Oleh : Faridah
(Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor IPB University)
faridahdanielfaridah@apps.ipb.ac.id
Medialiterasi.id I OPINI – Berita panas di awal bulan oktober ini adalah masalah kenaikan harga beras. Dalam kurung waktu lima tahun terakhir harga beras terus meningkat. Hal ini disebabkan karena pengurangan pasokan beras akibat dari kemarau panjang dan penurunan produksi. Peningkatan harga beras tidak hanya di alami oleh Indonesia yang memiliki lahan pertanian yang cukup besar. Namun juga dialami negara tetangga sepeti Thailand, Vietnam, dan India. Selain faktor alam, kenaikan harga beras di duga sebagai dampak kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk pengadaan stok oleh Perum Bulog.
Kenaikan harga beras sangat berarti bagi rakyat Indonesia, karena beras merupakan makanan pokok bagi rakyat Indonesia. Apakah pemerintah sudah mencari solusi untuk mencegah terjadinya kenaikan harga beras untuk menjaga stabilitas ketahan pangan?. Solusi yang diberikan pemerintah untuk saat ini adalah pemberian bantuan beras 10 kg perbulan bagi 21,3 juta rakyat Indonesia yang memiliki keluarga penerima manfaat (KPM). Selain itu pemerintah juga melakukan impor berast seberat satu ton dari China untuk mengantisipasi kekeurangan produksi beras. Apakah solusi di atas dapat menanggulangi kekeurangan pasokan beras. Pemberian bantuan beras 10 kg perbulan berapa lama pemerintah bisa menanggungnya. Karena pemberian beras itu tergantung kepada APBN. Jika APBN tidak dapat memenuhi akan mengakibtan bantuan pemerintah akan terputus. Impor beras dari China juga ada batasnya. Sehingga ada muncul pernyataan rakyat Indonesia untuk mengkonsumsi singkong, sagu, jagung dan alternative lainnya sebagai penganti beras.
Solusi tersebut tidak salah jika ada sentuhan teknologi. Bahan tersebut bisa dijadikan beras analog, Beras penganti beras berbahan datri padi. Tanaman singkong, sagu, jagung dan sumber karbohidrate lainnya banyak ditemukan di Indonesia. Sumer daya alam tersebut memiliki potensi yang besar menjadi bahan beras analog penganti beras yang kandungan karbohidratnya mendekati karbohidrat dari padi sekitar 70%. Beras analog ini sangat dibutuhkan saat ini untuk mengatasi kenaikan harga beras.
Beras analog merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasinya berkuranganya produksi beras. Beras analog yang di produksi berasal dari campuran jagung, singong dan bahan pendukung lainnya. Jagung dan singkong sangat cocok digunakan sebagai bahan baku beras analog. Jangung yang mengandung 10% protein dan 70% karbohdrat sedangkan singkong sangat cocok sebagai sumber energy yang mengandung 82,5% (basis kering) karbohidrate. Dengan menggunakan teknologi a single screw extruder beras analog dapat di produksi. Sehingga ketahanan pangan dapat tercapai.
Beras analog merupakan salah satu alternatif pangan pengganti beras padi. Selain jagung dan singkong bahan baku beras analog dapat juga berasal dari bahan bahan seperti , sorgum, talas, dan porang. Bahan tersebut banyak ditemukan di daerah. Beras analog dapat diproduksikan berdasarkan bahan bahu yang banyak ditemukan di suatu wilayah di Indonesia. Sehingga kekurangan beras disuatu daerah dapat teratasi.
Beras analog yang diproduksikan dari sumber daya alam local memiliki keunggulan dalam kandungan nutria yang tinggi, seperti protein, serat, dan vitamin. Bahan baku beras analog dapat di tanam di lahan yang tidak subur. Dan yang paling penting adalah biaya produksi yang rendah. Dengan keunggulan produksi beras analog tersebut, pemerintah seharusnya ,elaksanakan program beras analog berbasis sumber daya lokal. Dengan mencanangkan beras analog yang ramah lingkungan untuk kebutuhan masyarakat local maupun nasional.
Pada tahun 2022, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian meluncurkan program “Beras Analog untuk Rakyat”. Program ini bertujuan untuk meningkatkan produksi dan konsumsi beras analog di Indonesia. Saat ini, terdapat berbagai jenis beras analog yang diproduksi di Indonesia, antara lain beras analog jagung, beras analog sorgum, beras analog singkong, beras analog talas, dan beras analog porang. Beras analog ini telah tersedia di pasar dengan harga yang bervariasi. Akan tetapi masyarakat masih kurang menerima beras analog sebagai bahan pokok penganti beras padi.
Akan tetapi beras analog yang dihasilkan masih memiliki beberapa tantangan dalam hal perbedaan rasa dan tekstur. Wlaupun karbohidrat yang dihasilkan hampir mirip atau mendekati beras dari padi, namun rasa rasa dan tekstur memeiliki rasa yang berbeda dengan beras padi. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat enggan mengonsumsi beras analog. Harga yang masih mahal. Disebabkan karena beras analog masih diproduksi secara terbatas, sehingga harganya masih lebih mahal daripada beras padi. Hal ini dapat menjadi faktor yang menghambat penetrasi beras analog ke pasar. Oleh sebab itu, pemerintah harun berperan dalam menurunkan harga beras analog dengan meningkatkan produksi beras analog. Di sisi lain penerimaan pasar yang masih rendah terhadap beras analog. Disebabkan masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengonsumsi beras padi sebagai makanan pokok. Oleh karena itu, perlu adanya sosialisasi dan edukasi yang intensif untuk meningkatkan penerimaan pasar terhadap beras analog Dengan mengatasi tantangan-tantangan tersebut, diharapkan beras analog dapat menjadi salah satu alternatif pangan yang dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia.
Untuk meningkatkan daya jual beras analog pemerintah harus berupaya untuk meningkatkan produksi dan konsumsi beras analog di Indonesia. Pemerintah harus menggeluarkan regulasi tentang beras analog. Regulasi tentang beras analog telah dikeluarkan yaitu Peraturan Menteri Pertanian Nomor 58 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Indonesia (SNI) Beras Analog dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 59 Tahun 2022 tentang Pedoman Teknis Produksi dan Pengolahan Beras Analog. Namun kenapa beras analog belum berkembang?. Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya promosi dan edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang beras analog. Hal ini dilakukan melalui berbagai media, seperti media sosial, televisi, dan radio. Dengan adanya promosi dan edukasi ke masyarakat dapat membuka wawasan tentang beras analog. Masyarakat menerima berasa analog sebagai beras penganti alaternatif dari beras padi. Dengan demikian peningkatan kapasitan beras analog semakin meningkat disebabkan permintaan pasar meningkat. Di dukung dengan teknologi yang memadai. Sehingga beras analog dengan memanfaatkan teknologi pangan dapat menajadi salah satu alternative beras padi dan meningkatkan ketahan pangan global.
Bandung, 9 Oktober 2023







