![]()
Oleh :
T.M. Jamil
Associate Profesor
Social Sciencetist
Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Selamat Menyambut Tahun Politik 2024 :
SUNGGUH mencari teladan di era hyperreality (simulasi yang lebih nyata dari yang nyata, serta lebih menawan dari yang menawan, lebih benar dari yang benar) seperti sekarang ini seperti mencari jarum di tengah tumpukan jerami di tengah malam yang gelap gulita tanpa cahaya. Ini bukan berarti tidak ada cahaya, sehingga membuat mata kita tidak bisa melihat sesuatu tampak di depan mata. Cahaya yang ada sangat terang benderang, tetapi tidak mampu menembus dinding yang menghalangi apa yang nyata. Sehingga yang tampak bukanlah yang nyata. Yang terlihat bukanlah “bentuk” yang sebenarnya.
Beberapa kali masyarakat tertipu oleh tampilan hebat seseorang yang seolah-olah bisa menjadi teladan. Tapi, ternyata tampilan itu hanya bungkus menyembunyikan kebusukan dan kepentingan sesaat. Meski berkali-kali melihat dan membuktikan bau busuk, perilaku culas, settingan dan kata-kata kotor, tapi anehnya masih banyak di antara mereka yang tetap percaya pada tampilan dan bungkus yang memukau.
Mereka seolah-olah tersihir olah tampilan dan narasi hebat yang terus dijejalkan pada pikiran dan perasaan mereka. Keteladanan tidak lagi dilihat pada akhlak, perilaku, pemikiran dan kata-kata, tetapi pada tampilan. Sebejat apapun kelakuan dan sekotor apapun perkataan akan tetap dianggap sebagai teladan jika dia sebagai “pendukung” yang buta.
Di sisi lain, hilangnya teladan juga bukan berarti tidak ada teladan, tetapi ada kecenderungan orang-orang yang layak menjadi teladan justru ditutup dengan segala cara, mereka tidak diberi kesempatan untuk eksis dan diberi ruang bergerak yang memadai. Mereka dikucilkan di ruang sepi, agar tidak bisa tampil di ruang publik menjadi teladan baik bagi masyarakat.
Akibatnya para teladan baik yang mestinya menjadi suluh kehidupan dan suar dalam menghadapi kenyataan menjadi tidak terlihat. Akhirnya para teladan hilang dalam lipatan kenyataan dan lebur dalam hiruk-pikuk perdebatan dan diskusi yang dibungkus “sentimen”.
Jika ada di antara mereka yang mampu menembus ruang sosial yang membelenggu, maka dengan serta merta mereka akan segera dihujat dengan berbagai narasi negatif. Mereka ini seperti kain putih bersih yang di ciprati berbagai kotoran dan noda agar terlihat kotor dan kumuh. Kemudian rakyat yang berpikiran pendek dan memiliki pemahaman terbatas akan ikut-ikutan mencaci dan menista dengan penuh suka cita dan bahkan dirinya menganggap sebagai “pahlawan”.
Dan jika sudah demikian, para teladan yang berhati bersih itu akan berhenti, kembali dalam ruang pengap yang sepi. Ini terjadi karena mereka tidak sampai hati untuk menonjolkan diri, menggunakan dalil dan ayat suci untuk sekadar membela diri apalagi membalas segala fitnah dan tindakan kotor yang dilakukan terhadap dirinya. Kebersihan hati dan jiwanya tidak mungkin membuat mereka melakukan tindakan kotor dan tercela. Allahu Akbar …
Tindakan ini sama sekali berbeda dengan mereka yang berhati culas dan munafik yang menyembunyikan kebusukan di balik jubah/kopiah kesucian agar bisa tampil menjadi figur teladan yang bisa menggerakkan ummat. Orang-orang seperti ini akan melakukan apa saja untuk mempertahankan posisinya di depan ummat, meski sikap dan perilakunya sangat biadab dan merusak.
Agar tetap terlihat sebagai teladan, mereka tidak segan-segan melakukan serangan balik dengan fitnah dan tindakan kotor lainnya, bahkan berani mengobral ayat dan kitab suci serta mengatasnamakan agama untuk menyerang siapa saja yang mencoba membuka topengnya. Jika sudah demikian, kembali rakyat akan kehilangan teladan yang sebenarnya, kemudian terus meneladani figur-figur yang tidak layak untuk menjadi teladan.
Secara sosiologis-kultural ada dua hal yang menyebabkan hilangnya teladan dalam masyarakat. Pertama, karena teladan yang layak jadi teladan disekap di ruang sunyi sehingga mereka tidak bisa ber kontestasi dalam ruang publik, atau mereka dikotori dengan berbagai citra negatif agar hancur reputasi dan marwahnya, sehingga masyarakat tidak percaya kepada mereka. Ini dilakukan agar teladan-teladan palsu merajalela serta bisa terus eksis dan tetap menjadi idola masyarakat.
Kedua, karena rendahnya taraf kesadaran dan rendahnya pemikiran masyarakat. Pada masyarakat yang seperti ini, emosi dan fanatisme lebih didahulukan daripada berpikir kritis dan refleksit dalam membaca kenyataan. Mereka lebih terpukau orasi yang agitatif- provokatif dan tampilan agamis yang simbolik dari pada sosok yang rendah hati, sejuk dan bijak sekalipun mereka berilmu tinggi dan layak dijadikan teladan.
Menghadapi situasi hilangnya teladan seperti sekarang ini ada baiknya kita mengingat laku hidup Ki Ageng Suryomentaram (KAS) – “tokoh atau pangeran” jawa yang pergi meninggalkan hingar bingar istana dan meninggalkan semua atribut serta privilese sebagai seorang pangeran untuk mencari manusia.
Semua ini dilakukan karena dia merasa tidak pernah bertemu manusia. Yang dia hadapi sepanjang hidup di istana bukanlah manusia, tetapi topeng-topeng kepentingan, sehingga menutupi manusia yang sebenarnya. Untuk mencari manusia, bukan topeng kepentingan, KAS melakukan “uzlah” dengan menjalani laku hidup menjadi tukang gali sumur dan penjual perkakas keliling.
Untuk bisa melihat “wajah” asli manusia KAS berusaha mencari kekuatan batin yang bisa menembus topeng yang dikenakan manusia. Hal ini dia lakukan dengan cara menarik diri dari hingar-bingar kehidupan yang penuh kepalsuan dan kemunafikan agar bisa mengendapkan pikiran dan hati. Selagi manusia masih berada dalam hiruk-pikuk kenyataan maka akan sulit menemukan kejernihan hati dan batin yang bisa menembus topeng.
Hal yang sama dilakukan oleh para ulama sufi, yang menempuh laku spiritual penyucian diri dengan cara mengendapkan pikiran dan perasaan. Dengan cara ini, kotoran-kotoran batin yang berkerak yang membuat manusia mudah terjebak dalam tipu daya akan terkikis.
Dalam konteks kekinian, bukan berarti kita harus menyingkir dari realitas kemudian bersembunyi di tempat sunyi. Yang perlu kita lakukan adalah menjaga diri agar tidak mudah percaya pada apa yang tampak. Kita bisa tetap berada dalam kerumunan dan hiruk-pikuk kenyataan, tetapi menjaga pikiran dan hati agar tidak hanyut dan larut pada kenyataan.
Tetap menjaga jarak pada kenyataan, menyisakan ruang batin untuk merenung dan membaca apa yang terjadi dengan hati, bukan semata-mata dengan pikiran dan indera. Dalam tradisi Atjeh inilah yang disebut “kaluet alias meutapa”, yaitu menyendiri di tengah kerumunan dan menyepi di tengah keramaian atau melakukan Pertapaan.
Jadi, jelas di sini kita bukan sedang kehilangan teladan, karena teladan itu masih ada dan bahkan banyak. Tapi kebebalan jiwa dan kebekuan rasa membuat kita tidak melihat teladan hidup yang kita sangka hilang itu, kemudian kita asyik meneladani teladan-teladan palsu yang membuat bangsa ini makin terperosok dalam kegelapan.
Sudah saatnya kita mengendapkan diri (diam) dan menjaga jarak batin dengan kenyataan. Karena inilah cara kita menemukan teladan yang hilang di tengah arus zaman yang serba samar seperti sekarang ini. Semoga Bangsa Ini Semakin Cerdas dalam menata masa depan yang indah dan bermartabat. In Sya Allah, Aamiin Ya Rabbal Alaamin.







