Home / BERITA / SASTRA

Sabtu, 31 Mei 2025 - 12:00 WIB

Filosofi Secangkir Kopi dan Sepiring Gorengan

 

Oleh: Dr. Bukhari.M.H.CM [Penulis adalah konsultan hukum sekaligus akademisi UIN Sultanah Nahrasiyah]

MEDIALITERASI.ID | Pagi ini saya duduk di sudut sebuah warung kopi sederhana, ditemani segelas kopi hitam panas dan sepiring gorengan: donat gula, pastel, dan pisang goreng. Di balik kesederhanaan ini, saya menemukan filosofi kehidupan yang dalam.

Kopi hitam di depan saya tidak semanis kopi-kopi modern berlabel fancy. Ia pahit, pekat, dan apa adanya. Tapi justru dari kepahitannya kita belajar kejujuran. Hidup tidak selalu manis. Ada getir yang harus dinikmati agar kita tahu makna rasa syukur. Di setiap seruput kopi, ada jeda untuk berpikir, menenangkan hati, dan menyusun langkah.

Baca Juga  Kasus Kredit Bank Sumut: Nasabah, Prnsi dan PC Ditahan, Pejabat Utama Bank Belum Tersentuh

Sementara itu, gorengan di atas piring seakan mewakili sisi lain dari hidup: ringan, hangat, dan penuh kenangan. Siapa dari kita yang tidak pernah mencicipi gorengan di waktu istirahat sekolah, saat menunggu hujan reda, atau sekadar mengisi perut sebelum makan besar? Gorengan adalah simbol keakraban. Ia menyatukan obrolan, mencairkan suasana, bahkan menjadi jembatan silaturahmi antarbangsa—ya, karena di setiap pelosok negeri, gorengan selalu ada, meski dengan nama berbeda.

Baca Juga  Sekretaris Mahkamah Agung Lantik 40 Pejabat Struktural dan Fungsional

Warung kopi ini pun adalah panggung kecil bagi kehidupan sosial masyarakat. Di sana ada mahasiswa berdiskusi, pedagang melepas lelah, dan karyawan berbagi cerita. Semua duduk setara. Tak ada kasta, hanya cerita.

Pagi ini saya sadar, kadang kita terlalu sibuk mengejar yang besar, padahal kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana: secangkir kopi dan sepiring gorengan.

Share :

Baca Juga

BERANDA

Prediksi Maroko vs Haiti 24 Juni 2026: Atlas Lions Wajib Menang, Peluang Lolos 32 Besar Hampir Pasti

ACEH

Tegakkan Hukum, Kejari Aceh Tenggara Tahan 2 Tersangka Baru Kasus Korupsi Jembatan Rp9,9 Miliar

OPINI

Jejak Digital Tak Pernah Lupa: Mengapa Etika Bermedia Sosial Semakin Penting

BERANDA

Dorong Perang Total, Pernyataan Ben-Gvir Tuai Kritik: Israel Lebih Pilih Konflik Ketimbang Damai

BERANDA

Dua Dekade Setelah Tsunami, Solidaritas Pembaca Kompas Kembali Bangun Sekolah di Aceh Timur

ACEH

Bustami Nahkodai PGRI Aceh Timur 2024–2029, Komitmen Tingkatkan Profesionalisme Guru

ACEH

Perjuangan Pembaca Kompas Wujud: SDN Teumpeun Aceh Timur Dibangun Ulang Pasca Banjir 2025

ACEH

Kompas Bangun Kembali SDN Teumpeun, Bupati Al-Farlaky: Investasi Masa Depan Generasi