Home / OPINI

Kamis, 16 Februari 2023 - 01:58 WIB

Jangan Pernah Takut Kepada Penjilat Kekuasaan

Oleh :

Assoc. Prof. Dr. TM. Jamil, M.Si
Pengamat Politik – USK –
Banda Aceh.

Menjelang Anies akan mengakhiri jabatan sebagai Gubernur DKI waktu itu, ada beberapa orang japri saya, mengirim link media terkait petisi terhadapnya. Diantara mereka ada “orang penting” di Majlis Ulama Indonesia (MUI). Beliau berkomentar : Ternyata, lawan Anies bekerja sistematis untuk menjatuhkannya ya Pak TM?

Hhhmmm…. Semua yang japri minta respon dan tanggapan saya. Apa jawaban saya? Hahaha… Lhok Kok ketawa? Tak serius amat? Si Amat aja tak serius, kenapa saya harus serius?, jawab saya kepada teman waktu itu. Dalam hati saya cuma bilang : “hanya orang bodoh yang mau merespon mainannya para buzzer.”

Seseorang dari fraksi PDIP-DKI memberi komentar: petisi itu tak berafiliasi dengan partai manapun. Mereka adalah orang-orang yang merasa dirugikan. Oh ya? Siapa mereka bung di DPRD? Dari mana asalnya? Jangan-jangan dari Bangka Belitung.

Kerugian apa yang dialaminya? Mirip banjir di Jatiasih Bekasi kemarin, yang disalahin Mas Anies. Bekasi bro! Kenapa tak salahin Ridwan Kamil dan Walikota/Bupati Bekasi? Kenapa salahin Anies? Karena memang Anies yang ditarget. Waduh …!

Bagaimana respon Mas Anies? “Kami bertanggungjawab, dan tidak salahkan siapa-siapa”. Begitu menghadapi banjir, saat itu Anies turun langsung dan ikut lakukan evakuasi korban. Pastikan para pengungsi teratasi dan aman logistiknya. Dimana kementerian sosial? Hhmmm … Tak usah nanya-nanya yang lain dech….

Benar kata kawan saya, “orang penting” di MUI itu. Memang ada upaya sistematis untuk mengganggu Anies. Upaya itu dimulai sejak Anies dilantik jadi gubernur, sampai jabatan berakhir. Apalagi saat ini setelah diumumkan Nasdem sebagai bakal Capres. Publik tahu itu semua …

Ingat kata “pribumi” dalam pidato pelantikan Anies dulu yang dikasuskan? Itu baru pemanasan. Dan tak berhenti sampai sekarang. Sudah lebih dari 5 tahun. Makin ke sini tahun 2023 makin kencang hinaan dan fitnahnya.

Ini semua terjadi bukan saja karena faktor “tak bisa move on”, tapi juga terkait kebijakan Anies yang seringkali mengganggu kepentingan kaum oligarki. Terutama kegalauan mereka menghadapi pilpres 2024. Oh ya? Masih lama, kok galau ya? Itulah realitas … Lihat video orang-orang yang pakai atribut topi sinterklas? Videonya viral kok. Telusuri saja …

Dalam video itu, ada beberapa orang yang karena rajin bully Anies menjadi terkenal. Mereka gelisah. Gelisah kalau Anies jadi presiden. Makin gelisah lagi ketika Anies datang dan turun langsung ke lokasi banjir, warga teriak “Gubernur Rasa Presiden” waktu itu.

Baca Juga  Clip-on Mic Penyebab Ricuhnya Debat Pilgub Aceh

Tidak hanya Anies yang dibully. Semua pihak yang mengapresiasi kinerja Anies juga dibully dan bahkan relawannya. Termasuk kompas, kumparan dan detik.com yang dalam konteks banjir ini berusaha obyektif memotret kerja Anies dan respon warga. Kena bully juga. Jangan-jangan Jaya Suprana dan Sujiwo Tedjo juga akan dibully hanya karena mengapresiasi kerja Anies.

Jangan tanya soal moral dan etika. Bagaimana kita membuat standar moral dan etika untuk orang-orang yang mejadikan banjir dan penderitaan para korban sebagai arena berpolitik? Maksudnya tak bermoral? Ah, jangan terlalu vulgar. Rakyat juga sudah paham kok … Lalu, bagaimana dari sisi politik?

Ini baru butuh analisis dari saya yang lebih detil. Selama ini, “para buzzer” selalu gagal mengganggu Anies. Alih-alih menjatuhkan, justru sebaliknya, setiap kasus malah jadi blessing dan mengangkat nama Anies. Lem aibon, Ambruknya jembatan di hutan kota, dan sekarang soal banjir. Kenapa?

Pertama, “para buzzer” selalu kesulitan untuk mendapatkan issu seksi. Setidaknya hingga hari ini, Anies tak pernah melakukan kesalahan fatal terkait dengan integritas, kebijakan dan komunikasi politiknya. Ini salah satu kelebihan Anies, bicara dan kerjanya sangat terukur.untuk kebaikan. Jadi, tak ada ruang untuk menggarap issu yang berpotensi downgrade Anies.

Kedua, terlalu banyak rekayasa. Penyebaran hoaks dengan data-data invalid dan cenderung asal-asalan justeru jadi faktor kegagalan mereka. Ketika data-data asli dibuka, kelar. Ini terus berulang terjadi. Intinya, para buzzer ini tak bermain taktis.

Hanya euforia sesaat. Ketiga, pola komunikasi “ala preman” justru mendatangkan ketidaksimpatisan publik. Miskin dukungan, bahkan memancing perlawanan banyak pihak. Corat coret wajah Anies dengan berbagai bentuk caci maki yang tak karuan. Mereka tak pernah paham psikologi publik, kecuali hanya berkoar-koar di Youtube. Saya percaya, publik Indonesia masih waras dan cerdas serta Tak suka sampah model seperti itu…

Keempat, walaupun sudah bekerja sistematis, terstruktur dan masif, para buzzer ini tetap kalah jumlah, kalah cerdas, kalah kompak dan kalah militan dibanding para pendukung Anies. Ini yang membuat setiap issu kandas di tengah jalan.

Dan Kelima, Anies tak mudah dipancing untuk bereaksi dan merespon para buzzer itu. Dalam konteks ini, Anies cukup matang dalam sikap dan melakukan komunikasi politik. Itulah kelebihan akademisi terdidik, terpelajar yang santun dan beradab.

Sejumlah orang justru balik simpati dan dukung Anies ketika Anies melakukan komunikasi dengan pihak-pihak yang selama ini “memusuhinya”. Disamping kerja Anies yang terukur. Tentu terukur menurut lembaga-lembaga yang dianggap kredibel oleh publik untuk memberikan penilaian. Termasuk KPK, BPK dan sejumlah kementerian yang jujur.

Baca Juga  KASUS 1 TRILYUN TIDAK BOLEH MENGENDAP

“Saya tak akan menjawab dengan kata-kata, tapi dengan kerja dan karya”, begitulah kata Anies yang sering kita dengar saat dia dihina dan difitnah. Dan Anies telah membuktikannya dengan karya nyata dan sejumlah penghargaan. Terkait banjir yang tak hanya menimpa Jakarta, tapi juga Jawa Timur, Jawa Barat, Banten dan Kalimantan Selatan, Anies tegar di tengah di-bully-an, caci maki dan kebencian.

Fokus kerja, turun langsung ke lapangan dan pimpin pasukan untuk mengatasi dampak banjir. Tak mengeluh. Tak menyalahkan pusat. Dan Tak pernah pula menyalahkan presiden. Tak menyalahkan kepala daerah lain. Tak nyalahin hujan. Tak nyalahin air laut yang sedang pasang. Tak nyalahin tiga belas sungai.

Anies juga tidak pernah bilang : “banjir akan lebih mudah di atasi jika dia jadi presiden”. Anies tak pernah bilang begitu. Kalau pada akhirnya nanti Anies jadi presiden dan melanjutkan program-program yang sudah dimulai dan dikerjakan Pak Jokowi, itu soal lain dan sudah takdir serta penyerahan dari pemilik kekuasaan yang sesungguhnya.

Lima fakta ini yang membuat lawan politik Anies seperti tak menemukan ruang yang cukup untuk merusak nama Anies. Ini bisa dilihat dari kegalauan mereka dalam video yang viral beberapa waktu dan juga sampai hari ini. Bisa dimaklumi.

Di satu sisi, mereka tak siap ditinggal Jokowi pensiun di 2024. Di sisi lain, mereka tak punya tokoh yang kompetitif untuk dilawankan dengan Anies. Enggak tahu kalau pada akhirnya mereka mencalonkan Abu Janda, Denny Siregar atau Arde Armando untuk menjadi kompetitor Anies. Menurut saya, Perlu juga dicoba dan diberi kesempatan. Bersikaplah santun dan sportif jika mereka beradab.

Yang publik tak bisa maklumi, mengapa mereka tak punya rasa empati kepada para korban. Di saat banjir tiba dan penderitaan menimpa bangsa ini, para buzzer justru makin masif produksi bullyan dan caci maki. Dimana nurani mereka? Di sisi lain, walaupun terus di-bully, Anies justru malah banjir dukungan dan doa serta simpati.

Untuk itu, Mas Anies – jangan pernah takut kepada penjilat, teruslah berbuat yang terbaik bagi bangsa ini. Karena Tuhan tak pernah tidur dan membiarkan hamba-Nya yang tulus untuk berkarya dan santun dalam kata dicaci dan dihina oleh pihak manapun di bumi ini. In Sya Allah. Aamiin …

Banda Aceh, 16 Pebruari 2023

Share :

Baca Juga

OPINI

UUPA Bukan Belas Kasihan Jakarta: Aceh Jangan Terus Dipimpin oleh Keberanian Palsu

OPINI

Aceh Tidak Lagi Butuh Wacana : Saatnya Kebijakan dan Keberanian Politik untuk Kedaulatan Energi

EDUKASI

Generasi Emas atau Generasi Brutal? Ketika Pendidikan Melahirkan Kecerdasan tanpa Nurani dan Demokrasi Kehilangan Etika

OPINI

Bangkit atau Sekadar Bertahan? Indonesia di Tengah Krisis Moral Generasi

EDUKASI

Hari Kebangkitan Nasional 2026: Menyelamatkan Generasi di Tengah Krisis Digital

ACEH

Perdamaian Aceh Belum Tuntas Tanpa Ruang Ekonomi Baru

ACEH

Pergub Aceh No 2 Dicabut Usai Demo Mahasiswa, Penulis: “Kalau Demo Tak Ada, Kebijakan Ini Tak Akan Berubah”

OPINI

Sekolah Tidak Bisa Mendidik Anak Sendirian