Medialiterasi.id | Banda Aceh – Yayasan Kahfisa Aceh akan menggelar program Backpacker Ramadan Goes to Bireuen pada 6–7 Maret 2026 di Sekolah Alam Bireuen. Kegiatan ini merupakan aksi kolaboratif untuk memberikan dukungan psikososial kepada masyarakat, khususnya anak-anak penyintas banjir di sejumlah wilayah Aceh.
Pendiri Yayasan Kahfis Aceh, Nurhidayah…. mengatakan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh beberapa waktu lalu masih menyisakan duka dan keresahan bagi masyarakat hingga saat ini. Menurutnya, dampak bencana tidak hanya dirasakan pada kerusakan rumah dan harta benda, tetapi juga pada kondisi psikologis para penyintas.
“Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh beberapa waktu lalu masih menyisakan duka dan keresahan bagi masyarakat hingga hari ini. Luka yang ditinggalkan bukan hanya pada rumah dan harta benda, tetapi juga pada kondisi psikologis para penyintas,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran bulan suci Ramadan di tengah situasi tersebut menjadi momentum penting untuk menghadirkan kembali suasana kebersamaan dan harapan bagi masyarakat yang sedang berupaya bangkit dari dampak bencana.
“Bagi masyarakat Aceh, Ramadan bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriah, melainkan tradisi yang disambut dengan suka cita, persiapan yang hangat, dan kebersamaan yang penuh makna. Namun, tahun ini terasa berbeda karena sebagian masyarakat menyambut Ramadan dengan perasaan yang belum sepenuhnya pulih,” kata Nurhidayah.
Program *Backpacker Ramadan Goes to Bireuen* dirancang sebagai ruang pemulihan mental dan emosional bagi para penyintas. Melalui berbagai kegiatan psikososial dan aktivitas keagamaan, penyelenggara berharap para peserta dapat kembali merasakan suasana yang hangat, aman, serta semangat kebersamaan setelah menghadapi masa sulit akibat banjir.
Selaku direktur program Nurhidayah juga menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian aksi kemanusiaan yang telah berlangsung sejak 10 Desember 2025. Hingga saat ini, program pendampingan psikososial tersebut telah menjangkau sekitar 1.200 anak di berbagai wilayah terdampak banjir di Aceh.
Sejumlah gampong yang telah menjadi lokasi kegiatan antara lain Gampong Pante Berne, Babah Krueng Ulee Glee, Gampong Berawang, Gampong Senong, Meunasah Tuha, dan Blang Cut di Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan juga dilaksanakan di Gampong Alue Kuta, Blang Cirih, serta Posko Dapur Umum Sabir di Kabupaten Bireuen; Gampong Idie Rayeuk di Aceh Timur; Gampong Tanah Temban, Banai, dan Gugus Sari di Aceh Tamiang; Gampong Langkahan di Aceh Utara; serta Gampong Pante Ceureumen di Meulaboh.
Dalam kegiatan Backpacker Ramadan Goes to Bireuen, peserta akan mengikuti berbagai sesi psikososial seperti storytelling, melukis ekspresif, dan permainan edukatif. Kegiatan tersebut dirancang untuk membantu anak-anak mengekspresikan emosi, membangun kembali rasa aman, serta menumbuhkan optimisme setelah mengalami bencana.
Selaku Leader Yayasan SalamAid Nusantara, Prita mengatakan bahwa kehadiran pendongeng dalam sesi psikososial memberikan dampak positif bagi anak-anak. “Suasana menjadi sangat hidup karena ada pendongeng dari SalamAid Nusantara. Anak-anak terlihat lebih ceria, lebih berani berekspresi, dan kembali tertawa bersama,” ujarnya.
Selain kegiatan psikososial, program ini juga dirangkai dengan berbagai aktivitas Ramadan, seperti buka puasa bersama, salat tarawih dan tahajud berjamaah, tadarus Al-Qur’an, kultum Ramadan, serta kegiatan tadabur alam yang menjadi bagian dari metode pembelajaran di Sekolah Alam Bireuen. Peserta juga akan mengikuti tur sekolah untuk mengenal lebih dekat konsep pendidikan berbasis alam yang diterapkan di lembaga tersebut.
Melalui kombinasi kegiatan pemulihan psikososial dan penguatan spiritual ini, program Backpacker Ramadan Goes to Bireuen diharapkan dapat menjadi momentum refleksi sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat yang sedang bangkit dari dampak bencana. Program ini juga terbuka bagi relawan dan masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan selama bulan Ramadan. (Difa)







