Home / BERITA

Senin, 5 Mei 2025 - 12:32 WIB

JASA Dukung Penuh Pernyataan Wali Nanggroe Menolak Pembangunan 4 Batalyon di Aceh

MEDIALITERASI.ID | BANDA ACEH – Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA), menyatakan dukungan penuh terhadap pernyataan Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Alhaytar, yang menolak rencana pembangunan empat Batalyon Teritorial Pembangunan (YTP) di wilayah Kodam Iskandar Muda, yaitu di Kabupaten Pidie, Nagan Raya, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil. Dalam keterangan resminya pada Minggu (4/5/2025).

Juru Bicara JASA, Datul Abrar menegaskan bahwa penambahan batalyon TNI di Aceh bertentangan dengan semangat perdamaian yang telah dibangun melalui Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki 2005 antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). “Kami mendukung penuh sikap Wali Nanggroe. Perdamaian Aceh yang telah berjalan hampir dua dekade adalah bukti komitmen bersama. Penambahan batalyon justru berpotensi mengganggu stabilitas.” ujar Abrar.

Baca Juga  Kepala Dishub Aceh Dan Pj Bupati Bener Meriah Bahas Pembangunan Jalan

Abrar menyoroti klausul 4.7 dan 4.11 dalam MoU yang membatasi jumlah personel TNI organik di Aceh sebanyak 14.700 orang dan menetapkan bahwa hanya tentara organik yang boleh berada di Aceh pada masa damai. “Penambahan batalyon baru jelas melanggar kesepakatan ini. Kami khawatir ini akan menciptakan ketidakpercayaan di kalangan masyarakat,” katanya.

Alasan penambahan Batalyon sebagai satgas swasembada pangan sangat tidak bisa di terima, karna setelah perdamaian terjadi, pendekatan secara militer dalam urusan sipil di Aceh sangat tidak di benarkan. Masyarakat Aceh masih cukup trauma terhadap militer Indonesia, dan negara tidak hadir untuk proses penyembuhan trauma tersebut. Jika pemerintah pusat ingin melibatkan militer dalam hal swasembada pangan, silahkan berlakukan di luar Aceh. Ujarnya

Baca Juga  Ketua DPRA Bersama Wali Nanggroe Serahkan Dokumen Pelanggaran HAM Aceh Ke Menko Polhukam

Wali Nanggroe Aceh, Tgk. Malik Mahmud Alhaytar, sebelumnya menyatakan bahwa rencana pembangunan batalyon oleh Kementerian Pertahanan RI tidak sejalan dengan kondisi geopolitik saat ini, di mana hubungan Indonesia dengan negara-negara tetangga seperti ASEAN, India, Sri Lanka, Bangladesh, dan Australia berjalan baik. Ia juga menekankan bahwa kepercayaan dan komitmen pada MoU Helsinki adalah fondasi utama untuk pembangunan Aceh yang berkelanjutan.

Datul Abrar juga meminta Pemerintah Pusat untuk mengadakan dialog terbuka dengan Wali Nanggroe Aceh, Pemerintah Aceh, DPR Aceh (DPRA), serta elemen masyarakat sipil sebelum mengambil keputusan terkait pembangunan batalyon. “Kami ingin perdamaian Aceh terus berlanjut. Untuk itu, setiap kebijakan harus melibatkan rakyat dan menghormati kesepakatan damai,” tutupnya [**]

Share :

Baca Juga

ACEH

Awal September Masih Kemarau, Aceh Masuk Zona Siaga Hujan Lebat dan Angin Kencang

BERITA

PSSI Aceh Cari Ketua Baru, Pendaftaran Bakal Calon Dibuka Hari Ini

BERITA

Tiga BBM Nonsubsidi Naik Mulai Hari Ini, Harga Pertalite dan Pertamax Tetap

ACEH

Potensi EBT Aceh Mulai Digarap, PLN Bangun 13 PLTS

ACEH

Abrasi Pantai Peukan Bada Buka Jejak Pemakaman Lama Pascatsunami, Tulang Belulang Muncul Saat Air Surut

BERITA

TNI Bantah Isu DOM Aceh, Nama Kompas.com Dicatut untuk Sebar Hoaks

BERITA

P2G Mendesak Pemerintah dan Panselnas Mengangkat Sekitar 200 Ribu Guru PPPK Paruh Waktu Menjadi PPPK Penuh

BERITA

Pendakian Ditutup di 9 Taman Nasional, Pemerintah Soroti Ancaman Karhutla