Oleh: HZ Putra
Sudah delapan puluh tahun Indonesia merdeka dan seharusnya patut kita syukuri, tetapi mengapa rasa merdeka sering kali terasa seperti ilusi? Jalan berlubang masih menganga, orang tua tidak mampu membayar biaya sekolah anak -anaknya, biaya kesehatan tinggi, korupsi tak kunjung mati, dan hukum tetap tumpul ke atas.
Data Transparency International menempatkan Indonesia pada skor Indeks Persepsi Korupsi 2024 sebesar 34 dari 100—jauh dari predikat bersih. Apa gunanya usia kemerdekaan bila nilai perjuangan hanya hidup di naskah pidato dan upacara bendera?
Inilah sebabnya sebagian generasi muda mencari simbol alternatif untuk menyuarakan keresahan. Jolly Roger dari One Piece—tengkorak dengan topi jerami khas Mugiwara—mendadak terasa lebih relevan daripada slogan resmi negara. Di dunia fiksi, ia adalah lambang kebebasan, solidaritas, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Di dunia nyata, ia menjadi sindiran bahwa kemerdekaan sejati belum tuntas kita raih.
Masalahnya bukan pada upacara atau tradisi peringatan kemerdekaan, tetapi pada kita yang terlalu nyaman menjadikannya ritual tahunan tanpa memastikan nilai-nilai di baliknya benar-benar hidup. Merah Putih seharusnya lebih dari sekadar kain yang berkibar; ia adalah janji bahwa setiap warga negara dilindungi, disejahterakan, dan diperlakukan setara di hadapan hukum. Janji ini hanya akan berarti jika kita berani bersuara, mengkritik, dan melawan arus ketika keadilan diinjak-injak.
Seperti kru Mugiwara yang berlayar menuju impian besar dan tidak pernah meninggalkan satu pun awaknya, bangsa ini pun harus memegang prinsip yang sama: tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang karam sendirian. Persatuan bukan slogan kosong, melainkan keberanian untuk berdiri bersama melawan ketidakadilan, bahkan ketika pelakunya berasal dari dalam negeri sendiri.
Di usia ke-80 Republik Indonesia, mari kita kibarkan Sang Saka Merah Putih sesuai cita-cita suci para pahlawan—bukan hanya di tiang upacara, tetapi di hati dan tindakan kita. Mari kita wujudkan “Jolly Roger versi bangsa sendiri”: bendera perjuangan yang melawan keserakahan, kemunafikan, dan apatisme. Karena musuh terbesar kemerdekaan hari ini bukanlah kapal asing di lautan, melainkan pengkhianatan terhadap nilai-nilai yang dahulu dibayar dengan darah dan nyawa.
Kemerdekaan adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Ia harus dipertahankan setiap hari, di setiap ruang, oleh setiap warga. Dan seperti pesan yang dipegang kru Mugiwara: “Selama kita bersama, kita tidak akan pernah kalah.”
Dirgahayu Republik Indonesia ke-80. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.







