Home / OPINI

Selasa, 1 Agustus 2023 - 03:32 WIB

BERHENTILAH UNTUK MEMBANGGAKAN DIRI : INI PRESTASIKU, DAN MANA PRESTASIMU?

Oleh :

T.M. Jamil
Associate Profesor
Social Scientiest
Universitas Syiah Kuala, Aceh.

DI PAGI INI dalam perjalanan tugas sebagai seorang “Ayah,” dan dibalut dengan sepinya pagi serta suasana hujan gerimis yang menyirami bumi, teringat pada sebuah artikel sebelumnya yang telah saya tuliskan, bahwa tiada manusia – tanpa lingkungan huniannya – kenal dia siapa sesungguhnya. Wadah itu selalu mempengaruhi isi, dan isi mempengaruhi wadah, serta saling mengkondisikan dan melengkapinya. Begitulah kepribadian manusia dibentuk di tengah lingkungannya, baik cara berkehendak, berfikir, bersikap berbuat hingga cara dalam berkarya.

Seorang putra Jawa yang dilahirkan serta dibesarkan di Aceh, setelah pemuda itu, pindah tugas ke Jawa, mendadak selera makannya menolak dengan makanan yang cenderung manis. Sejak lahir ia telah dibentuk ditengah alam makanan yang kaya rempah-rempah serta cenderung pedas, ia pun tak menilai plus dengan sikap wanita desa di Jawa yang cenderung gemulai, karena sejak kecil ia dibentuk dengan suasana kultur dimana wanitanya pun gesit, gagah tak kalah dengan seorang laki-laki. Dan sore hari, ia diskusi bahkan debat dengan saudara sepupunya yang dilahirkan dibesarkan di Jawa, masing-masing mengunggulkan siapa? … Ibunya …

Baca Juga  Board of Peace : Ujian Legitimasi Multilateralisme dan Komunikasi Damai Global

Kepribadian yang ada pada setiap individu, termasuk saya – bukanlah sekedar warisan, tetapi bentukan. Lingkungan alam serta manusia, yang ibarat ibulah yang membentuk kepribadian kita, termasuk alam kesadaran, di situ hidup nilai-nilai, mana yang dipilih, mana yang tidak, dalam semua aspek kehidupan.

Begitupun bisa terjadi, seorang putra Aceh dilahirkan, dibesarkan di Pulau Jawa, kemudian setelah pemuda ia kembali ke Aceh. Lalu pertanyaannya, siapa yang berhak berkata, “Saya Orang Aceh, Atau Jawa?”. Untuk apa mengatakan orang Aceh jika kepribadian yang ditunjukan dalam aspek kehidupan ialah kultur Jawa, dan sebaliknya. Lalu buat apa kita harus meributkan soal suku, etnis atau asal tempat tinggal?

Suku Bangsa. Indonesia adalah sebuah negeri kesatuan, dimana menolak tampil sendirian setiap individu mengatas namakan “suku” nya saja, yang diterima hanyalah SUKU BANGSA yang dilahirkan dibesarkan atas nama Ibu Pertiwi, karena memang kepribadian setiap manusia itu hasil bentukan di mana alam ia dilahirkan, dibesarkan yang ibarat ibu serta bapaknya.

Tuhan telah meng kodratkan semua manusia, tanpa sadar menepuk dadanya, atau mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas saat menjuarai suatu kompetisi. Tangan kiri-kanan, dada kiri-kanan, mewakili lambing ibu serta bapak. Dan tentu sebagai warga bangsa, suku bangsa yang dibesarkan di tengah kesatuan atas nama Ibu Pertiwi, yang kita harus kenali cintai serta bela, bukan lagi kepribadian atas nama golongan, suku atau etnis melainkan bangsa. Sehingga di tengah mata dunia, kita bisa berteriak lantang, “Hai Dunia !!! … Ini Dadaku, Mana Dadamu …” Atau bagi saya, lebih tepat kita mengatakan : “Ini Prestasiku, dan Mana Prestasimu?”

Baca Juga  UIN Ar-Raniry Butuh Nahkoda, Bukan Sekadar Penjaga Mesin

Semoga dengan di rumuskannya pemikiran Falsafah Bhinneka Tunggal Ika, yang merupakan ruh bagi Pancasila, dan e-book full version-nya pun bisa di-download gratis, makin mengarahkan kita untuk menumbuhkan kesadaran kesatuan, kerukunan, gotong royong, serta saling memberi manfaat bersama demi kesatuan dan persatuan bangsa. Untuk itu, mulai saat ini, mari kita berhenti untuk membanggakan diri sendiri dan berusaha untuk menjauhkan cara-cara “berpikir sektoral dan kampungan.” Dengan harapan, kelak kita akan menjadi bangsa yang besar, hebat dan bermartabat dalam Pangkuan Ibu Pertiwi … In Sya Allah …

Share :

Baca Juga

OPINI

Belajar dari Malikussaleh: Mengapa Peradaban Besar Sulit Kita Warisi?

BERANDA

Dikritisi Tajam: 8 Langkah Kontroversial Gianni Infantino yang Dinilai Jauhkan FIFA dari Semangat Sportivitas

OPINI

Jejak Budaya Lhokseumawe dari Masa ke Masa

BERANDA

“Fifanic” Viral, Kasparov dan Mourinho Kecam FIFA Usai Gol Mesir Dianulir di Laga Kontra Argentina

BERANDA

Dua Putra Aceh di Balik Radio Rimba Raya yang Melawan Propaganda Belanda

EDUKASI

Insinyur Hebat Lahir dari Karakter yang Kuat.

EDUKASI

Minggu Pertama Sekolah: Jangan Terburu Mengejar Materi, Bangunlah Fondasi Belajar yang Akan Bertahan Setahun
tuti liana

EDUKASI

Menumbuhkan Literasi Sains dan Lingkungan melalui Inovasi Pembelajaran STEM