Veda Ega Pratama mendapat keuntungan setelah Brian Uriarte didiskualifikasi. Persaingan Moto3 2026 kini semakin ketat memasuki paruh musim.Foto -Ig Brian Uriarte
Medialiterasi.id | Jakarta – Persaingan Moto3 2026 makin panas dan kian politis. Diskualifikasi Brian Uriarte oleh FIM Steward jadi titik balik klasemen. Veda Ega Pratama otomatis diuntungkan, tapi keputusan itu justru memunculkan kritik tajam: kenapa investigasi baru final setelah balapan selesai dan poin sudah dirayakan tim KTM?
Paruh musim Moto3 2026 memang milik duel Veda vs Uriarte. Pembalap muda Indonesia dari Astra Honda Motor konsisten bertarung di grup depan dengan Honda NSF250RW, mengandalkan pengereman dalam dan kecepatan masuk tikungan. Sementara Uriarte, andalan KTM, mengandalkan akselerasi dan top speed di trek lurus.
Karakter balap beda, tontonan seru. Tapi rivalitas itu kini ternoda keputusan steward yang datang terlambat.
Insiden “Dibedah” Setelah Bendera Finish
Menurut narasi paddock, insiden yang melibatkan Uriarte langsung dipelajari steward pasca balapan. Data telemetri, rekaman onboard, dan aspek teknis dibongkar habis. Hasilnya: diskualifikasi. Semua poin seri itu dicabut dari Uriarte.
Masalahnya: detail pelanggaran masih simpang siur di media sosial. Dokumen resmi FIM/FIM Stewards belum diurai jelas ke publik. Di era MotoGP yang serba transparan, keterlambatan rilis “why” di balik DSQ Uriarte justru memicu spekulasi liar.
Kritisnya: kalau memang pelanggaran teknis atau riding violation itu fatal, kenapa tidak diputus saat balapan? Tim dan pembalap berhak dapat kepastian real-time, bukan “bom waktu” yang meledak setelah champagne party selesai.
Uriarte Kehilangan Poin, Momentum KTM Ambruk
Dampaknya telak. Moto3 2026 adalah perang poin. Selisih 1-3 poin bisa menentukan nasib kontrak 2027. Dicabutnya poin Uriarte bukan cuma merugikan pembalap Spanyol itu, tapi mengguncang strategi KTM Ajo/Husqvarna GasGas sepanjang paruh kedua.
Tim mau tidak mau harus reset: mapping risiko, gaya balap, dan komunikasi dengan steward. Satu kesalahan interpretasi regulasi bisa mengubur target gelar dunia.
Veda Ega Dapat Angin, Tapi Tantangan Belum Selesai
Di sisi lain, Veda Ega Pratama dapat momentum. Konsistensinya mengamankan poin di berbagai kondisi—basah, panas, senggolan grup—jadi modal utama. Kematangan balapnya naik: lebih sabar, minim crash, dan lihai membaca ritme balapan Eropa.
Tapi jangan buru-buru euforia. Paruh kedua Moto3 2026 diprediksi lebih brutal. Selisih poin antar pembalap top masih tipis. Satu DNF, satu penalti “long lap”, klasemen bisa jungkir balik.
Kunci Veda: 1) Konsistensi finish, 2) Strategi tim AHM soal ban & set-up, 3) Adaptasi cepat ke sirkuit teknikal seperti Sachsenring, Red Bull Ring, Misano.
Kritik untuk FIM: Transparansi Itu Wajib
Balap motor modern butuh 3 hal: cepat, adil, transparan. Diskualifikasi Uriarte memenuhi 2 hal pertama, tapi gagal di transparansi. Publik, tim, bahkan pembalap lain berhak tahu detail pelanggaran: pasal berapa, bukti telemetri mana, preseden apa yang dipakai.
Kalau FIM Steward terus “menutup pintu”, kredibilitas regulasi Moto3 akan diragukan. Jangan sampai gelar dunia 2026 diputuskan bukan di lintasan, tapi di ruang sidang yang gelap.
Satu hal pasti: nama Veda Ega Pratama kini bukan lagi “pembalap Asia yang ikut-ikutan”. Ia sudah jadi kandidat serius perebut 5 besar dunia. Tinggal bagaimana ia dan AHM menjaga fokus saat tekanan dan politik paddock makin liar.
(AYD)







