MEDIALITERASI.ID | TORONTO – Detik terakhir Stadion Toronto jadi saksi bisu. Caleb Yirenkyi melepaskan tembakan yang mengubah segalanya. Gol internasional pertamanya sekaligus gol penentu. Black Stars asuhan Carlos Queiroz tundukkan Panama 1-0 di laga sengit Piala Dunia.
Kemenangan sulit, tapi pantas. Ghana harus berterima kasih pada keberuntungan dan Benjamin Asare. Kiper itu jadi tembok di babak pertama. Dua peluang emas Panama ia gagalkan.
Panama Gagal Manfaatkan Peluang Emas
Los Canaleros memulai dengan tajam. Umpan silang rendah Amir Murillo disambar Cecilio Waterman di kotak penalti. Sayang, Asare menepisnya.
Beberapa menit kemudian gawang Ghana kembali selamat. Tepisan buruk Asare jatuh ke kaki Jiovany Ramos. Bek itu punya ruang tembak terbuka. Tapi bola melambung tinggi.
Babak kedua Panama kembali mengancam. Cristian Martinez nomor 6, menguasai bola lepas di area 12 pas. Tipuan cerdik ia lakukan untuk membuka ruang. Namun tembakannya hanya mengenai jala samping gawang. Sial bagi Panama, berkah bagi Ghana.
Queiroz Turunkan Kartu As, Yirenkyi Jawab
Carlos Queiroz, pelatih dengan rekor 5 Piala Dunia beruntun, tahu harus bergerak. Menit ke-60 ia lakukan pergantian ganda. Brandon Thomas-Asante masuk dan langsung bikin kacau pertahanan Panama.
Satu umpan silangnya hampir jadi gol Jordan Ayew. Ramos sigap melakukan tekel penyelamatan. Skor masih 0-0. Laga makin terbuka, jual beli serangan terjadi.
Puncaknya menit-menit akhir. Thomas-Asante menusuk dari sisi kiri, menusuk kotak penalti, lalu mengirim umpan matang. Yirenkyi tak menyia-nyiakan. Gol! 1-0 untuk Ghana.
Gol itu menutup harapan Panama meraih poin pertama di Piala Dunia. Bagi Yirenkyi, itu gol internasional pertama yang langsung jadi pahlawan.
Rekor Queiroz dan Misi Black Stars
Kemenangan ini penting untuk Ghana. Tiga poin pertama di Piala Dunia, modal berharga untuk laga berikutnya. Queiroz sekali lagi membuktikan jam terbangnya. Lima Piala Dunia berturut-turut, rekor yang disamainya dengan pelatih elit dunia.
Panama pulang dengan kepala tegak tapi tangan kosong. Mereka menciptakan peluang, tapi tumpul di penyelesaian akhir. Ghana? Efektif di saat genting. Itu bedanya laga Piala Dunia.
(AYD)







