Rekor 13 Negara Muslim Pecahkan Sejarah di Turnamen Tertinggi
MEDIALITERASI.ID | JAKARTA – Piala Dunia FIFA 2026 bukan hanya soal gol dan trofi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, suara adzan terasa paling nyaring di panggung sepakbola tertinggi dunia. Sebanyak 13 negara berpenduduk mayoritas Muslim lolos ke putaran final. Angka itu setara 27% dari total 48 peserta, dan menjadi yang terbanyak sepanjang gelaran Piala Dunia.
Fenomena ini menandai pergeseran: Islam tidak lagi sekadar hadir, tapi menjadi kekuatan yang diperhitungkan.
13 Bendera, Satu Narasi Baru: Daftar negara Muslim di Piala Dunia 2026 memecahkan rekor sebelumnya. Mereka adalah Arab Saudi, Qatar, Jordania, Tunisia, Aljazair, Turkiye, Maroko, Mesir, Senegal, Bosnia-Herzegovina, Iran, Irak, dan Uzbekistan.
Dari 13 nama itu, Maroko muncul sebagai yang paling disorot. Tim Singa Atlas berada di peringkat 6 FIFA per Juni 2026. Posisi itu hanya kalah dari Argentina, Prancis, Spanyol, Inggris, dan Brasil.
Prestasi Maroko bukan kebetulan. Empat tahun lalu di Qatar 2022, mereka menjadi tim Afrika dan Arab pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia, dan finis di posisi ke-4. Momentum itu masih hidup.
Buktinya, hingga laga terakhir melawan Haiti dengan skor 4-2, Maroko mencatatkan 32 pertandingan beruntun tanpa kekalahan. Rinciannya: 27 kemenangan dan 5 hasil imbang. Stabilitas langka di level internasional.
Diaspora Jadi Senjata Maroko: Kekuatan Maroko juga datang dari luar negaranya. Skuad mereka diisi banyak pemain diaspora yang bermain di liga-liga top Eropa. Spanyol, Prancis, Inggris, Belanda, dan Jerman menjadi rumah bagi mayoritas penggawa Singa Atlas.
Tempaan di kompetisi paling keras di dunia membuat mereka pulang ke timnas dengan mental dan kualitas yang jauh lebih tajam. Kombinasi ini yang membuat Maroko sulit dikalahkan.
Islam Hadir di Mana-mana, Bukan Hanya di 13 Negara: Yang menarik, kehadiran Muslim di Piala Dunia 2026 tidak berhenti di 13 negara tersebut. Pemain beragama Islam kini ada di hampir semua tim, termasuk negara-negara non-Muslim.
Beberapa nama: Ismael Kone dari Kanada, Yasin Ayari dari Swedia, Ousmane Dembele dari Prancis, dan Lamine Yamal dari Spanyol. Daftar serupa juga ada di Swiss, Inggris, Jerman, hingga Amerika Serikat.
Artinya, nilai, identitas, dan sujud syukur setelah mencetak gol kini menjadi pemandangan umum di setiap stadion Piala Dunia. Sepakbola global sedang melihat wajah Islam yang lebih luas dan beragam.
Panggung Baru Sepakbola Dunia: Data ini menegaskan satu hal: Piala Dunia 2026 adalah turnamen paling inklusif secara religius dalam sejarah modern. Dari Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah, hingga Eropa dan Amerika, bendera-bendera negara Muslim berkibar bersamaan.
Maroko memimpin dari sisi prestasi. Negara-negara lain membawa narasi pertumbuhan. Dan para pemain Muslim di tim non-Muslim menunjukkan bahwa identitas dan prestasi bisa berjalan beriringan.
Piala Dunia memang milik semua. Tapi tahun ini, “berjuta sujud” terasa lebih banyak dari sebelumnya.
Apa fakta lain tentang Islam di Piala Dunia 2026 yang menurut Anda penting dan terlewat? Tulis di kolom komentar.
Artikel ini merupakan opini berdasarkan data partisipasi dan performa tim hingga 25 Juni 2026. (AYD)







