![]()
MEDIALITERASI.ID | LHOKSEUMAWE – Tiga mahasiswa Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) mengembangkan TAKO.YU, produk takoyaki berbahan ikan kayu atau keumamah khas Aceh yang dikemas sebagai makanan modern dan praktis.
Produk tersebut dikembangkan melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 kategori Usaha Bertumbuh. TAKO.YU menawarkan takoyaki dengan isian ikan keumamah sebagai pembeda dari produk takoyaki pada umumnya yang identik dengan isian gurita.
Tim TAKO.YU terdiri atas Muhammad Fikri Abdillah sebagai Chief Executive Officer (CEO), Jodius Gulo sebagai Chief Finance Officer (CFO), dan Cut Naila Aqqila sebagai Chief Marketing Officer (CMO). Ketiganya berasal dari latar belakang keilmuan berbeda, yakni Teknik Elektro, Bisnis, dan Teknik Kimia.
TAKO.YU mulai dirintis pada 2021 dan sempat berhenti beroperasi pada 2024. Usaha tersebut kemudian dikembangkan kembali dengan konsep baru yang lebih menonjolkan potensi pangan lokal Aceh, khususnya ikan keumamah.
Muhammad Fikri Abdillah, selaku CEO sekaligus penggagas TAKO.YU, melihat adanya peluang menggabungkan makanan modern yang digemari generasi muda dengan cita rasa khas Aceh.
“TAKO.YU hadir untuk membuktikan bahwa makanan modern tidak harus kehilangan identitas lokal. Melalui takoyaki ikan keumamah, kami ingin membawa cita rasa Aceh lebih dekat dengan generasi muda sekaligus membuka peluang baru bagi pangan lokal untuk berkembang,” ujar Fikri.
TAKO.YU saat ini memprioritaskan ikan keumamah sebagai bahan utama sekaligus identitas produknya. Sebelum berfokus pada keumamah, tim sempat mengembangkan beberapa pilihan isian, antara lain gurita, sosis, dan keju.
Selain menggunakan isian ikan keumamah, TAKO.YU tersedia dalam tiga pilihan saus, yakni Original, Spicy, dan Mentai. Produk juga dikembangkan dalam bentuk frozen food dengan kemasan vacuum seal.
Dengan penyimpanan yang sesuai di dalam freezer, produk diklaim dapat bertahan hingga sekitar dua bulan. Konsep tersebut menjadi salah satu pengembangan produk karena memungkinkan konsumen menyimpan TAKO.YU dan mengonsumsinya pada waktu yang diinginkan.
Dari sisi bahan baku, tim TAKO.YU bekerja sama dengan nelayan dan pengolah ikan lokal. Ikan keumamah yang telah diproduksi pemasok lokal kemudian diolah menjadi isian produk.
Kerja sama tersebut membuka peluang bagi pengembangan rantai ekonomi lokal apabila permintaan terhadap produk meningkat. Tim TAKO.YU juga berencana memperluas kerja sama dengan nelayan, pengolah ikan, UMKM pangan, dan pelaku usaha lokal lainnya.
Dari sisi bisnis, TAKO.YU dikembangkan menggunakan modal internal tim sekitar Rp5 juta lebih pada tahap awal. Dalam pengembangan berikutnya, usaha tersebut memperoleh dukungan pendanaan dan pembinaan melalui P2MW 2026.
Harga jual TAKO.YU dipatok mulai Rp18.000 per porsi, sementara kapasitas produksinya saat ini mencapai sekitar 80 buah per minggu dengan sistem penjualan ready to eat dan frozen food.
Tim menyebut ibu rumah tangga dan generasi Z menjadi target pasar utama. Produk frozen menjadi salah satu pilihan yang diarahkan kepada konsumen rumah tangga, sedangkan konsep makanan kekinian menjadi daya tarik bagi generasi muda.
Untuk menjaga transparansi informasi bisnis, tim belum mempublikasikan secara terbuka data mengenai biaya produksi per porsi, Harga Pokok Produksi (HPP), omzet, volume penjualan, serta besaran pendanaan P2MW.
TAKO.YU dinyatakan sebagai penerima pendanaan P2MW 2026 pada Mei 2026 dan masuk kategori Usaha Bertumbuh.
Program tersebut diikuti ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Berdasarkan data tim, sekitar 4.000 lebih peserta atau tim mengikuti proses seleksi dan sekitar 500 tim dinyatakan lolos sebagai penerima program.
Dukungan P2MW digunakan untuk membantu pengembangan bisnis, antara lain produksi, pengemasan, pengembangan produk, pemasaran, dan promosi. Tim juga menargetkan penguatan legalitas, kapasitas dan kompetensi anggota, branding, strategi pemasaran, serta peningkatan standar produksi.
Bagi tim TAKO.YU, program tersebut memberikan ruang untuk mengembangkan usaha secara lebih terarah, tidak hanya dari sisi produk, tetapi juga pengemasan, branding, pemasaran, dan pengelolaan bisnis.
Pemilihan ikan keumamah sebagai bahan utama tidak semata-mata didasarkan pada aspek rasa. Tim melihat keumamah sebagai pangan khas Aceh yang memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi.
Melalui pendekatan produk modern, tim berharap keumamah dapat menjangkau konsumen yang sebelumnya kurang terbiasa mengonsumsi pangan tradisional Aceh.
Respons awal konsumen juga dinilai cukup positif. Uji coba produk telah dilakukan kepada mahasiswa, anak muda, orang tua, dan dosen. Konsumen yang sebelumnya kurang mengenal makanan Jepang disebut tertarik karena adanya cita rasa keumamah.
Dalam satu tahun ke depan, tim menargetkan peningkatan kapasitas produksi, perluasan pasar, penguatan branding, serta penyelesaian berbagai aspek legalitas dan sertifikasi.
TAKO.YU juga menyiapkan pemasaran melalui media sosial dan kanal digital. Untuk pasar luar Aceh, tim mempertimbangkan kebutuhan distribusi produk frozen, termasuk penggunaan ice box, cold chain, dan kemasan yang mampu menjaga kualitas produk selama pengiriman.
Dari sisi legalitas, TAKO.YU telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Sementara itu, proses sertifikasi halal dan legalitas pangan lainnya masih berjalan. Sistem dan desain pelabelan produk juga masih dalam tahap penyempurnaan.
Saat ini usaha tersebut masih dijalankan oleh tiga anggota inti. Seiring dengan pertumbuhan usaha, tim berharap dapat membuka peluang penambahan tenaga kerja dari masyarakat sekitar.
Dengan menggabungkan pangan lokal, inovasi produk, dan konsep bisnis makanan modern, TAKO.YU menempatkan ikan keumamah bukan hanya sebagai bagian dari kuliner tradisional, tetapi juga sebagai bahan baku yang memiliki peluang untuk masuk ke pasar makanan kekinian.
Tim berharap pengembangan TAKO.YU dapat menjadi salah satu contoh bahwa pangan lokal Aceh dapat diberi nilai tambah melalui inovasi mahasiswa sekaligus dikembangkan menjadi usaha yang berkelanjutan. (EQ)







