Home / SASTRA

Jumat, 17 Januari 2025 - 12:01 WIB

Mari Berbagi : Belajar Dari Kisah Sukses Petani Jagung

Oleh :
TM. Jamil
Pengamat Sosial,
Associate Profesor, pada Sekolah Pascasarjana USK, Banda Aceh.

 

Bagiku, AYAH adalah tipe pebisnis yang membuatku tak habis pikir. Jika kebanyakan orang berbisnis, tak ingin membagi resep rahasia, ataupun ilmu utamanya, Ayah justru sebaliknya.

Ayah tak pernah pelit untuk berbagi ilmu, dari sekian pegawai yang dimilikinya, semuanya diajarinya untuk membuat sepatu. Tak ada satupun ilmu yang ia sembunyikan. Tak hanya itu, didorongnya mereka untuk lepas dan mandiri dari ayah.

Aku dan adik-adik waktu itu sampai terheran-heran. Mendidik pegawainya untuk mandiri bukankah justru akan melahirkan pesaing baru bagi usaha Ayah?

Ayah menjelaskan konsepnya dengan satu kisah sederhana. Kisah yang masih aku ingat sampai sekarang. “Bapak pernah cerita ke kalian tentang kisah seorang petani jagung yang berhasil?” Aku dan adik-adik hanya menggeleng.

“Alkisah ada seorang petani jagung yang sangat sukses.” Ayah berhenti mengambil nafas sejenak. Aku dan adik-adik pasang telinga, antusias mendengarkan.

Dengan nada layaknya seorang ‘pendongeng’ ia melanjutkan, “Di negerinya, setiap tahun diadakan kontes jagung, untuk mencari petani mana yang menghasilkan jagung terbaik. Petani sukses tadi, dia sering memenangkan kontes jagung tersebut.

Baca Juga  Jangan Paksakan

Tak hanya sekali, namun berkali-kali dan boleh dikatakan, setiap kontes jagung diadakan petani inilah pemenangnya. Kalian tahu rahasianya?” Tanya Ayah ke arah kami.

“Pupuk rahasia?” Salah seorang adikku, coba menjawab.

“Bukan, bukan itu rahasianya. Suatu waktu seorang wartawan bertanya pada petani sukses ini, apa formula rahasianya dia bisa memenangkan kontes jagung tersebut sampai berkali-kali.

Si petani menjawab, ‘tak ada formula rahasia, aku hanya membagikan benih-benih jagung terbaikku kepada petani tetangga-tetanggaku”

“Lho, benih jagung terbaiknya kok malah diberikan ke tetangga? Tapi kok dia yang menang? Aneh kan?”, tanyaku.

“Itu dia kuncinya”, Ayah tersenyum. “TM, di sekolah sudah belajar IPA kan? Tentang tanaman yang punya serbuk sari dan putik?”

“Sudah” jawabku sambil mengangguk.
“Kita tahu bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak, lalu menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain”, tangan ayah bergerak-gerak bak seorang pendongeng.

“Coba bayangkan, Jika tanaman jagung tetangga buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang petani sukses ini pun juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagungnya.” Kakakku manggut-manggut sudah mulai paham.

Baca Juga  PT PIM Gelar Simulasi Tanggap Darurat untuk Tingkatkan Kesiapsiagaan

Ayah melanjutkan “Sebaliknya jika tanaman jagung tetangga baik, maka serbuk sari yang dibawa angin dari ladang jagung mereka akan baik pula, disinilah bila kita ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, kita harus menolong tetangga kita untuk mendapatkan jagung yang baik pula.

“Begitu pula dengan hidup kita wahai anakku… Jika kita ingin meraih keberhasilan, maka kita harus menolong orang sekitar menjadi berhasil pula. Mereka yang ingin hidup dengan baik harus menolong orang disekitarnya untuk hidup dengan baik pula“ Ayah menutup ceritanya dengan bijak. Masya Allah…

Nah, berdasarkan kisah tersebut apa yang dapat kita ambil hikmahnya? Mestinya kesuksesan itu tak berarti jika kita belum membuat orang lain atau teman kita juga sukses.

Maka jangan pernah takut untuk berbagi atau membantu teman-temannya yang sedang dalam kesusahan atau kegalauan. Insya Allah, niat baik dan kerja mulia akan berbalas pahala jariyah. Allahu Akbar. Aamiin Yaa Rabbal Alamin.

Share :

Baca Juga

BUDAYA

Langkah yang Tak Pernah Sia-Sia

BUDAYA

Hikayat Malem Diwa: Warisan Cinta dan Keberanian dari Tanah Rencong

RELIGI

Hati yang Tumbuh, Hati yang Membatu

RELIGI

Kematian: Peringatan yang Tak Pernah Ingkar

EDUKASI

Bunga di Balik Air Mata

SASTRA

Suara yang Tak Terucap

SASTRA

Obrolan di Bawah Pohon Tua: Integritas Asli vs Integritas Palsu

BERITA

Hebat, Mahasiswi UIA Ini Raih Penghargaan Sebagai Penulis di Tingkat Nasional