Oleh : Rex Andru Sapau Yeimo, Aktivis Kemanusiaan Gereja KINGMI Papua
OPINI – Fenomena dukungan sebagian masyarakat Papua terhadap Israel sering memunculkan pertanyaan di ruang publik. Di saat banyak wilayah di Indonesia memandang isu Israel–Palestina dari perspektif geopolitik atau kemanusiaan, masyarakat Papua khususnya kelompok Kristen menyampaikan sikap yang berbeda. Namun dukungan ini tidak lahir dari pertimbangan politik internasional, melainkan berakar pada identitas rohani, pengalaman sejarah, dan konstruksi teologis yang telah membentuk cara pandang mereka selama puluhan tahun.
Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat bagaimana faktor keagamaan, demografi, dan budaya gereja berinteraksi dalam membentuk imajinasi kolektif masyarakat Papua terhadap Israel.
Di Papua, kekristenan bukan sekadar agama, tetapi bagian dari identitas kultural dan sosial. Data menunjukkan bahwa struktur keyakinan masyarakat Papua sangat mendukung terbentuknya narasi Israel sebagai simbol iman.
Protestan: sekitar 65% penduduk Papua adalah Protestan basis keagamaan yang paling besar. Katolik: sekitar 5–6% penduduk Papua dan Muslim: sekitar 29% populasi Papua.
Dominasi masyarakat Kristen ini menjadi faktor mendasar mengapa simbolisme Alkitabiah, termasuk mengenai Israel, sangat kuat dalam kehidupan masyarakat. Dengan komposisi tersebut, wajar bila ajaran gerejawi yang berkaitan dengan Israel memiliki jangkauan sosial yang luas.
Bagi sebagian masyarakat Papua, Israel bukan sekadar negara modern, melainkan pusat kisah Alkitab. Dalam pengajaran gereja khususnya yang beraliran Injili, Pentakosta, dan Kharismatik Israel dipahami sebagai tanah panggilan Abraham dan para nabi, lokasi pelayanan Yesus Kristus, tempat berdirinya gereja mula-mula.
Narasi ini tidak hanya menjadi ajaran, tetapi telah menjadi bagian dari pembentukan identitas iman masyarakat Papua. Israel dipandang sebagai tanah perjanjian, tempat Allah menyatakan karya-Nya, dan simbol sejarah keselamatan. Dengan demikian, kedekatan spiritual dengan Israel bersumber dari pemahaman iman, bukan dari kalkulasi politik.
Sejak awal abad ke-20, misi gereja Injili dan Pentakosta membawa doktrin yang menekankan pentingnya Israel dalam rencana keselamatan. Pengajaran bahwa Israel adalah “umat pilihan Allah,” bahwa janji kepada Abraham tetap berlaku, serta bahwa orang percaya dipanggil untuk memberkati Israel, telah diwariskan lintas generasi melalui: sekolah Alkitab, khotbah mingguan, seminar kebangunan rohani, dan musik gereja yang bertema Yerusalem atau Sion.
Karena gereja merupakan institusi sosial paling kuat dan paling dipercaya di Papua, ajaran tersebut membentuk cara berpikir umat dalam jangka panjang.
Selain aspek teologis, ada dimensi emosional dan eksistensial. Kisah Israel sebagai bangsa yang pernah mengalami penderitaan panjang tetapi dipulihkan kemudian oleh Tuhan, resonan dengan pengalaman Papua sendiri. Banyak masyarakat Papua melihat paralel antara diri mereka dan kisah Israel: perjalanan panjang, pergumulan, dan harapan akan pemulihan.
Dalam kacamata ini, Israel bukan hanya lokasi geografis atau aktor politik, melainkan simbol ketabahan dan pengharapan.
Dalam dua dekade terakhir, keterhubungan digital semakin memperkuat pandangan pro-Israel di kalangan anak muda Papua. Akses mudah terhadap: khotbah pendeta internasional via YouTube, lagu-lagu rohani bertema Israel, komunitas doa yang menggunakan simbol Israel, serta gaya ibadah karismatik yang ekspresif membentuk budaya rohani baru yang sangat visual dan identitasnya kuat. Di sini, Israel hadir bukan dalam bentuk diskursus politik, tetapi sebagai simbol spiritual yang hidup dalam praktik ibadah sehari-hari.
Penting disadari bahwa dukungan sebagian masyarakat Papua terhadap Israel tidak bisa disamakan dengan dukungan politik luar negeri. Mereka melihat Israel melalui lensa iman, bukan lensa politik. Bagi mereka: mencintai Israel berarti mencintai akar iman Kristen, mendoakan Israel adalah bagian dari penghayatan agama, dan mendukung Israel adalah ekspresi penghormatan terhadap sejarah keselamatan.
Dengan demikian, fenomena ini adalah ekspresi spiritual yang berakar pada identitas religius, bukan orientasi politik.
Pandangan sebagian masyarakat Papua tentang Israel merupakan hasil dari pertemuan antara teologi Kristen, warisan misi kekristenan, paralelitas pengalaman sejarah, dan kekuatan budaya gereja yang dominan. Data demografi menunjukkan bahwa komposisi agama Papua yang mayoritas Kristen menjadi fondasi kuat bagi tumbuhnya narasi Israel sebagai simbol iman dan harapan.
Israel, bagi sebagian masyarakat Papua, bukan sekadar negara, tetapi bagian dari identitas rohani. Melihat fenomena ini melalui kacamata sosial-keagamaan membantu kita memahami bahwa dukungan mereka terhadap Israel adalah ekspresi iman yang hidup terbentuk oleh sejarah, dipertahankan oleh pengajaran gereja, dan diperkuat oleh budaya digital generasi muda.







