Home / OPINI

Minggu, 18 Oktober 2026 - 13:03 WIB

Masker Untuk Rakyat, Topeng Untuk Penguasa: Ketika Negara Gagal Melindungi Warganya

MEDIALITERASI.ID | OPINI — Ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengepung kehidupan rakyat, pemerintah boleh menganjurkan masyarakat memakai masker. Namun, ada satu hal yang harus diingat oleh para penguasa: masker dapat melindungi pernapasan rakyat, tetapi tidak dapat menutupi kegagalan pemerintah.

Jangan sampai masker menjadi simbol ironi kekuasaan: rakyat disuruh melindungi paru-parunya sendiri, sementara negara gagal melindungi hak mereka atas lingkungan yang sehat dan udara yang layak dihirup.

Dalam perspektif politik dan tata kelola pemerintahan, bencana bukan sekadar persoalan alam. Ia juga merupakan ujian terhadap kapasitas negara, kualitas kebijakan publik, efektivitas penegakan hukum, dan tanggung jawab politik pemegang kekuasaan.

Baca Juga  PETUGAS PARTAI

Jika karhutla terus berulang, pertanyaan mendasarnya bukan hanya siapa yang membakar hutan, melainkan juga mengapa pencegahan gagal, pengawasan lemah, penegakan hukum tidak memberikan efek jera, dan kerusakan ekologis terus mengancam kehidupan masyarakat.

Rakyat tidak membutuhkan penguasa yang hanya pandai mengeluarkan imbauan. Rakyat membutuhkan negara yang mampu mencegah bencana, menindak pelaku, memulihkan lingkungan, dan menjamin keselamatan warganya. Sebab, pemerintahan tidak diukur dari banyaknya pernyataan pejabat di hadapan kamera, melainkan dari kemampuannya menyelesaikan persoalan nyata yang mengancam kehidupan rakyat.

Camkanlah: jangan meminta rakyat memakai masker untuk menghadapi asap, sementara penguasa memakai topeng untuk menyembunyikan kegagalannya.

Masker mungkin mengurangi paparan asap. Namun, tidak ada masker yang mampu menyaring kebohongan, membersihkan kelalaian, atau menghapus tanggung jawab politik.

Baca Juga  PAK MAHFUD CUMA OMDO

Dan ketika negara tidak berdaya melindungi rakyatnya, yang sedang terbakar bukan hanya hutan dan lahan, melainkan juga kepercayaan publik terhadap kekuasaan.

Sebab, kekuasaan tanpa kemampuan melindungi rakyat hanyalah jabatan tanpa makna.

Salam Takzim, TM. Jamil

Share :

Baca Juga

OPINI

Opini Guru Besar USK: Bendera Bintang Bulan Aceh dan Ujian Kepastian Hukum Negara

OPINI

Waktu Akan Membuktikan: Penjilat Pergi Saat Kepentingan Habis, yang Tulus Tetap Setia

OPINI

Kepemimpinan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dalam Spektrum dan Lanskap Polri Bersama Masyarakat dan Bhayangkara Negara

EDUKASI

Dari Penilaian ke Asesmen, dari Hukuman ke Disiplin Positif: Menguji Wajah Baru Pendidikan Indonesia

HUKUM

Ketika Klien Bertanya: Memahami Hak dan Peran Advokat dalam Perkara Hukum

OPINI

Untuk Para Pakar Yang Dianggap Goblok, Jangan Pernah Kapok

OPINI

ANALISIS: Dua Gerbang Energi Dunia Terkunci, Indonesia Waspada Krisis Logistik Global

ACEH

Maulid Nabi di Pulo Gajah Mate Meriah dengan Zikir dan Rapai, Tgk. Asnawi Ajak Generasi Muda Teladani Rasulullah SAW