Home / BERITA

Sabtu, 4 Februari 2023 - 13:31 WIB

KETIKA KADER HMI BERKIPRAH DI NAHDHATUL ULAMA

Catatan Kecil ; Dalam Rangka Memperingati MILAD HMI Ke 76

 

Oleh :
Assoc. Prof. Dr. T.M. Jamil, M.Si
Alumni HMI – Akademisi USK – Banda Aceh

Beberapa waktu yang lalu saat GUS YAHYA CHOLIL STAQUF terpilih menjadi Ketua Umum PBNU periode 2021-2026, Saya langsung mengucapkan Selamat, semoga Nahdhatul Ulama (NU) semakin besar dan mengalami kemajuan di tangan keponakan Gus Mustafa Bisri ini. Begitulah harapan saya waktu itu, semoga bisa terwujud dalam bimbingan Allah Swt.

Dalam catatan dan pemahaman saya pribadi, Gus Yahya Cholil Staquf adalah kader HMI sewaktu kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogyakarta. Dalam perjalanan bangsa ini, Memang tak biasa, ada kader HMI bisa dan terpilih menjadi Ketua Umum PBNU. Tak biasa bukanlah berarti tak bisa. Tak biasa bukan juga berarti melanggar etika. Tak biasa itu hanya soal cara pandang manusia saja. Tetapi sejarah punya logika yang dapat merubah kebiasaan itu. Sejarah selalu bergerak untuk merubah yang tak biasa menjadi biasa, bahkan kadang-kadang juga “luar biasa.”

NU adalah rumah besar milik warga Nahdhiyin dari berbagai etnis, kelompok dan organisasi mahasiswa. Selama mereka beribadah cara NU, berpaham keislaman ala NU, menganut tradisi NU dan punya latarbelakang keluarga dan komunitas NU, maka mereka adalah warga NU yang sesungguhnya. Meski tak punya KTA NU, karena NU tidak obral KTA. Begitulah dalam pemahaman saya.

Banyak kader HMI adalah warga NU, sebagaimana almarhum Rozi Munir, Syaefullah Yusuf (Gus Ipul), bahkan Nusron Wahid sebelum mendirikan PMII Cabang UI, kabarnya ia adalah kader hebat di HMI. Dan Gus Yahya Cholil Staquf, yang saat ini terpilih menjadi Ketua Umum PBNU di Muktamar Lampung 23-25 Desember 2021 adalah kader HMI yang berkualitas. Setidaknya begitulah dalam pemahaman dan penilaian saya pribadi. Tentu saja ini masih sangat subyektif.

Baca Juga  Idul Adha 1447 H: Bupati Aceh Timur Ajak Masyarakat Semarakkan Takbir Keliling di Simpang Ulim

Bukankah selama ini, HMI seperti kurang mendapatkan tempat di struktur kepengurusan NU. Seolah kalau sudah menjadi kader HMI, NU-nya luntur. Ini yang mesti diluruskan.

Beberapa kader HMI yang terakomodir di kepengurusan NU umumnya adalah mereka yang masih memiliki “darah biru” alias keluarga atau putra atau Cucu Kiyai. Padahal, perkaderan di HMI tidak mengenal “darah biru” atau “darah putih”. HMI adalah organisasi perkaderan yang memiliki tradisi egaliter dan dialektika yang kuat. Tradisi berpikir dan berkarir juga menjadi ciri khas dari kader dan alumni HMI.

Sementara, tradisi perjuangan menjadi masalah, atau bahkan cenderung punah, di hampir semua organisasi ekstra kemahasiswaan. Di organisasi ekstra mahasiswa, dan juga organisasi masyarakat pada umumnya, para kader bukan hanya ingin belajar dan berjuang, tetapi seringkali menjadikan organisasi itu sebagai instrumen untuk berkarir dan kepentingan sesaat. Nilai-nilai perjuangan organisasi cenderung luntur seiring dengan semakin besar kesempatan organisasi tersebut untuk dijadikan sebagai alat bargaining position dalam struktur kekuasaan.

Menurut saya, HMI memiliki pola perkaderan yang ketat dan sistematis, mulai Basic Training (LK 1), Intermediate Training (LK 2), Advance Training (LK 3) sampai Senior Course. Training ini menjadi syarat secara berjenjang untuk menduduki posisi struktural di Komisariat, Korkom, Cabang, Badko hingga PB HMI. Soal ini, HMI sangat ketat dan disiplin.

Baca Juga  KAHMI dan HMI Cabang Bireuen Bagikan Paket Sembako Ramadan untuk Pejuang Kebersihan

Kader-kader HMI, sebagaimana kader-kader PMII, adalah kader-kader potensial yang layak untuk diakomodir dan diberi peluang dan ruang yang sama untuk ikut merapikan dan membesarkan NU. Saya tidak tahu, Gus Yahya Cholil Staquf sudah sampai dimana training nya dulu di HMI. Tapi, pengalamannya selama mengabdi di kepengurusan NU kemampuan managerial nya tidak boleh diragukan.

Saya teringat kata-kata Kanda Prof. Dr. Komaruddin Hidayat : Organisation is the first university. Banyak mahasiswa yang justru dimatangkan oleh aktifitasnya di organisasi, bukan di dalam kelas belajar yang reguler. Dengan posisinya sebagai Ketua Umum PBNU, diharapkan Gus Yahya Cholil Staquf bisa mengakomodir para kader HMI yang Nahdhiyin, dan memberi porsi yang sama dengan kelompok-kelompok lainnya. Secara kualitas, para kader HMI tidak kalah kualitasnya, dan tidak kalah komitmen ke-NU-annya dengan kader-kader organisasi lain.

Saatnya Gus Yahya Cholil Staquf untuk berusaha dan dapat mencairkan hubungan kader-kader HMI yang NU dengan kader-kader lainnya di “rumah besar” pengabdian yang bernama NU. Sehingga NU betul-betul akan menjadi tempat yang nyaman untuk seluruh warga NU tanpa diskriminasi, dengan peluang yang sama bagi kader dan warganya untuk membesarkan NU hari ini, besok dan masa depan. Semoga saja harapan mulia terwujud dalam kenyataan !…

Kuta Raja, Sabtu 4 Februari 2023

Share :

Baca Juga

BERANDA

Waspada Hoaks! Pesan “Panggilan +375 & Kode #90 Bajak Rekening” Beredar Lagi, Polisi Tegaskan Tidak Benar

ACEH

Peserta Seleksi Mitra Statistik BPS Aceh Utara Pertanyakan Transparansi Hasil Rekruitmen

BERANDA

Presiden Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala Badan Gizi Nasional

ACEH

Kobarkan Semangat Kepahlawanan, Wabup Zainal Abidin Pimpin Upacara Harlah Pancasila 2026 di Aceh Timur

ACEH

SEKBER Aceh Desak Pemerintah Pusat Perjelas Otsus dan Skema Bagi Hasil Sumber Daya Alam Aceh

BERITA

Gubernur Aceh Minta Menteri ESDM Tunda Persetujuan PoD I Lapangan Tangkulo WK South Andaman

BERANDA

Pecah Telur! Hakim Danish Podium 3 Moto3 Italia, Pembalap Malaysia Pertama Naik Podium GP Sejak 2016

ACEH

3 Hektar Lahan di Julok Terbakar, Camat Imbau Warga Stop Bakar Sampah Sembarangan di Musim Kemarau