Home / BERITA / LIFESTYLE

Minggu, 26 April 2026 - 18:30 WIB

Janji kepada Tuhan yang Terbayar: Aipda Purnomo dan Misi Menolong yang Terlupakan

SURABAYA | MEDIALITERASI.ID — Di balik seragam cokelat yang gagah, tersimpan memori pahit tentang tumpukan utang dan kepulangan ke kampung halaman dengan tangan hampa. Bagi Aipda Purnomo, atau yang akrab dikenal publik sebagai “Polisi Belajar Baik,” pengabdiannya saat ini bukan sekadar tugas negara, melainkan sebuah misi penebusan janji kepada Sang Pencipta.

Lulusan Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) ini kini menjadi sorotan bukan karena pangkatnya, melainkan karena dedikasinya merawat ratusan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan warga telantar melalui yayasannya.

Momen kelulusannya yang dirayakan di Dyandra Convention Center Surabaya pada Minggu, 26 April 2026, menjadi tonggak pencapaian baru dalam hidupnya.

Namun, siapa sangka, di balik toga yang ia kenakan, fondasi kemanusiaan itu lahir dari getirnya kemiskinan di masa muda yang pernah menghimpitnya.

Memori Warung Kopi dan Rasa Iri yang Terpendam

Mengenang masa sekolah, Purnomo bercerita dengan mata berkaca-kaca. Saat teman-teman sebayanya asyik bermain atau menonton hiburan orkes, Purnomo harus bergelut dengan cucian piring di warung kopi milik ibunya.

“Jujur, saya dulu utangnya banyak. Di saat teman-teman bisa sekolah senang, saya harus bantu Ibu jualan kopi. Sebelum berangkat sekolah, wajib bantu dulu. Pulang sekolah pun saya sibuk di belakang warung, cuci piring, sementara teman-teman mengolok saya karena tidak pernah keluar rumah,” kenang Purnomo emosional.

Kesedihan terbesarnya saat itu bukanlah rasa lelah, melainkan melihat orang tuanya yang terus-menerus terlilit utang demi menyambung hidup. Hal inilah yang memicu tekad kuat dalam dirinya: jika suatu saat ia berkecukupan, ia tidak ingin ada orang lain yang merasakan penderitaan serupa.

Baca Juga  Solar Subsidi Dijarah Terbuka, TMI Sumenep Pertanyakan Peran APH dan Pertamina

Dari Cita-cita Kiai Menjadi Penjual Soto di Surabaya

Menariknya, menjadi polisi bukanlah cita-cita awal pria berusia 40 tahun ini. Purnomo muda justru bercita-cita menjadi seorang Kiai dan ingin menimba ilmu di pondok pesantren. Namun, restu sang ayah membawanya ke sekolah negeri, hingga akhirnya ia merantau ke Surabaya untuk menyambung hidup sebagai penjual soto.

“Saya sempat jualan soto di Surabaya sekitar satu setengah tahun, sekitar tahun 1999 sampai 2000. Setiap minggu saya pulang hanya bisa memberi uang 20.000 sampai 40.000 ribu rupiah untuk Ibu,” tuturnya.

Pintu nasib terbuka saat sang tante memberikan informasi pendaftaran polisi. Tanpa bekal apa pun kecuali doa, Purnomo melangkah ke Polda. Di sepanjang perjalanan hingga proses seleksi, lisannya tak berhenti merapal selawat dan surat Al-Fatihah, sembari mengucap janji suci kepada Tuhan.

Baca Juga  JSI dan AJS Tegaskan Komitmen Kritik Konstruktif untuk Masa Depan Sumenep

Janji 10 Persen dan Masa Purna yang Teduh
Saat mendaftar, Purnomo membuat kontrak batin: jika ia diterima menjadi polisi, ia akan menyedekahkan 10 hingga 20 persen penghasilannya untuk anak yatim dan kegiatan sosial.

Janji itu ia pegang teguh hingga kini ia dikenal luas melalui aksi heroiknya menyelamatkan kaum marjinal di jalanan.

Kini, di tengah kesibukannya menyelesaikan studi hukum di Unitomo, Purnomo tengah mempersiapkan masa purnanya dengan membangun masjid dan tempat penampungan yang lebih layak bagi ODGJ, anak jalanan, dan orang telantar.

“Di usia 40 ini, kita harus tahu arah mana yang akan kita tuju. Allah sudah beri kecukupan, sekarang saatnya saya lebih fokus beribadah dan menjadi manfaat bagi lingkungan,” pungkasnya dengan nada rendah hati.

Kisah Purnomo adalah pengingat bahwa masa lalu yang kelam tidak selalu menentukan masa depan yang suram. Baginya, setiap seragam yang dikenakan adalah amanah untuk memastikan bahwa tidak ada lagi “Purnomo-Purnomo” lain yang harus menangis karena jeratan utang dan ketidakberdayaan.

Share :

Baca Juga

INTERNASIONAL

Dari P14 ke P4: Bedah Lap per Lap Comeback Gila Veda Ega Pratama di Moto3 Qatar 2026

ACEH

Tanpa Lamuri, Tidak Ada Aceh Darussalam: Kerajaan 600 Tahun yang Dilupakan

EDUKASI

Viral di X, Postingan “Ada yang Ditangkap di Bandara Mau Kabur” Tembus 380K Views, Faktanya Hanya Kabar Burung

HUKUM

Fachrul Razi: Tragedi Tiro Bukan Soal Bendera, Tapi Soal Nyawa dan Perdamaian Helsinki

ACEH

Beda Keterangan TNI dan Warga soal Tiro, Bupati Pidie: Usut Menyeluruh dan Transparan

ACEH

Dua Tersangka Korupsi Proyek Jalan DAK 2024 di Aceh Tamiang Ditahan, Negara Rugi Rp 1,7 Miliar

BERITA

Polri dan KPAI Perkuat Kerja Sama Lindungi Anak dari TPPO dan Kekerasan

INTERNASIONAL

VEDA EGA PRATAMA DI SIRKUIT LUSAIL, QATAR – DARI ANAK ATC SAMPAI BINTANG MOTO3