Oleh: Dr. H. Afkar, S.Pd., M.Pd.
OPINI – Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya laut yang sangat besar. Namun, berbagai tantangan seperti degradasi terumbu karang, kerusakan ekosistem mangrove, pencemaran pesisir, dan perubahan iklim menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan ekosistem tersebut.
Dalam kondisi demikian, perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk menghadirkan solusi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sebagai akademisi di bidang Pendidikan Biologi dan ekologi laut, saya memandang bahwa penelitian tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah semata. Hasil riset harus mampu menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan, penguatan pendidikan lingkungan, serta mendorong lahirnya kesadaran masyarakat untuk menjaga sumber daya alam secara berkelanjutan. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, masyarakat, dan dunia pendidikan menjadi kunci dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
Perjalanan akademik yang saya tempuh pendidikan Sarjana (S1) Pendidikan Biologi di Universitas Syiah Kuala pada tahun 2010, Magister Pendidikan Biologi di universitas yang sama pada tahun 2015, dan meraih gelar Doktor Ilmu Biologi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara pada tahun 2024.
Sejak tahun 2015, saya mengabdikan diri sebagai dosen tetap. Selain menjalankan tugas pendidikan, saya juga dipercaya mengemban sejumlah amanah di bidang tata kelola penelitian, antara lain sebagai Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Ketua LPPM hingga Januari 2026, serta Verifikator Science and Technology Index (SINTA) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa peningkatan mutu penelitian tidak hanya ditentukan oleh produktivitas publikasi, tetapi juga oleh integritas, tata kelola, dan kebermanfaatannya bagi masyarakat.
Dalam aktivitas organisasi profesi, saya aktif sebagai pengurus Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI), Himpunan Pendidik dan Peneliti Biologi Indonesia (HPPBI), Forum Dosen Indonesia (FDI) Aceh, serta Ikatan Dosen Republik Indonesia (IDRI) Aceh. Keterlibatan tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat jejaring akademik sekaligus mendorong peningkatan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.
Fokus penelitian yang saya tekuni berada pada bidang ekologi laut, khususnya kesehatan terumbu karang, konservasi mangrove, dan biodiversitas organisme laut. Salah satu kajian yang dilakukan meneliti hubungan Christmas Tree Worm (Spirobranchus spp) dengan kesehatan ekosistem terumbu karang di Pulau Weh, Sabang, Aceh.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keberadaan organisme tertentu dapat menjadi indikator biologis dalam menilai kondisi ekosistem karang sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai dasar pengelolaan kawasan konservasi.
Selain itu, penelitian mengenai pemulihan ekosistem karang di perairan Jaboi, prevalensi gangguan kesehatan karang di kawasan konservasi Benteng Pulau Weh, serta status konservasi mangrove di kawasan Krueng Reuleng, Aceh Besar, menjadi bagian dari upaya menghadirkan data ilmiah yang dapat mendukung pengambilan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy). Hasil-hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus.
Bagi saya, publikasi internasional bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk menyebarluaskan hasil penelitian agar dapat dimanfaatkan oleh komunitas ilmiah global. Lebih penting lagi, hasil riset tersebut harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang berkelanjutan.
Di bidang akademik, saya juga aktif sebagai editor Jurnal Rambideun Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Almuslim, reviewer pada sejumlah jurnal nasional, serta penulis berbagai buku ajar dan referensi ilmiah. Hingga saat ini, telah diterbitkan sejumlah buku yang membahas metodologi penelitian, manajemen pendidikan, biokimia farmasi, struktur dan perkembangan hewan, kewirausahaan biologi, karakteristik mangrove, hingga pembelajaran berbasis teknologi digital. Seluruh karya tersebut disusun untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi maupun sekolah.
Transformasi pendidikan di era digital menuntut dosen untuk tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga peneliti, inovator, dan fasilitator pembelajaran. Oleh karena itu, integrasi teknologi dalam proses pembelajaran menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, adaptif, kolaboratif, dan mampu memberikan solusi terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Ke depan tantangan lingkungan akan semakin kompleks. Karena itu, sinergi antara penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat perlu terus diperkuat agar ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang laboratorium atau jurnal ilmiah, melainkan hadir sebagai solusi bagi pembangunan yang berkelanjutan. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan inovasi yang berdampak, sekaligus membentuk generasi yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan masa depan bangsa.[]
Matangglumpangdua, 28 Juni 2026







