Oleh: Juni Ahyar
Akademisi, peneliti, pemerhati pendidikan dan bahasa
OPINI – Pemilihan Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) menjadi momentum penting untuk menentukan arah tata kelola dan pengembangan akademik perguruan tinggi negeri tersebut. Proses pemilihan rektor semestinya tidak hanya berorientasi pada pergantian kepemimpinan administratif, tetapi juga menjadi ruang untuk memastikan terpilihnya pemimpin yang memiliki kompetensi, integritas, dan visi akademik yang kuat.
Bagi Unimal, proses tersebut memiliki arti strategis. Kampus yang berada di Aceh, daerah dengan identitas keislaman yang kuat dan memiliki akar sejarah Kesultanan Samudera Pasai, membutuhkan kepemimpinan yang mampu memadukan profesionalisme akademik dengan nilai-nilai moral.
Dalam perspektif Manajemen Pendidikan Islam (MPI), pemilihan rektor dapat dipandang sebagai proses organisasi yang menempatkan jabatan sebagai amanah. Karena itu, proses penjaringan dan pemilihan harus mengedepankan prinsip objektivitas, transparansi, kompetensi, rekam jejak, serta kepentingan institusi.
Meritokrasi perlu menjadi salah satu prinsip utama. Kompetisi antar kandidat semestinya didasarkan pada kapasitas akademik, pengalaman kepemimpinan, integritas, dan kemampuan mengembangkan universitas, bukan pada kedekatan personal, kepentingan kelompok, atau intervensi kekuasaan.
Rektor juga tidak cukup hanya berperan sebagai pengelola birokrasi. Pemimpin universitas dituntut menjadi academic leader yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian, memperluas jejaring akademik, serta mendorong hasil riset agar memberikan manfaat bagi masyarakat dan dunia usaha.
Dari sisi tata kelola, setidaknya terdapat sejumlah agenda penting yang perlu menjadi perhatian kepemimpinan Unimal ke depan. Di antaranya penguatan integritas, digitalisasi birokrasi, transparansi pengelolaan keuangan, dan perlindungan terhadap otonomi akademik.
Transparansi juga penting dalam pengelolaan berbagai sumber pembiayaan universitas, termasuk Uang Kuliah Tunggal (UKT), dana abadi, serta hibah penelitian. Pengelolaan yang terbuka akan memperkuat kepercayaan sivitas akademika dan masyarakat terhadap institusi.
Pada saat yang sama, kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan perlu mendapat perhatian. Ekosistem kerja yang sehat merupakan salah satu prasyarat bagi peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan akademik.
Rektor terpilih juga menghadapi tantangan untuk memperkuat hubungan antara hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat. Hilirisasi riset, pengembangan kurikulum yang relevan dengan perkembangan teknologi, serta perluasan akses pendidikan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu merupakan bagian dari agenda yang perlu diperkuat.
Universitas juga harus memastikan lingkungan akademik yang aman dan bebas dari kekerasan seksual, perundungan, serta berbagai bentuk diskriminasi dan intoleransi. Perlindungan terhadap sivitas akademika harus menjadi bagian dari tata kelola universitas yang profesional.
Dalam setiap kontestasi kepemimpinan, perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tidak semestinya berkembang menjadi polarisasi yang mengganggu kehidupan akademik.
Nilai fastabiqul khairat, atau berlomba-lomba dalam kebaikan, dapat menjadi semangat dalam menjalankan kontestasi. Sementara itu, prinsip syura atau musyawarah dapat diterapkan untuk membangun komunikasi yang sehat di antara unsur-unsur sivitas akademika.
Aspirasi mahasiswa melalui organisasi kemahasiswaan, termasuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta lembaga akademik seperti Senat Akademik, juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari dinamika kehidupan kampus. Kritik dan masukan yang disampaikan secara bertanggung jawab merupakan bagian dari budaya akademik yang sehat.
Pada akhirnya, keberhasilan pemilihan rektor Unimal tidak hanya ditentukan oleh siapa yang terpilih, tetapi juga oleh bagaimana proses pemilihan tersebut berlangsung. Proses yang transparan, adil, objektif, dan sesuai dengan ketentuan akan menjadi fondasi penting bagi legitimasi kepemimpinan baru.
Unimal membutuhkan rektor yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan integritas moral. Pemimpin baru diharapkan tidak hanya mengejar pencapaian administratif dan akreditasi, tetapi juga membangun budaya akademik yang menjunjung keadilan, profesionalisme, keterbukaan, dan kemaslahatan sivitas akademika.
Dari bumi Malikussaleh, harapannya lahir kepemimpinan universitas yang mampu membawa Unimal semakin maju secara akademik sekaligus tetap memiliki marwah moral sebagai perguruan tinggi yang tumbuh di tengah masyarakat Aceh.
Jum’at 3 September 2026







