Home / OPINI

Minggu, 10 Agustus 2025 - 18:27 WIB

ONE PIECE DARI JOLLY ROGER KE MERAH PUTIH : Menyelamatkan Semangat Kemerdekaan dari Sekadar Seremoni

Oleh: HZ Putra

Sudah delapan puluh tahun Indonesia merdeka dan seharusnya patut kita syukuri, tetapi mengapa rasa merdeka sering kali terasa seperti ilusi? Jalan berlubang masih menganga, orang tua tidak mampu membayar biaya sekolah anak -anaknya, biaya kesehatan tinggi, korupsi tak kunjung mati, dan hukum tetap tumpul ke atas.

Data Transparency International menempatkan Indonesia pada skor Indeks Persepsi Korupsi 2024 sebesar 34 dari 100—jauh dari predikat bersih. Apa gunanya usia kemerdekaan bila nilai perjuangan hanya hidup di naskah pidato dan upacara bendera?

Inilah sebabnya sebagian generasi muda mencari simbol alternatif untuk menyuarakan keresahan. Jolly Roger dari One Piece—tengkorak dengan topi jerami khas Mugiwara—mendadak terasa lebih relevan daripada slogan resmi negara. Di dunia fiksi, ia adalah lambang kebebasan, solidaritas, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Di dunia nyata, ia menjadi sindiran bahwa kemerdekaan sejati belum tuntas kita raih.

Baca Juga  Ridwan Kamil Gubernur "Butut"

Masalahnya bukan pada upacara atau tradisi peringatan kemerdekaan, tetapi pada kita yang terlalu nyaman menjadikannya ritual tahunan tanpa memastikan nilai-nilai di baliknya benar-benar hidup. Merah Putih seharusnya lebih dari sekadar kain yang berkibar; ia adalah janji bahwa setiap warga negara dilindungi, disejahterakan, dan diperlakukan setara di hadapan hukum. Janji ini hanya akan berarti jika kita berani bersuara, mengkritik, dan melawan arus ketika keadilan diinjak-injak.

Seperti kru Mugiwara yang berlayar menuju impian besar dan tidak pernah meninggalkan satu pun awaknya, bangsa ini pun harus memegang prinsip yang sama: tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang karam sendirian. Persatuan bukan slogan kosong, melainkan keberanian untuk berdiri bersama melawan ketidakadilan, bahkan ketika pelakunya berasal dari dalam negeri sendiri.

Baca Juga  Pemilihan Kacong Cebbing Sumenep Didukung Hantu, Hadirkan Aroma Mistis

Di usia ke-80 Republik Indonesia, mari kita kibarkan Sang Saka Merah Putih sesuai cita-cita suci para pahlawan—bukan hanya di tiang upacara, tetapi di hati dan tindakan kita. Mari kita wujudkan “Jolly Roger versi bangsa sendiri”: bendera perjuangan yang melawan keserakahan, kemunafikan, dan apatisme. Karena musuh terbesar kemerdekaan hari ini bukanlah kapal asing di lautan, melainkan pengkhianatan terhadap nilai-nilai yang dahulu dibayar dengan darah dan nyawa.

Kemerdekaan adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Ia harus dipertahankan setiap hari, di setiap ruang, oleh setiap warga. Dan seperti pesan yang dipegang kru Mugiwara: “Selama kita bersama, kita tidak akan pernah kalah.”

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Share :

Baca Juga

OPINI

Haul Ke-30 Abu Budi: Menjaga Warisan Guru, Merawat Tradisi Keilmuan Dayah

OPINI

1 Muharam dan Krisis Kesadaran Waktu di Era Digital

ACEH

Blok Andaman dan Kesempatan Emas Aceh Menjadi Hub Energi Asia Tenggara

ACEH

MENAGIH JANJI MoU HELSINKI DAN UUPA: Jangan Sampai South Andaman Menjadi Arun Jilid II

EDUKASI

UIN SUNA 57 Tahun: Kampus Peradaban untuk Generasi Hebat

OPINI

Polemik IUP di Aceh: Jangan Terjebak pada Angka, Perkuat Tata Kelola

BERANDA

Banjir-Longsor Aceh Dinilai “Bencana Terstruktur”: Desakan Evaluasi Izin HPH, Tambang, dan HGU di Kawasan Lindung

ACEH

SDA Aceh Disebut “Emas yang Tak Basi”: Perlukah Pemerintah Tahan Izin Tambang Demi Generasi Berikutnya?