Oleh :
T.M. Jamil
Guru Besar Madya, Dalam Bidang Ilmu Sosial, pada Sekolah Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
————-
PADA suatu saat, di akhir dekade 90-an, saat saya masih aktif di gerakan mahasiswa, Almarhum Gus Dur pernah bilang bahwa : “Bersatu tidak selamanya harus berkumpul”. Pernyataan itu disampaikan ketika Gus Dur meninggalkan beberapa santrinya di suatu makam untuk “disembunyikan”, sehingga harus berpisah dengan teman-teman aktivis beberapa waktu.
Kata-kata itu begitu sederhana dan membekas di hatiku, tapi secara sosiologis dan strategis memiliki makna yang luas dan sangat mendalam. Ya, memang berkumpul dan bersatu itu memang dua hal yang berbeda meski kelihatan saling berhubungan. Orang yang berkumpul tidak mesti bersatu. Banyak contoh orang berkumpul, tapi tidak bersatu. Misalnya, orang berjudi. Mereka berkumpul dalam satu meja, tapi tidak pernah bersatu, mereka berusaha untuk saling mengalahkan agar bisa mengambil keuntungan dari pihak lain. Begitu juga sebuah Tim Pemenangan Seseorang, mereka berkumpul, tetapi niat dan tujuan mereka acapkali berbeda… Ya, seperti juga orang sedang “pacaran” mereka terlihat bersama, padahal hati mereka berbeda. Ada yang serius berniat untuk menikah, tapi tak sedikit pula mereka hanya ingin menikmati “cinta dan seks gratis”. Begitulah romantika kehidupan ini. Anda boleh setuju pernyataan ini dan Anda pun diperkenankan untuk kita berbeda dalam soal ini. Tak ada yang haram dalam kita berbeda …
Demikian sebaliknya, kadang kita harus berpisah untuk tetap bisa bersatu. Misalnya para pejuang yang dituntut harus berpisah dengan keluarga, kerabat dan sahabat demi mempertahankan dan menjaga persatuan di antara mereka. Meski secara fisik mereka tidak berkumpul, terpisahkan jarak, namun mereka tetap bersatu dalam ikatan tekad, cita-cita, komitmen dan rasa yang mentautkan hati dan jiwanya. Berkumpul terkait dengan aspek fisik (badaniah), sementara bersatu terkait dengan aspek rasa, jiwa dan hati (ruhaniyah) yang direfleksikan dalam tekad, cita-cita dan komitmen.
Seseorang yang berjiwa besar, memiliki cita-cita besar akan semakin mudah untuk bersatu, baik berkumpul maupun tidak. Karena jiwa dan cita-citanya telah melampaui kondisi fisik. Seorang politisi, pebisnis dan pemimpin masyarakat akan dengan mudah membangun persatuan, meski mereka tidak saling berkumpul. Mereka saling bisa memahami dan menyesuaikan diri meski terhalang jarak, karena mereka bersatu. Dan ada juga di antara mereka yang tak pernah bisa bersatu…
Demikian sebaliknya, meskipun mereka berada dalam satu partai, satu komisi, satu organisasi dan satu kelompok bisnis, jika jiwa mereka kerdil dan sempit maka akan mudah pecah, sehingga sulit bersatu. Meski mereka berkumpul setiap hari, namun mereka tidak pernah bisa bersatu karena hati dan jiwa mereka tidak bersatu. Justru mereka saling menusuk dan menikam, saling memangsa dan saling menjatuhkan meski berkumpul dalam tempat dan wadah yang sama. Astaghfirullahal ‘Aziem.
Nah, dalam Meghadapi penyebaran virus, informasi dan fenomena politik saat ini, saya pribadi jadi teringat pernyataan Gus Dur mengenai berkumpul dan bersatu. Ketika ada anjuran menjaga jarak fisik (physical distance) dan menghindari kerumunan untuk melawan penyebaran “wabah penyakit,” maka sebenarnya hal ini sama sekali tidak terkait dengan persatuan. Anjuran jaga jarak dan hindari kerumunan justru bisa menjadi indikator mengukur soliditas masyarakat.
Dalam masyarakat yang solid, penyebaran wabah atau virus beberapa waktu yang lalu membuat mereka tidak berkumpul justru melahirkan berbagai gerakan yang memperkuat persatuan di antara mereka. Hal ini terlihat dari munculnya para relawan, tenaga medis dan berbagai gerakan kemanusiaan lainnya yang melakukan berbagai kegiatan melawan virus secara bersama sama, meski mereka tidak berkumpul. Sama halnya saat ini munculnya para relawan calon presiden/wakil presiden dan timsesnya para caleg.
Sebaliknya, dalam masyarakat yang retak, tidak bersatu (fragile) maka akan menjadikan ancaman virus dan perbedaan pendapat sebagai sarana mengambil keuntungan material dan politik untuk memenuhi kepentingannya. Bahkan mereka tidak segan-segan mengekploitasi semangat berkumpul masyarakat demi ambisi pribadi. Mereka melakukan propaganda bahwa berkumpul adalah sesuatu yang penting untuk menjaga persatuan dan syiar agama sehingga harus dipertahankan meski harus menanggung risiko tertular penyakit atau berbeda pendapat untuk mencapai tujuan…
Merujuk pada pernyataan, tepatnya nasihat Almarhum Gus Dur di atas, maka inilah saatnya kita melakukan strategi berpisah atau tidak berkumpul namun tetap bersatu dalam menghadapi penyebaran virus dan informasi yang tak jelas. Rasanya sudah sekian lama kita berkumpul dan berkerumun namun ternyata hati, perasaan dan cinta tidak pernah bersatu. Karena banyak di antara kita yang justru saling mencaci dan menghujat dalam kerumunan dan duduk semeja yang sama.
Barangkali dengan adanya “perbedaan sikap dan cara” itu telah memaksa kita berjarak secara fisik dan menghindari kerumunan ini bisa menjadi momentum untuk melakukan Muhasabah dan Tafakur setelah kita disibukkan dalam kerumunan yang justru membuat kita terasing dalam kebersamaan. Yaa Allah, Kuatkan Kami dalam Jarak Untuk Menuju Kebersamaan yang hakiki demi kepentingan ummat dan bangsa di negeri ini. Allahu Akbar. Aamiin Yaa Rabbal Alami…







