainya. Adilkah? Ingat, sekali lagi guru bukan malaikat yang tanpa celah, guru adalah manusia biasa yang kadang salah dan khilaf karena guru juga pasti mempunyai kekurangan dan kelemahan. Mengapa yang disalahkan guru? Dimana peran orang tua dan keluarga? Dimana peran masyarakat?
Mendidik sebagai upaya menciptakan generasi muda yang terbaik, SDM yang bagus, beretika, berbudi pekerti luhur, kreatif, mandiri, beradab, adalah bukan tugas guru semata melainkan tugas kita semua bagi manusia terdidik. Tugas orang tua sebagai guru yang pertama dan utama di rumah perlu dimaksimalkan, orang tua tidak serta merta lepas tanggung setelah menyekolahkan anaknya. Masyarakat bertugas sebagai kontrol sosial, menjaga dan mengawasi setiap fenomena dan kejadian yang ada dimasyarakat dan Pemerintah sebagai pemberi kebijakan perlu membuat kebijakan yang berasaskan Budaya Indonesia.
COBALAH KITA RENUNGKAN …
Pertama, Pernahkan Guru kita mengajari hal yang tidak baik secara langsung? Sepertinya tidak pernah. Seandainya ada itu mungkin diluar kendali ataupun sebatas pancingan berupa candaan yang beliau menganggap bahwa siswanya terutama anak SMA sudah cukup dewasa sehingga mengerti mana yang baik dan tidak baik, yang harus di contoh dan yang tak harus dicontoh. Kedua, Pernahkah guru kita mengajarkan untuk berani kepada orang tua?. Saya yakin tidak pernah!!! Yang ada adalah guru selalu mengingatkan kepada siswanya untuk selalu berbakti kepada orang tua dan hormat kepada orang tua tapi tidak semua orang tua selalu menasehati anaknya untuk menghormati gurunya?. Adanya degradasi moral, unggah-ungguh yang luntur antara anak dan orang tua, antara guru dan siswa, salah guru kah? Bukankah guru mengajarkan arti sopan santun, unggah-ungguh, tapi mengapa sang anak tidak menerapkannya malah justru sebaliknya? Bisa jadi, sang anak terpengaruh pergaulan dimasyarakan kan? Atau terpengaruh media hiburan seperti sinetron, dan lain-lain.
Ketiga, Pernahkan guru mengajari siswanya untuk merokok, minum-minuman keras, dan lain sebagainya?. Saya yakin tidak pernah. Bahkan aturannya jelas di Sekolah sudah ada tata tertib yang melarang keras merokok dan mengkonsumsi apalagi mengedarkan narkoba atau sejenisnya, dan sudah ada sanksi yang disiapkan apabila ada siswa yang melanggarnya. Nyatanya? Sudahkan siswa kita patuh? Masih ada beberapa siswa yang tidak patuh yaitu dengan merokok di lingkungan sekolah. Artinya sekolah masih kecolongan karena tingkat kenakalan anak semakin komplek saja. Sudah ada aturannya, namun siswa masih melanggarnya. Salahkah gurunya? Dimana peran orang tua? Ternyata tak sedikit orang tua yang jor-joran terhadap anaknya, entah itu soal merokok, bahkan ada yang mabuk-mabukan. Betapa berat tugas guru, dimana di satu sisi berjuang menciptakan SDM generasi muda yang baik, malah pihak orang tua kadang justru yang belum sejalan menerapkan cita-cita itu, kadang masyarakatnya yang tidak perduli bahkan cenderung membiarkan. Walaupun mungkin ada guru yang pernah nakal di waktu muda, misal merokok, tapi saya yakin guru tersebut tidak akan membiarkan siswanya merokok, bahkan beliau memiliki harapan agar siswanya tidak melakukan seperti apa yang dulu beliau pernah lakukan.
Keempat, Pernahkah guru mengizinkan untuk konvoi atau corat-coret baju ketika pengumuman di hari lulusan?. Saya yakin tidak ada guru yang mengizinkan itu. Sebelum melaksanakan UN semua elemen sekolah mengadakan do’a bersama maka selayaknya ketika kelulusan adalah bentuk rasa syukur, maka sudah pasti ketika pengumuman tidak ada yang mengizinkan untuk konvoi. Salahkan guru? Itu terjadi diluar lingkungan sekolah, dan sekolah serta guru sulit mengkondisikannya lagi sehingga itu diluar kemampuan sekolah. Dimana peran masyarakat? Acuh ternyata. Hal lain lagi, misalnya ada anak hamil. Pertanyaannya? Hal itu dilakukan dimana? Mesti dilakukan diluar lingkungan sekolah! Pertanyaannya, sudahkan orang tua ikut mengawasi, mengontrolnya? Mengapa sekolah yang disalahkan? Dimana peran masyarakat? Sudahkan ikut membantu mengawasi?. Ah malas mikir. Nyanyi aja dech …
Dan pernahkah kita belajar mengkritisi siswanya? Bukan ke gurunya? Ada apa? Bukankah siswa juga pelaku pendidikan? Mengapa siswa hari ini manja? Malas? Miskin komitmen? miskin tanggung jawab? Namun lebih mahir melakukan perilaku-perilaku menyimpang? Mengapa? Ini adalah PR kita bersama, sebagai renungan dan media introspeksi. Sekolah berusaha untuk mengawasi mengontrol, tapi tetap saja kenakalan siswa yang entah dari mana mereka belajar itu, mengerti tentang hal itu yang mampu membuat sekolah kecolongan dengan hal-hal aneh yang dilakukan siswanya sehingga berdampak pada cibiran dan cacian terhadap sekolah dan gurunya yang disalahkan. Tulisan yang masih banyak kekurangan ini bukanlah bentuk pembelaan untuk guru, melainkan agar kita semua belajar untuk sedikit mengerti tentang fenomena dan tantangan di zaman yang “katanya modern” ini, sehingga kita terbuka mata, hati dan fikirannya bahwa semua ini adalah tugas kita bersama.
Sepertinya terlalu naif sekali ketika membebankan semua tugas itu kepada sekolah dan menyalahkan gurunya semata, melainkan ini tugas kita bersama-sama mulai dari keluarga, masyarakat, sekolah dan pemerintah. Semoga dimulai dari kita yang memperbaiki diri dalam segala hal, lalu meningkat ke tingkat keluarga, dan berpengaruh kepada masyarakat sehingga bangsa dan negara kita bisa menjadi lebih baik. Dimulai dari setiap Individu, individu sendiri untuk masyarakat. Tantangan menjadi seorang pendidik, dimana mereka mulai sadar tentang pendidikan tapi tidak mampu berperan serta turut membantu, berkontribusi untuk pendidikan. Semoga tulisan sederhana ini membuak pikiran kita semua, bahwa nasib bangsa ini bukan saja karena Guru, tapi karena kepedulian semua pihak yang sadar akan peran masing-masing dimasyarakat sebagai mahluk sosial yang bermanfaat dimasyarakat, maka selayaknya menebarkan kebaikan, menebarkan ilmu, bukan menebarkan cibiran, cacian dan makian. Dan Indonesia dimasa depan ada ditangan kita semua.
Mohon maaf bila tulisan ini kurang berkenan dan masih banyak kekurangan baik tulisan ataupun bahasa. Tulisan ini tidak untuk menjadi kontroversi, melainkan memberikan sudut pandang lain dari pada sudut anda semua, semoga kita menerima pemikiran sederhana dari setiap orang dengan menghargai bentuk pemikiran yang berbeda. Ini hanyalah sekedar ingin berpendapat saja. Boleh kan? Moga-moga saya tidak dianggap sebagai orang yang “menodai” profesi guru. Semoga tulisan ini Bermanfaat bagi insan yang berhati ikhlas dan mulia.







