Dari Slogan ke Standar Kerja: Publik Lampineung Menagih Wujud Nyata Abeh Ubee Abeh Persiraja
MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH – Ada satu kalimat yang dulu begitu kuat melekat dengan Persiraja Banda Aceh.
“ABEH UBEE ABEH.”
Sederhana dalam ucapan, tetapi besar dalam makna. Kalimat dalam bahasa Aceh itu menegaskan tekad: memberikan sesuatu yang lebih, melakukan yang terbaik, dan membangun tim dengan kesungguhan hati.
Namun di tengah perjalanan kompetisi Pegadaian Championship 2026/2027, publik Lampineung layak bertanya dengan jujur: apakah slogan itu masih benar-benar tercermin dalam wajah Persiraja hari ini?
Pertanyaan ini mencuat bukan semata soal menang atau kalah. Persiraja baru saja melewati masa sulit empat kekalahan beruntun di awal musim, sempat bangkit dengan kemenangan 3-1 atas PSIS Semarang, lalu kembali tertahan 0-0 melawan Adhyaksa FC di kandang sendiri pada Sabtu (17/10/2026).
Persoalannya lebih dalam: soal arah pembangunan tim.
Musim lalu, Persiraja melakukan perombakan besar-besaran. Komposisi pemain dibangun dengan ekspektasi tinggi. Musim ini pun kembali dilakukan perubahan dan penambahan pemain, termasuk mendatangkan legiun asing dan beberapa nama baru di semua lini.
Artinya, kesempatan, waktu, dan dukungan untuk membangun tim yang kompetitif sebenarnya sudah diberikan sepenuhnya oleh publik Aceh.
Tetapi ketika pertandingan berjalan dan masalah-masalah lama kembali terlihat, mulai dari efektivitas lini depan yang tumpul, pilihan pemain yang dipertanyakan, tipisnya kedalaman skuad, hingga minimnya kontribusi dari beberapa pemain rekrutan, wajar jika publik mulai mempertanyakan: apa yang sebenarnya ingin dicapai dari perombakan ini?
Karena “Abeh Ubee Abeh” bukan sekadar tulisan yang bagus untuk dipasang di belakang jersey atau backdrop konferensi pers.
Jika slogan itu lahir dari keyakinan manajemen, maka semangatnya harus terlihat nyata dalam setiap langkah: dalam proses rekrutmen yang selektif, dalam komposisi tim yang seimbang, dalam keputusan teknis yang berani, dalam keberanian untuk mengevaluasi, dan pada akhirnya, dalam hasil kerja di atas lapangan.
Publik Aceh sesungguhnya tidak pernah menuntut Persiraja untuk selalu menang.
Yang diinginkan publik jauh lebih sederhana: melihat bahwa setiap keputusan yang diambil oleh manajemen benar-benar mengarah pada satu tujuan yang sama, yaitu MEMBUAT PERSIRAJA LEBIH BAIK.
Dan jika kenyataan di lapangan belum sesuai dengan harapan, maka evaluasi bukanlah bentuk perlawanan terhadap manajemen. Evaluasi adalah bentuk kepedulian paling jujur dari suporter.
Sebab Persiraja bukan hanya milik mereka yang duduk di ruang manajemen di Kantor Persiraja.
Persiraja adalah kebanggaan, identitas, dan harga diri masyarakat Aceh. Ia milik semua orang yang datang hujan-hujanan ke Dimurthala, yang berteriak dari tribun, dan yang mendoakan dari kampung-kampung.
Maka, mungkin sudah waktunya slogan “Abeh Ubee Abeh” tidak hanya menjadi slogan yang diucapkan, tetapi menjadi standar kerja yang harus dibuktikan.
Kalau ada yang kurang, perbaiki.
Kalau ada yang keliru, evaluasi.
Kalau ada yang belum bekerja maksimal, benahi.
Karena pada akhirnya, yang ingin dilihat publik bukan seberapa indah slogannya terdengar.
Tetapi seberapa nyata “Abeh Ubee Abeh” itu terasa denyutnya di atas lapangan hijau. (*)
TULISAN: Perspektif Pak Zul
Disempurnakan oleh: Redaksi Medialiterasi.id
Editor: Ayah Didien SCK
Foto: Istimewa | Stadion H. Dimurthala Lampineung







